Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 37


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Jingga bergegas ke kamarnya dan mengganti pakaian. Jingga mengecek ponselnya, namun tidak ada satupun pesan maupun panggilan yang masuk. Seketika Jingga tertawa, ia baru ingat kalau sekarang statusnya sedang jomblo.


“Kamu kenapa mpus ketawa sendiri?” Tanya Windy tiba-tiba masuk ke kamar mengagetkan Jingga.


“Eeh, kamu cing. Kapan masuknya?” Balas Jingga terbata-bata.


“Makanya jangan asyik sendiri, ketawa-ketawa sendiri sampai gak sadar kalau aku udah di dalam.” Jawab Windy meledek Jingga.


“Iya cing. Dari tadi aku sibuk mengecek ponsel lihat pesan atau panggilan yang masuk. Mikir-mikir dan baru sadar ternyata aku sekarang lagi jomblo. Heheheee...” Ucap Jingga serius kemudian tertawa kecil.


“Hahahaaa... Kocak kamu mpus.” Windy yang mendengar ucapan Jingga seketika juga ikut tertawa.


“Hahahaaa...” Mereka kompak tertawa bersama.


*****


Tok tok tok...


“Neng, makan siang dulu neng. Udah mba siapin.” Ujar wanita setengah baya bernama mba Ratmi dari luar kamar Jingga.


“Iya mba, sebentar lagi kami keluar.” Sahut Windy dari dalam kamar.

__ADS_1


Kemudian Jingga dan Windy keluar dari kamar menuju ruang makan. Hanya mereka berdua yang duduk untuk makan siang waktu itu. Pak Niko biasanya makan siang di kantor, sedangkan bu Lisa masih berada di butiknya.


“Mama sama papa sudah jarang makan di rumah bareng kita ya mpus.” Keluh Windy. Karena beberapa bulan ini orang tuanya sangat sibuk.


“Iya cing. Aku minta maaf ya?” Ucap Jingga. Jingga merasa tidak enak dengan Windy. Karena sejak orang tuanya meninggal, mama dan papa Windy lah yang menanggung biaya hidup dan sekolah Jingga.


“Minta maaf kenapa mpus?” Tanya Windy heran.


“Mama dan papa kamu jadi terlalu sibuk, lembur setiap malam karena menanggung biaya hidup dan sekolahku juga.” Jawab Jingga dengan wajah menyesal.


“Huusss.. Kamu ini apa-apaan sih? Kita ini kan saudara mpus. Udah seharusnya mama dan papa aku kayak gitu. Kamu jangan merasa sungkan aah... Aku cuma berharap mama dan papa bisa makan bareng di rumah meskipun sibuk atau lembur, setidaknya sempati sebentar gitu.” Jelas Windy. Kali ini Windy yang merasa tidak enak kepada Jingga.


Jingga membalas dengan senyuman.


Setelah selesai makan mereka duduk di tepi kolam renang yang berada di halaman belakang rumah Windy. Mereka mencelupkan kaki mereka ke dalam kolam.


“Ngomong-ngomong kamu kok tumben sekarang lama jomblonya mpus?” Tanya Windy memulai pembicaraan.


“Sepertinya aku mulai gak laku deh cing.” Jingga cemberut memanyunkan bibirnya.


“Gila! Gak laku apaan? Sahabat aku secentrong ini. Huuu....” Ledek Windy sambil mencolek pinggang Jingga.

__ADS_1


“Emang di sekolah gak ada yang lagi dekat sama kamu?” Tanya Windy lagi.


“Gak ada.” Balas Jingga singkat.


“Tapi tadi ada cowok yang berani gendong aku.” Lanjut Jingga.


“What? Gendong?” Windy terkejut dan membelalakkan matanya.


“Iya cing, Fandi namanya. Cowok yang juga gendong aku saat pingsan dulu.” Jelas Jingga.


“Yang kataku manis itu ya? Bagaimana ceritanya?” Balas Windy penasaran.


“Tadi di sekolah kan aku berantem sama si Sonya. Main jambak-jambakan, cakar-cakaran, tahu-tahunya Fandi main gendong paksa aku cing.” Jelas Jingga dengan santainya.


“Terus?” Tanya Windy makin penasaran.


“Ya, aku marah-marah sama dia. Terus gak tahu kenapa tiba-tiba aku nangis di pelukan dia.” Jingga tersenyum.


“Itu artinya dia kasih kode ke kamu kalau dia menyukai kamu mpus?” Tanya Windy lagi penasaran.


“Sudahlah cing. Aku bukan tipe dia. Dan dia juga bukan tipe aku.” Jawab Jingga menyudahi pembicaraan mereka.

__ADS_1


“Aahh.. Gak seru.” Balas Windy cemberut.


*****


__ADS_2