
Jingga berjalan mendekati Laura. Ia mengajak Laura untuk duduk bersama di sofa. Laura hanya mengernyitkan dahinya menatap sinis Jingga.
“Laura, aku paham kondisi kamu. Sekarang ini tentu yang ada di fikiranmu hanyalah masa depan anakmu. Kamu tentunya tidak mau dia lahir tanpa mengenal ayahnya. Aku paham sekali ketakutan kamu. Tapi sebagai sesama wanita tentu kamu masih punya hati nurani. Aku yakin kamu tidak mungkin mau menghancurkan kebahagiaan wanita lain. Aku dan Fandi sudah lama terpisah. Kami sudah memiliki seorang anak yang juga sangat membutuhkan Fandi.” Jingga mencoba bicara pada Laura dari hati ke hati. Ia berharap Laura bisa memahami.
“Anak? Kalian sudah punya anak? Tapi kalian kan belum menikah?” Laura tampak bingung. Banyak pertanyaan yang ia lontarkan, namun Jingga menanggapinya dengan tersenyum.
“Iya Laura. Aku dan Jingga memang sudah memiliki anak. Sekarang usianya sudah 5 tahun.” Jawab Fandi mendekat pada Jingga sembari tersenyum melirik Jingga.
“Itu tidak mungkin. Kalian pasti berbohong. Kalian belum menikah.” Laura masih tak percaya dengan perkataan Fandi dan Jingga.
__ADS_1
“Itulah kenyataannya Laura. Aku dan Fandi saling mencintai sejak SMA. Kami berniat ingin menikah, tapi semuanya hancur hanya karena wanita seperti kamu. Kali ini aku tidak mau apa yang terjadi di masa lalu terulang lagi sekarang. Aku tidak akan membiarkan ada wanita lain lagi yang menghancurkan hubungan kami. Anakku sudah terpisah bertahun-tahun dari ayahnya Fandi. Aku tidak mau lagi dia kehilangan waktunya bersama Fandi.” Jingga kembali meyakinkan Laura kalau ia dan Fandi tidak berbohong.
“Fandi.. Setelah semua yang papaku berikan, kamu masih akan menolakku? Kamu harus tahu Fandi, wanita ini tidak benar-benar mencintaimu. Kenapa baru sekarang dia mau hidup bersamamu? Dulu kenapa tidak? Itu artinya dia hanya mencintai kamu yang sekarang, dia hanya mencintai uangmu Fandi.” Ujar Laura tak terima.
“Aku bukan wanita seperti itu Laura.” Suara Jingga sedikit meninggi.
“Aku mohon Laura kamu jangan memperkeruh suasana. Aku sangat menghargai almarhum pak Irwan. Tapi kalau sikapmu seperti ini maaf aku tidak segan-segan mengusirmu dari sini. Kamu tahu pak Irwan menikahkan kita agar kamu bisa berubah menjadi baik. Tapi kamu menyia-nyiakan kesempatan itu dan lebih memilih hidup bersenang-senang dengan kekasihmu.” Fandi kembali menatap sinis Laura. Laura tak bergeming, wajahnya tertunduk lesu.
“Jingga, aku mohon relakan Fandi untukku! Aku butuh pria seperti Fandi. Hanya Fandi yang bisa merubahku menjadi pribadi yang baik. Aku mohon..” Laura pun mendekati Jingga dan menggenggam tangan Jingga memohon padanya.
__ADS_1
“Laura..” Jingga tak bisa berkata-kata lagi. Ia melirik Fandi yang duduk di sebelahnya. Fandi menggelengkan kepalanya memberi isyarat pada Jingga.
“Laura, kamu jangan begini!” Balas Fandi menarik tangan Jingga dari genggaman tangan Laura.
“Jingga.. Aku tahu kamu wanita yang baik. Kamu pasti mengerti bagaimana sulitnya aku menjalani kehidupanku dengan kondisi seperti ini. Aku lebih membutuhkan Fandi daripada kamu. Tolong biarkan Fandi bersamaku!” Ujar Laura masih dengan nada memohon pada Jingga.
“Sayang, ayo aku antar pulang!” Fandi menarik tangan Jingga hendak mengajak Jingga keluar dari ruangan itu. Namun Jingga menepis tangan Fandi.
‘Jingga jangan lakukan itu!’ Gumam Fandi dalam hatinya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya memberi isyarat pada Jingga agar tak menyerah dengan bujukan Laura.
__ADS_1
*****