
Keesokkan paginya Fandi bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah dengan perlengkapan yang telah ia buat kemarin bersama Riko.
Saat keluar dari warung ia melihat Riko sudah berdiri menunggunya. Riko menjemput Fandi. Riko memberikan helm kepada Fandi untuk di gunakan agar mereka tidak di tilang oleh polisi.
“Bro, nanti kita pakai perlengkapan ini di warung samping sekolah aja.” Riko menyarankan kepada Fandi, karena jujur Riko tidak bisa membayangkan betapa malunya mereka jika memakainya sekarang. Pasti akan menjadi bahan tertawaan orang sekitar.
“Siap!” Balas Fandi singkat.
“Rik, kemarin gue mimpiin Jingga.” Lanjut Fandi sambil tersenyum. Sebenarnya ia merasa malu untuk menceritakan kepada Riko. Tapi karena saat ini Riko adalah sahabatnya, Fandi merasa Riko adalah orang yang tepat untuk menjadi tempatnya berbagi.
“Mimpi ngapain lu bro?” Riko spontan bertanya. Pikirannya sudah kemana-kemana. Riko membayangkan sahabatnya Fandi mimpi yang aneh-aneh.
“Uuppss.. Tahan Rik! Gue gak mimpi yang aneh-aneh kayak yang ada di otak lu itu.” Timpal Fandi lagi-lagi menjitak kepala Riko.
“Kirain gue lu mimpi anuan sama dia bro!” Riko cengengesan. Riko mulai berpikiran ngeres.
“Dasar mesum!” Fandi membalas dengan cengengesan juga.
__ADS_1
“Ceritain bro. Lu mimpi apa? Penasaran gue!” Riko kembali bertanya dengan antusias. Sepertinya kali ini Riko serius ingin mendengarkan.
“Semalam Jingga hadir dalam mimpi gue. Dia tersenyum manja. Di dalam mimpi itu ia membalas tatapan gue Rik. Benar-benar seperti nyata.” Fandi menceritakan mimpinya kepada Riko. Sesekali ia memejamkan matanya, menghirup nafas dalam-dalam kemudian melepaskannya dengan lembut. Ia bercerita sekaligus membayangkan Jingga.
*****
Akhirnya mereka sampai di warung samping sekolah. Mereka kemudian bergegas memasang perlengkapan MOS sampai tidak ada yang terlewat satupun. Saat melangkah masuk ke dalam gerbang sekolah, ia melihat Jingga turun dari mobil. Fandi makin terkagum melihat Jingga pagi itu. Ia masih terlihat sangat cantik meskipun rambutnya di kucir 5.
Bel masuk kemudian berbunyi semua siswa bergegas menuju ke lapangan dan berbaris menurut gugus mereka. Kali ini Fatma memisah barisan siswa laki-laki dan perempuan. Selain Fatma, ada Fiki senior yang bertugas mendampingi siswa laki-laki.
“Untuk yang perempuan silahkan ikut saya.” Fatma melanjutkan seraya memberi isyarat agar mengikutinya.
Pagi itu mereka melakukan latihan fisik. Setelah berlari satu keliling lapangan. Mereka kemudian di suruh push up bagi laki dan squad jump bagi yang perempuan. Tidak lama setelah itu mereka di istirahatkan, karena memang bel istirahat sudah berbunyi.
Setelah selesai beristirahat, semua menuju kelas karena kegiatan selanjutnya adalah kegiatan unjuk bakat. Disini siswa siswi boleh unjuk kebolehannya masing-masing. Fandi yang memang jago main gitar dan menyanyi tentunya memilih untuk menunjukkan bakatnya itu. Sedangkan Riko memilih untuk berstand up comedy.
Oh Tuhan, Ku cinta dia..
__ADS_1
Ku sayang dia..
Rindu dia..
Inginkan Dia..
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku..
Hanya padanya..
Untuk dia..
Suara Fandi terdengar merdu dan petikan gitarnya pun nyaris sempurna. Jingga memberinya tepuk tangan dengan tersenyum. Sepertinya Jingga suka dengan penampilan Fandi. Fandi yang melihat ekspresi Jingga menjadi senang.
Selang beberapa waktu tibalah giliran Jingga. Jingga juga memilih untuk bernyanyi sambil bermain gitar. Semua siswa laki-laki bersorak girang melihat penampilan Jingga. Tentu saja membuat Fatma makin kesaing.
*****
__ADS_1