Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 134


__ADS_3

Beberapa minggu setelah kematian pak Irwan, seorang pria paruh baya menelepon Fandi dan mengajaknya untuk bertemu. Pria itu mengaku sebagai pengacara dari almarhum pak Irwan. Fandi sempat berpikir kalau pria itu adalah suruhan Laura. Fandi pun menyetujui ajakan bapak itu untuk bertemu.


“Selamat siang pak Fandi. Saya Herman pengacara mendiang pak Irwan.” Seorang pria berumur sekitar 50an mendekati Fandi. Beliau memperkenalkan diri sambil tersenyum ramah pada Fandi.


“Selamat siang.” Fandi membalas dengan senyuman yang tak kalah ramah.


“Silahkan duduk.” Bapak itu mempersilahkan Fandi untuk duduk di meja yang telah ia pesan di restoran itu.


“Terima kasih pak.” Balas Fandi sembari duduk di kursi yang di isyaratkan oleh bapak tadi.


“Silahkan pesan makanan dan minuman dulu pak Fandi. Saya tadi sudah pesan duluan.” Ujar pak Herman menunjuk buku menu yang ada di atas meja.


“Baik. Terima kasih.” Balas Fandi lagi kemudian membuka buku menunya.


Setelah Fandi memesan makanan dan minuman untuk dirinya, pak Herman langsung mengutarakan maksud dan tujuannya mengajak Fandi untuk bertemu di restoran itu. Fandi begitu serius mendengarkan ucapan pak Herman.

__ADS_1


“Begini pak Fandi, maksud saya mengajak pak Fandi bertemu disini adalah untuk menyampaikan surat wasiat pak Irwan yang beliau tulis jauh-jauh hari sebelum ia meninggal.” Pak Herman mulai mengutarakan maksud dan tujuan bertemu dengan Fandi.


“Tapi kenapa membicarakannya pada saya pak? Bukankah ada Laura putri tunggal pak Irwan?” Tanya Fandi tampak bingung.


“Iya pak Fandi. Saya juga sudah menemui ibu Laura dan membicarakan hal yang sama. Sebagai pengacara almarhum pak Irwan, saya berkewajiban menyampaikan amanat terakhir dari beliau. Selain nama bu Laura, pak Irwan juga menuliskan nama pak Fandi di dalam surat wasiatnya.” Pak Herman menjelaskan lagi lebih rinci kepada Fandi. Fandi mecoba mencerna ucapan pak Herman.


‘Ternyata papa tetap mencantumkan namaku dalam daftar ahli warisnya?’ Fandi terdiam sejenak berpikir.


“Maksud bapak?” Tanya Fandi memastikan.


‘Ternyata papa serius. Dan beliau sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari.’ Gumam Fandi dalam hatinya.


“Saya sedang mempersiapkan semua surat-suratnya pak. Hari senin depan kita bisa langsung ke kantor notaris untuk balik nama.” Lanjut pak Herman.


“Iya pak. Apa Laura sudah tahu pak?” Tanya Fandi lagi.

__ADS_1


“Bu Laura sudah mengetahuinya. Justru ibu Laura yang menyarankan saya untuk langsung menemui pak Fandi.” Jawab pak Herman seadanya.


“Oo.. begitu. Baiklah pak. Saya mengerti.” Balas Fandi tersenyum.


Pesanan mereka telah datang. Pelayan pun menghidangkannya di meja. Pak Herman mempersilahkan Fandi untuk makan. Mereka menyantap makanan masing-masing. Setelah selesai menyantap makanan, Fandi dan pak Herman duduk sebentar untuk berbincang-bincang.


*****


“Pak Fandi, jangan lupa hari senin depan. Kita langsung bertemu di kantor notaris. Nanti saya sms alamatnya ke nomor pak Fandi.” Pak Herman mulai berdiri dari kursinya. Fandi pun ikut berdiri dari tempat ia duduk.


“Baik. Terima kasih atas waktunya pak Fandi. Saya mohon pamit.” Pak Herman mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan Fandi. Fandi pun dengan segera membalas uluran tangan pak Herman.


“Saya juga berterima kasih pak.” Balas Fandi masih tersenyum ramah pada pak Herman.


Setelah berpamitan, pak Herman keluar dari restoran. Fandi kembali duduk. Ia berpikir sejenak. Fandi tidak menyangka pak Irwan masih mencantumkan namanya di surat wasiat beliau, meskipun pak Irwan tahu Fandi dan putrinya Laura akan segera bercerai.

__ADS_1


*****


__ADS_2