Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 35


__ADS_3

Di kelasnya, teman-teman Jingga sedang membicarakan insiden yang terjadi antara Jingga dan Sonya. Kebetulan guru mereka berhalangan masuk, jadi mereka bisa berbicara sepuasnya tanpa perlu di tegur guru.


“OMG! Jingga berani juga melawan si nenek lampir Sonya. Hehehee..” Celetuk Novi yang kemudian membuat teman-temannya ikut tertawa.


“Aku salut sama Jingga. Berkali-kali di sindir-sindir Sonya selama ini, akhirnya dia melawan juga. Kalau aku yang jadi Jingga udah habis itu anak.” Balas Eka yang geram melihat tingkah Sonya selama ini. Eka mengepalkan tinjunya. Eka memang sedikit tomboy dan selalu bisa di andalkan oleh teman-temannya saat berkelahi.


“Sabar Ka. Ingat kalau satu kali lagi kamu berantem, kamu tamat dari sekolah ini.” Ujar Rani mengingatkan Eka.


“Yang bikin aku gigit jari itu saat lihat Fandi gendong Jingga. Padahal mereka gak berteman kan?” Tanya Rani memegangi dahinya seolah-olah sedang berpikir mencari tahu alasannya.


“Oohh iyaa.. So sweet banget! Yang tadi itu benar-benar waww.” Lanjut Novi memegangi kedua pipinya.


“Sadis! Jingga benar-benar menang dari Sonya. Hahahaa.. Padahal satu sekolahan tahu si Sonya tergila-gila sama Fandi, tapi Fandi malah menggendong Jingga di depan mata si Sonya. Hahahaa...” Eka tertawa terbahak-bahak. Mereka kembali mengingat tampang Sonya saat melihat Jingga di gendong oleh Fandi.


“Kocak yaa? Hahaahaha....” Rani ikut tertawa..


Mereka kompak tertawa ketika mengingat wajah Sonya yang tampak begitu kesal. Tidak beberapa lama Jingga masuk ke kelas dan bergabung dengan teman-temannya.


“Haii.” Sahut Jingga seraya mengambil posisi duduk di dekat teman-temannya.

__ADS_1


“Haii beb.” Balas Rani, Eka dan Novi serentak.


“Lagi ngomongin apaan? Seru sekali ketawanya?” Tanya Jingga dengan wajah penasaran.


“Lagi ngomongin kamu lah beb.” Jawab Novi dengan polosnya.


“Iihhh.. Bisa-bisanya kalian pada rumpiin aku ya?” Jingga memanyunkan bibirnya meminta penjelasan pada teman-temannya.


“Heheheheee... Kita lagi ngomongin pergulatan kamu sama si nenek lampir tadi beb..” Ujar Rani sambil merangkul pundak Jingga.


“Ooh.. yang itu?” Balas Jingga singkat.


“Andai saja tadi kamu kasih kode ke aku. Biar aku yang sikat si Sonya.” Timpal Eka dengan wajah geramnya.


“Habisnya aku kesal sama si Sonya. Sok kecantikan dan merasa paling populer di sekolah ini.. Busyet! Gak punya kaca apa dia?” Ujar Eka meluapkan kekesalannya.


“By the way, Bagaimana rasanya di gendong sama Fandi beb?” Tanya Novi tersenyum geli menatap Jingga.


“Iiihh.. Novi.. Kamu?” Balas Jingga dengan wajah mulai memerah. Jingga tampak merasa malu saat membahas soal Fandi yang menggendongnya tadi.

__ADS_1


“Iyaa beb, ceritain ke kita. Kok bisa?” Tanya Rani yang juga penasaran.


“Itu.. itu..” Jingga terbata-bata. Jingga bingung harus mengatakan apa.


“Adduuuh beb.. Jujur aja sama kita? Tadi kamu di bawa kemana sama Fandi.” Eka pun mulai menginterogasi Jingga.


“Okee.. Okee..” Balas Jingga.


“Tadi aku di bawa Fandi ke taman di samping. Disitu dia obatin luka aku. Sudah itu saja.” Jingga menjawab rasa penasaran teman-temannya dengan senyuman malu-malu.


“Kamu luka beb?” Tanya Eka spontan.


“Iya, ini di cakar Sonya.” Jawab Jingga seraya menunjukkan luka cakaran di lengannya.


“Benar-benar si Sonya. Gak bisa di biarin.” Lagi-lagi Eka kembali kesal.


“Udah Ka, aku gak apa-apa kok. Lagian cakaran di dia pasti lebih banyak. Hehehee..” Ujar Jingga menenangkan Eka sembari tertawa kecil.


“Terus Fandi bagaimana beb?” Tanya Novi kali ini.

__ADS_1


“Fandi? Dia orang yang baik.” Jingga menutup pembicaraan mereka dengan penuh senyuman misteri.


*****


__ADS_2