Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 51


__ADS_3

Setelah Fandi pergi, Jingga menutup pintu kamarnya lalu menyusun pakaiannya ke dalam lemari yang telah di sediakan untuk penghuni kos. Jingga menata kamar itu senyaman mungkin. Jingga memajang foto kedua orang tuanya di dinding kamar.


Tok tok tok...


Jingga mendengar suara ketukan pintu. Jingga bergegas melihat lewat jendela siapa tamu yang mengetuk pintunya. Ternyata Fandi.. Padahal baru saja Fandi pergi, sekarang ia sudah datang lagi.


“Fandi, kamu? Katanya mau kerja?” Tanya Jingga bingung dengan kedatangan Fandi.


“Aku mengantarkan makan siang. Kamu langsung makan ya?” Ujar Fandi. Ia kemudian pergi lagi dan melajukan motornya.


“Ahh.. Fandi.” Ucap Jingga. Jingga tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya.


Jingga kemudian menutup dan mengunci pintunya lagi. Kemudian meletakkan makanan yang telah di bawakan Fandi ke atas meja.


Jingga membaringkan tubuhnya di ranjang. Jingga membuka ponselnya dan melihat galerinya yang masih ada foto mantan-mantan kekasihnya. Jingga kemudian menghapus semua foto laki-laki di ponselnya.


Tiba-tiba Jingga teringat Fandi, ingin sekali rasanya menelepon Fandi. Tapi Jingga sama sekali tidak tahu nomor ponsel Fandi.


“Aahh.. Aku gak sempat minta nomor ponselnya.” Celoteh Jingga menepuk jidatnya.


*****


Di tempat kerjanya Fandi sangat bersemangat. Ia bekerja lebih giat dari biasanya. Bu Romlah yang memperhatikan Fandi hanya tersenyum.

__ADS_1


“Fandi.” Sahut bu Romlah.


“Iya bu.” Fandi bergegas menghampiri bu Romlah.


“Kamu kenapa semangat sekali?” Tanya bu Romlah tersenyum.


“Tidak apa-apa bu. Hanya saja saya sudah tidak sabar ingin segera lulus SMA dan lanjut kuliah bu.” Jawab Fandi asal. Sebenarnya bukan itu penyebab ia bersemangat hari itu, melainkan karena ia sudah berhasil menjadi orang terdekat Jingga sang pujaan hatinya.


“Ya sudah lanjutkan pekerjaanmu. Ibu ada bonus untuk kamu.” Ujar bu Romlah memberi semangat.


“Terima kasih bu.” Fandi kembali melanjutkan pekerjaannya.


Di saat warung agak sepi, Fandi mengeluarkan ponselnya dan berniat untuk menghubungi Jingga. Namun ia baru ingat kalau mereka belum sempat bertukar nomor ponsel. Fandi tertawa kecil dan pegawai lain heran melihat tingkah Fandi.


*****


Bu Romlah mengintruksikan semua pegawainya agar tutup lebih awal, karena bu Romlah ada acara keluarga. Bu Romlah memberikan lauk dan nasi yang masih ada kepada pegawainya.


Fandi ikut mangambil nasi beserta lauk masing-masing dua porsi. Sebelum pergi bu Romlah memanggil Fandi untuk menghadapnya.


“Ibu manggil saya?” Tanya Fandi.


“Eehh.. Fandi, ayo sini!” Balas bu Romlah.

__ADS_1


“Ada apa bu? Apa ada pekerjaan saya yang salah?” Tanya Fandi lagi.


“Bukan. Pekerjaanmu tidak ada yang salah. Ini! Ibu mau memberi kamu bonus. Semoga bisa di gunakan untuk persiapan kamu kuliah nanti.” Bu Romlah mengeluarkan amplop cokelat berisi uang. Fandi terkejut menerimanya.


“Terima kasih banyak bu.” Fandi berkali-kali berterima kasih dan mencium punggung tangan bu Romlah. Setelah itu bu Romlah pergi dengan mobilnya.


*****


“Ooiii bro, lu kemana gak masuk hari ini?” Tanya Riko penasaran. Karena tak biasanya Fandi tidak masuk sekolah.


“Eehh.. Rik, gue tadi bantuin Jingga pindahan.” Jawab Fandi seadanya.


“Apa? Jingga?” Mata Riko terbelalak mendengar ucapan Fandi.


“Biasa aja kali. Lu gak usah lebay gitu ekspresinya.” Balas Fandi mendorong kepala Riko.


“Ciuss lu?” Tanya Riko lagi.


“Iya, sekarang Jingga kos di tempat mba Wati di ujung jalan sana.” Tunjuk Fandi menjelaskan kepada Riko.


“Gimana ceritanya? Kok bisa-bisanya gue ketinggalan cerita gini.” Ujar Riko kesal.


“Panjang ceritanya Rik. Pokoknya pasti gue ceritain. Sekarang gue mau ke tempat Jingga dulu mengantar makanan ini.” Fandi berlalu meninggalkan Riko yang masih melongo.

__ADS_1


*****


__ADS_2