
Setelah selesai makan, Jingga membaringkan tubuhnya bersandar di sandaran tempat tidur. Fandi kemudian langsung berdiri hendak membuang bungkusan sisa makanan mereka ke dalam tong sampah.
Jingga kembali menangis dan Fandi paling tidak bisa melihat Jingga menangis. Ia segera menghampiri Jingga dan mencoba menenangkan Jingga.
“Kamu kenapa menangis lagi?” Tanya Fandi menunjuk air mata Jingga.
“Kamu kenapa berdiri? Duduk saja. Gak apa-apa kok.” Jingga tersenyum melihat Fandi yang perduli padanya. Fandi menuruti kata-kata Jingga. Ia kembali duduk di tepi ranjang di samping Jingga berbaring.
“Fandi.” Jingga kembali memeluk Fandi dan menangis di pelukannya lagi.
Fandi tidak tega melihat Jingga menangis, ia lalu membelai rambut Jingga beberapa kali. Kemudian Jingga menatap Fandi dan Fandi pun membalas tatapan mata Jingga.
“Kamu jangan menangis lagi.” Ucap Fandi begitu lembut.
Fandi terbawa suasana. Ia mulai membelai pipi Jingga. Lalu menyeka air mata yang jatuh di pipi Jingga. Jingga pun merasa terhanyut dengan sikap manis yang di tunjukkan Fandi. Jingga menatap dalam-dalam mata Fandi. Disana Jingga melihat cinta yang besar. Jingga semakin terhanyut dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Fandi.
__ADS_1
“Cup...” Jingga mencium bibir Fandi dengan lembut. Mata Fandi terbelalak dengan apa yang dilakukan Jingga.
“Maaf.” Ucap Jingga pelan. Matanya masih saja menatap Fandi.
“Cup..” Kali ini Fandi yang mulai mencium Jingga dengan penuh perasaan. Tangannya menyentuh kedua pipi Jingga.
Jingga merasa bergairah dengan ciuman Fandi. Jingga menarik tangan Fandi yang berada di pipinya kemudian meletakkannya di pinggangnya. Jingga makin menjadi-jadi dan mulai menikmati ciuman Fandi. Sebagai laki-laki normal Fandi pun mulai bernafsu. Tangannya menyentuh bagian pay*dara Jingga. Jingga membaringkan tubuhnya di ranjang seolah pasrah dengan apa yang akan dilakukan Fandi selanjutnya.
“Jingga.” Ucap Fandi dengan nafas terengah-engah.
“Kamu tahu? Sebenarnya aku sejak lama sudah jatuh cinta padamu.” Fandi kembali memegang pipi Jingga meyakinkan gadis itu bahwa ia mencintainya.
“Cup..” Jingga kembali mencium Fandi. Jingga seolah tak perduli dengan apa yang di ucapkan oleh Fandi. Jingga sudah sangat terbakar nafsu dan berpikir ucapan Fandi hanya karena terbawa oleh suasana.
“Aku serius Jingga. Aku jatuh cinta sejak kita satu gugus saat MOS.” Fandi kembali melepaskan ciuman Jingga dan melanjutkan ucapannya. Fandi berusaha meyakinkan gadis di depannya itu bahwa ia benar-benar mencintainya.
__ADS_1
“Lalu?” Tanya Jingga menatap tajam Fandi.
“Aku ingin kamu jadi pendamping hidupku.” Jawab Fandi tanpa ragu.
“Kamu melamar aku disini?” Tanya Jingga lagi.
Jingga lalu menarik Fandi. Saat ini posisi Fandi berada di atas Jingga. Jingga kemudian memejamkan matanya. Fandi tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Ia berpikir apa yang akan terjadi malam itu akan membuatnya bisa memiliki Jingga seutuhnya.
Fandi melepas kaosnya dan memberanikan diri menciumi leher Jingga. Jingga mendesah tak karuan. Jingga benar-benar mulai bernafsu dan Fandi tidak lagi bisa menahan dirinya.
Malam itu mereka melakukan hubungan yang seharusnya tidak mereka lakukan. Mereka bercinta untuk yang pertama kalinya. Fandi dan Jingga menikmati malam itu, tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi ke depannya.
“Jingga, aku sangat mencintaimu.” Fandi berkali-kali mengucapkan kalimat itu saat sedang mencapai klim*ksnya dengan Jingga malam itu.
‘Setelah malam ini aku tidak ingin lagi patah hati melihatmu bersama laki-laki lain. Sekarang kamu hanya milikku.’ Gumam Fandi dalam hatinya. Ia memperhatikan wajah Jingga yang tampak kelelahan bertempur dengannya.
__ADS_1
*****