
Tok tok tok...
“Silahkan masuk!” Sahut pak Irwan dari dalam ruangannya.
“Permisi pak.” Ucap Fandi ramah.
“Silahkan duduk Fandi!” Ujar pak Irwan menunjuk sofa di sampingnya.
“Terima kasih pak.” Fandi kemudian duduk di sofa di samping pak Irwan duduk.
“Saya sudah banyak mendengar tentang kamu. Kalau saya tidak salah kamu juga mendapat beasiswa di Sidney Australia, lantas bagaimana dengan tawaran pekerjaan dari saya?” Tanya pak Irwan menatap serius pada Fandi.
“Sebenarnya saya sudah memikirkannya matang-matang pak. Dan saya sudah memutuskan untuk mengambil tawaran bapak untuk bekerja di perusahaan ini.” Jawab Fandi tanpa ragu-ragu.
“Oo.. begitu? Saya suka. Kamu punya prinsip dan bijak dalam mengambil keputusan.” Balas pak Irwan tersenyum pada Fandi.
__ADS_1
Fandi tersenyum lega mendengar ucapan pak Irwan.
“Begini Fandi. Saya punya tawaran yang lebih menarik lagi untuk kamu.” Ujar pak Irwan menatap serius.
“Apa itu pak?” Tanya Fandi.
“Tapi sebelum itu alangkah baiknya kamu minum kopi di cangkirmu dulu. Karena sedari tadi saya lihat kamu belum meminumnya. Santai saja Fandi! Kamu jangan sungkan.” Pak Irwan mencoba membuat Fandi santai mengikuti alur pembicaraannya.
Fandi tersenyum, di dalam hatinya ia sangat penasaran ingin segera mengetahui tawaran apa lagi yang akan di ajukan pak Irwan kepadanya.
“Begini Fandi. Saya mau kamu mengambil beasiswa itu dan tetap bergabung di perusahaan saya.” Ujar pak Irwan menggantung. Fandi masih bertanya-tanya dalam hatinya apa maksud dari ucapan pak Irwan.
“Okee. Saya langsung pada intinya saja. Saya memiliki seorang anak gadis yang tinggal di Sidney. Saya mau kamu menikahinya dan tinggal disana. Kamu masih bisa tetap kuliah dengan beasiswa yang kamu dapat dan juga bisa bekerja di perusahaan saya yang disana. Dengan kata lain saya akan mempercayakan perusahaan saya yang ada di Sidney untuk di kelola oleh kamu.” Pak Irwan menjelaskan arah pembicaraannya dengan tenang. Fandi masih bingung karena apa yang di tawarkan pak Irwan terdengar sangat janggal.
“Menikahi putri bapak?” Tanya Fandi masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
__ADS_1
“Iyaa Fandi. Tapi kamu tenang saja. Saya akan beri kamu saham di perusahaan itu setengahnya. Bagaimana? Apa kamu setuju dengan tawaran saya?” Tanya pak Irwan penasaran dengan jawaban Fandi.
“Saya belum bisa memutuskannya sekarang pak. Sepertinya saya harus memikirkannya dulu, karena pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral dan menentukan kehidupan saya kedepannya pak.” Jawab Fandi dengan bijak.
“Inilah yang saya suka dari kamu Fandi. Kamu sangat matang dalam berpikir. Saya rasa Laura akan bisa kamu kendalikan.” Balas pak Irwan tersenyum kecil.
“Terima kasih pak. Saya sangat menghargai tawaran bapak.” Imbuh Fandi merasa sungkan.
“Kamu silahkan pikirkan lagi Fandi. Menurut saya ini kesempatan yang bagus buat kamu. Kamu masih bisa menuntut ilmu, bekerja dan memiliki pendamping hidup.” Ujar pak Irwan lagi.
“Baik pak. Saya akan memberikan jawaban secepatnya pak.” Balas Fandi tersenyum tenang.
“Okee Fandi. Kamu silahkan pikirkan dulu. Besok saya tunggu jawaban kamu.” Pak Irwan lalu meninggalkan ruangannya, karena akan menghadiri acara penting di luar kantor.
Fandi masih terdiam dan terpaku. Ia merasa bingung dengan tawaran yang baru saja di ajukan oleh pak Irwan.
__ADS_1
‘Menikahi putrinya dan tinggal di luar negeri. Kalau aku menikahi gadis itu, bagaimana dengan Jingga?’ Batin Fandi.
*****