
Jingga heran melihat Fandi dan Riko berbisik menjauh dari ia dan teman-temannya.
‘Fandi dan Riko kenapa menjauh?’ Jingga bertanya-tanya dalam hatinya.
Tidak lama setelah itu, tiba-tiba Riko tertawa. Jingga tertegun mendengar suara tawa Riko kemudian Jingga menoleh ke arah Fandi dan Riko. Jingga lalu memutuskan untuk menghampiri Fandi dan Riko yang sedang asyik tertawa.
“Senang banget kelihatannya?” Tanya Jingga keheranan melihat raut wajah Fandi dan Riko yang masih tertawa.
“Jingga.” Fandi menarik Jingga mendekat. Ia tersenyum menatap paras gadisnya yang cantik.
“Ada apa?” Jingga membalas senyuman Fandi.
“Aku sudah tidak sabar.” Bisik Fandi di telinga Jingga. Jingga seketika menoleh dan mata mereka saling bertatapan.
“Tidak sabar apanya Fandi?” Tanya Jingga penasaran.
“Tidak sabar untuk menikahimu.” Jawab Fandi santai.
“Haahh?” Jingga tersipu malu. Rona wajahnya menjadi merah mendengar kata-kata Fandi. Jingga juga tidak menyangka sebentar lagi mereka akan sama-sama melepas masa lajangnya.
“Ehem.. ehem.. ehemm..” Riko berdehem memberi tahu keberadaannya yang masih ada di tengah-tengah Fandi dan Jingga.
__ADS_1
“Heheheeee...” Fandi dan Jingga kompak tertawa melihat Riko.
“Aduuhh.. Gue berasa jadi obat nyamuk. Ayang bebeb sini.” Celetuk Riko sembari memanggil Novi agar bergabung dengan mereka.
“Iya ayang bebeb.” Balas Novi menghampiri Riko.
“Okee.. Kalau begitu gue sama Jingga jalan dulu ya.“Seru Fandi melambaikan tangannya.
“Semua.. Kami pulang dulu ya?” Ujar Jingga ikut melambaikan tangannya kepada teman-teman mereka yang lain.
“Hati-hati bro, Jingga.” Balas Riko.
*****
Setelah keluar dari gerbang sekolah, Fandi melajukan motornya ke sebuah restoran yang terkenal dengan menu seafoodnya. Ia tahu jika Jingga suka sekali makan seafood.
“Fandi, kenapa kita kesini?” Tanya Jingga heran. Jingga tahu di restoran itu harga makanannya mahal-mahal, karena itu tempat favorit Jingga dan kedua orang tuanya makan dahulu.
“Ayoo masuk! Kita makan.” Ajak Fandi kemudian menarik tangan Jingga untuk masuk ke dalam restoran.
“Tidak usah Fandi. Kita makan di tempat biasa saja Disini mahal-mahal.” Bisik Jingga.
__ADS_1
“Tidak apa sayang. Kali ini saja. Berhubung ini hari kelulusan kita, jadi aku ingin mengajak kamu makan enak.” Ujar Fandi meyakinkan Jingga.
“Fandi ini namanya pemborosan. Mending uangnya kita pakai untuk kebutuhan lainnya nanti.” Balas Jingga mengernyitkan dahinya.
“Tenanglah. Hanya kali ini. Aku sudah jauh-jauh hari berniat ingin mengajak kamu makan disini. Lagian aku belum pernah mencoba makanan disini. Katanya seafood disini juara.” Balas Fandi antusias.
“Hhmmm.. Baiklah. Hanya kali ini saja.” Jingga akhirnya setuju dan membiarkan tangan Fandi menggandengnya memasuki restoran.
Setelah mereka duduk dan memesan makanan, Jingga termenung. Jingga teringat lagi masa-masa dimana dirinya dan kedua orang tuanya dulu sering makan di restoran itu.
“Kamu kenapa?” Tanya Fandi sembari menggenggam tangan Jingga.
“Aku teringat mama dan papaku Fandi. Dulu kami bertiga sering makan disini.” Ucap Jingga lirih. Suaranya seperti sedang menahan tangis.
“Aku sangat paham perasaan kamu. Karena aku pun mengalaminya. Mulai sekarang aku yang akan selalu menemani kamu makan disini dan dimana pun.” Balas Fandi menggenggam tangan Jingga lebih erat.
“Terima kasih sayang.” Ucap Jingga tersenyum menatap Fandi. Fandi membalas tersenyum pada Jingga.
Pesanan mereka pun akhirnya datang. Fandi kemudian menyuapi Jingga dan begitu pun sebaliknya. Semua pelanggan yang lain memperhatikan kemesraan mereka. Namun mereka tidak lagi peduli dengan lingkungan sekitar. Ibarat kata, dunia serasa milik berdua dan yang lain ngontrak!
*****
__ADS_1