Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 185


__ADS_3

Setelah hari itu, Laura tidak pernah lagi datang menemui mereka. Fandi dan Jingga lebih fokus dengan hari pernikahan mereka yang sudah semakin dekat. Meski tak lagi mendengar kabar Laura, Jingga masih terus saja memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi di hari bahagianya nanti.


“Kamu sedang memikirkan apa sayang?” Tanya Fandi mendekati Jingga yang sedang melamun di teras belakang rumahnya.


“Aku masih memikirkan Laura. Aku takut dia akan datang lagi di hari pernikahan kita. Aku takut dia mengacaukannya Fandi.” Jawab Jingga lesu tak bersemangat.


“Insya Allah semuanya akan berjalan dengan lancar. Kamu jangan lupa terus berdoa agar di lancarkan semuanya.” Ujar Fandi menatap Jingga dengan tersenyum.


“Iya Fandi. Aku selalu berdoa untuk kita.” Balas Jingga ikut tersenyum.


“Aku juga berharap Laura bisa menemukan kebahagiaannya. Karena aku juga pernah berada di posisi itu, melewatinya seorang diri.” Jingga menghembuskan nafasnya mengingat kembali masa lalunya.


“Iya sayang. Kita doakan yang terbaik untuk Laura. Dan setelah menikah aku janji akan menebus semua kepahitan yang pernah terjadi di masa lalu.” Fandi membelai lembut pipi Jingga, seketika Jingga merebahkan kepalanya ke pundak Fandi.


*****


Hari yang di nanti-nanti telah tiba. Jingga mengenakan kebaya pengantin berwarna putih. Jingga terlihat sangat anggun. Make up yang natural menambah kesan anggun di wajah Jingga. Fandi nampak gugup menghadapi ijab kabul yang sebentar lagi akan di laksanakan. Bibir Fandi seperti sedang melafalkan sesuatu.


“Bro.. Lu udah siap kan?” Tanya Riko berbisik.

__ADS_1


“Insya Allah Rik. Gue sedikit gugup. Gue takut salah saat ijab kabulnya.” Jawab Fandi tersenyum berat pada Riko.


“Wajar bro. Gue juga dulu seperti itu sampai keringatan atas bawah. Hehehee..” Imbuh Riko tertawa kecil.


“Mungkin karena gue akan menikah dengan wanita yang gue cintai Rik. Sebelumnya tidak pernah segugup ini, gue malah santai menghadapinya.” Lanjut Fandi masih tersenyum berat.


“Iya bro. Bismillah aja bro. Semoga lancar.” Balas Riko menyemangati Fandi.


Tidak berapa lama kemudian munculah Jingga yang di dampingi Novi. Semua mata yang hadir tertuju pada sosok wanita cantik yang mengenakan kebaya panjang berwarna putih itu. Jingga tampak sangat cantik dan anggun. Fandi terpana melihat kecantikan wanita yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya. Jingga tersenyum manis menatap Fandi seraya melangkahkan kakinya mendekat ke meja yang telah di sediakan untuk prosesi ijab kabul.


Disana sudah banyak tamu yang hadir. Para tamu berdecak kagum memperhatikan Jingga dan Fandi. Sebagian berbisik dan tersenyum ke arah mereka. Fandi tak hentinya menatap Jingga yang kini sudah berada di sampingnya. Matanya tak mau berkedip sedikit pun.


“Ehem.. ehemm.. Bro!” Riko berdehem tersenyum kecil melihat sahabatnya itu.


‘Kamu cantik sekali Jingga.’ Gumam Fandi dalam hatinya dengan pandangan yang masih tertuju pada Jingga.


Fandi benar-benar sudah terbius oleh kecantikan Jingga. Tidak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan betapa ia sangat mengagumi Jingga, sedari dulu hingga hari ini akhirnya bersanding dengan wanita pujaannya itu.


“Aku sangat mencintai kamu Jingga.” Bisik Fandi sebelum prosesi ijab kabul. Jingga tersenyum menatap Fandi dengan malu-malu.

__ADS_1


“Apa semua sudah siap? Kalau sudah kita mulai prosesinya.” Tiba-tiba suara penghulu terdengar. Mereka tersentak menyadari kalau sudah waktunya melakukan ijab kabul.


“Suu..sudah siap pak.” Jawab Fandi gelagapan.


Penghulu memulai bacaan ijabnya. Semua tamu hening menyaksikan dengan serius. Wajah Fandi dan Jingga tampak gugup. Fandi berusaha untuk tetap tenang, sedangkan Jingga menunduk sembari berdoa kecil dalam hatinya. Setelah penghulu mengucapkan ijab, Fandi segera menyambut dengan ucapan kabulnya.


“Saya terima menikahi Jingga Permata Handoko binti Feri Handoko yang di walikan kepada bapak dengan maharnya 50 gram emas dan seperangkat alat shalat tunai..” Ucapan kabul Fandi lancar tanpa tersendat tanpa ada kesalahan.


“Sah?” Tanya penghulu sekaligus wali hakim kepada para saksi.


“Sah..” Jawab para saksi serentak.


“Alhamdulillah..” Ucap Fandi merasa lega. Fandi kembali menatap Jingga yang kini sudah resmi menjadi istrinya. Jingga pun tersenyum lega sebelum akhirnya ia mengambil tangan Fandi dan menciumnya.


Fandi dan Jingga akhirnya telah resmi menjadi sepasang suami istri. Harapan mereka hanya ingin bahagia sepanjang sisa umurnya, membesarkan Dirga dan anak-anak mereka yang lainnya kelak.


Fandi berhasil membuktikan bahwa cinta cuma sekali hadir dalam hidupnya. Ia juga berhasil membawa cinta pertamanya menjadi cinta terakhir dalam hidupnya. Cinta Jingga yang selalu menjadi motivasinya, menjadi energi positif baginya menjalani kehidupan. Patah hati berkali-kali tak membuatnya patah semangat apalagi membuatnya hancur. Patah hati malah menjadi cambuk untuknya bangkit dari keterpurukan. Ia semakin bersemangat mengejar kesuksesan. Dan pada akhirnya ia berhasil menjadikan cinta pertamanya Jingga sebagai teman dalam mengarungi bahtera kehidupan.


Selamat Fandi! Tidak semua orang seberuntung kamu. Semoga Fandi dan Jingga selalu bahagia menjalani kehidupannya..

__ADS_1


Wassalam..


TAMAT


__ADS_2