
“Dirga..” Fandi mendekat pada Dirga. Ia memeluk anak kecil yang sedang berbaring di ranjang.
Dengan raut wajah yang bahagia, Fandi menarik Dirga ke dalam pelukannya. Dirga menatap heran pada Fandi. Berkali-kali Fandi menciumi kening dan pipi Dirga. Dirga membiarkan dirinya di cium oleh Fandi, karena memang Dirga senang ketika Fandi memperlakukannya seperti itu.
“Badan kamu semakin panas nak. Papa akan bawa kamu segera ke rumah sakit.” Fandi menggendong Dirga.
“Papa? Om Fandi kok papa sih?” Tanya Dirga semakin bingung.
“Karena Dirga adalah anak om Fandi. Mulai sekarang panggil om Fandi papa.” Karena terlalu senang Fandi langsung memberitahu Dirga. Dirga masih tampak bingung.
“Terima kasih sudah menganggap Dirga seperti anak om.” Ujar Dirga semakin lemah, karena panas tubuhnya makin tinggi.
Fandi kemudian membawa Dirga segera ke rumah sakit. Fandi mengencangkan safety belt pada Dirga dan mulai mengebut dengan mobilnya. Mobil Fandi melesat dengan kencang menyusuri jalanan. Yang ada di fikiran Fandi hanyalah secepatnya ingin sampai di rumah sakit.
*****
Fandi turun darri mobil dengan tergesa-gesa. Ia menggendong Dirga memasuki rumah sakit. Fandi benar-benar tampak panik.
“Suster tolong anak saya!” Fandi berteriak meminta tolong saat masuk ke lobby rumah sakit.
__ADS_1
Beberapa perawat segera mendekat dan membawa Dirga ke IGD. Fandi mengiringinya dari belakang.
Tidak beberapa lama tampak seorang dokter sedang memeriksa Dirga. Seorang perawat meminta Fandi untuk mengurus administrasi pasien. Fandi menuruti yang di katakan perawat. Ia segera mengurus administrasi rumah sakit.
Setelah mengurus semuanya, Fandi kembali ke IGD. Dirga masih di periksa oleh dokter. Kali ini dokter mendekati Fandi.
“Maaf pak, anak ini panasnya sangat tinggi. Kami akan mengambil sampel darahnya agar di cek untuk memastikan sakitnya.” Ujar dokter menjelaskan keadaan Dirga.
“Lakukan yang terbaik dokter.” Fandi menyerahkan semua kepada dokter demi kesembuhan anaknya.
Fandi teringat dengan kata-kata Dirga bahwa dirinya takut dengan jarum suntik. Fandi segera mendekat.
“Tenang Dirga. Tidak akan sakit. Ada papa disini.” Balas Fandi mendekap Dirga.
“Auuuwww...” Dirga meringis kesakitan sembari menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Fandi. Fandi membelai-belai kepala Dirga untuk menenangkannya.
“Sudah siap.” Fandi melepaskan dekapannya. Dirga tercengang, karena ia pikir akan terasa sangat sakit.
“Dirga kenapa?” Tanya Fandi heran melihat ekspresi Dirga yang tercengang melihat para perawat sudah selesai mengambil sampel darahnya.
__ADS_1
“Ternyata sakitnya sedikit om.” Jawab Dirga memperhatikan lengannya.
“Kan papa sudah bilang tidak akan sakit. Lagian Dirga kan anak laki-laki yang kuat?” Fandi menatap Dirga yang nyatanya adalah anak kandungnya dengan Jingga.
“Apa Dirga gak apa-apa panggil om Fandi papa?” Tanya Dirga ragu-ragu.
“Mulai sekarang Dirga panggil om Fandi dengan sebutan papa ya.” Balas Fandi mengangguk.
‘Karena om Fandi memang adalah papa Dirga.’ Batin Fandi terdiam sejenak.
“Papa..” Ucap Dirga dengan lembut. Fandi tertegun mendengar Dirga memanggilnya dengan sebutan papa.
“Iya sayang.” Fandi kembali membelai puncak kepala Dirga dengan penuh kasih sayang.
“Coba papa Dirga yang sebenarnya papa Fandi. Bukan daddy..” Dirga memanyunkan bibirnya seolah tidak senang memiliki ayah seperti Ferdinan.
‘Memang papa adalah papa Dirga. Bukan daddy.’ Gumam Fandi dalam hatinya. Ia ingin sekali menjelaskan kepada Dirga kalau ia memang adalah papa Dirga yang sebenarnya. Tapi anak sekecil Dirga akan sulit untuk memahaminya.
*****
__ADS_1