Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 137


__ADS_3

Fandi melirik jam tangannya ternyata sudah hampir sore. Fandi memutuskan untuk kembali ke kotanya sebelum hari mulai gelap. Setelah berpamitan dengan pak Heru dan rekannya yang lainnya, Fandi masuk ke mobil dan meninggalkan lokasi acara.


Fandi masih duduk di kursi depan tanpa peduli dengan pemikiran para rekan bisnisnya yang melihat kejadian itu.


“Ayo kita balik pak!” Fandi menatap jam di layar ponselnya.


“Baik pak Fandi.” Pak Rustam menghidupkan mesin mobil lalu menjalankan mobilnya meninggalkan lokasi acara yang masih terlihat ramai.


“Nanti kita mampir di rumah makan padang dulu pak. Saya sedang ingin makan nasi padang.” Ujar Fandi sembari merebahkan kursinya.


“Baik pak.” Pak Rustam sekilas melirik Fandi.


Fandi memejamkan matanya sebelum akhirnya benar-benar tertidur.


*****


Pak Rustam memberhentikan mobilnya saat sampai di rumah makan seperti pesan Fandi. Melihat Fandi yang tertidur pulas, pak Rustam ragu untuk membangunkannya.


‘Apa aku bangunkan pak Fandi?’ Gumam pak Rustam dalam hatinya.


“Kenapa berhenti pak?” Tiba-tiba Fandi bersuara dan membuka matanya.

__ADS_1


“Maaf pak Fandi. Kita sudah sampai di rumah makan padang.” Pak Rustam gelagapan terkejut tiba-tiba Fandi terbangun.


“Ooh.. Kita sudah sampai. Ayo pak kita makan dulu!” Ajak Fandi merapikan rambutnya.


“Saya tunggu di mobil saja pak Fandi.” Pak Rustam masih merasa sungkan mengiyakan ajakan Fandi.


“Tidak apa-apa pak. Saya tahu bapak juga belum makan. Ayo turun!” Ajak Fandi lagi. Kali ini Fandi sedikit memaksa.


“Baik pak. Terima kasih.” Pak Rustam kemudian turun dan mengikuti Fandi dari belakang.


“Ayo pak, duduk!” Fandi mempersilahkan pak Rustam duduk semeja dengannya. Pak Rustam masih sungkan untuk duduk semeja dengan bosnya itu.


“Tidak apa-apa pak. Ayo!” Lanjut Fandi. Pak Rustam akhirnya duduk meski ia masih merasa tidak enak.


“Ambil saja lauknya pak. Tidak perlu sungkan.” Fandi mempersilahkan pak Rustam untuk mengambil lauk yang beliau inginkan.


“Terima kasih pak Fandi.” Ucap pak Rustam sembari mengambil ayam gulai.


Mereka makan dengan lahapnya. Fandi begitu menikmati makannya itu, karena Fandi memang sangat menyukai masakan padang. Begitupun dengan pak Rustam tampak juga sangat menikmati.


“Sudah siap pak?” Tanya Fandi melirik jam tangannya.

__ADS_1


“Sudah pak Fandi.” Jawab pak Rustam tersenyum.


“Kalau begitu kita jalan lagi.” Ujar Fandi meninggalkan rumah makan tersebut setelah selesai membayar. Pak Rustam kembali mengikuti Fandi dari belakang.


*****


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Fandi membuka layar ponselnya, ada banyak chat yang masuk dan belum sempat ia buka. Fandi membuka chat dan membacanya satu-satu.


Di pinggiran kota, mereka mengalami kemacetan. Fandi melihat banyak orang berkerumun. Fandi merasa sangat penasaran.


“Macet karena apa pak?” Tanya Fandi pada pak Rustam.


“Sepertinya ada kecelakaan di depan pak Fandi.” Jawab pak Rustam mencoba memastikan penyebab kemacetan.


“Coba tanya pak sama orang-orang.” Fandi meminta pak Rustam untuk memastikan apa yang terjadi.


Setelah mendapat jawaban dari orang sekitar, pak Rustam pun menyampaikannya kepada Fandi.


“Ada wanita yang tidak sadarkan diri di emperan toko sana pak Fandi. Dia bawa anak kecil umur 5 tahunan.” Pak Rustam menjelaskan informasi yang beliau dapat dari sekitar.


Tiba-tiba jantung Fandi berdetak sangat kencang. Ia tidak tahu apa sebabnya. Fandi merasa sangat penasaran.

__ADS_1


“Pak, coba kita menepi dulu.” Perasaan Fandi tidak enak. Fandi merasa kasihan, apalagi setelah mendengar ada anak kecil.


*****


__ADS_2