
Keesokkan paginya.
Fandi terbangun mendengar suara tangisan Jingga. Ia mengucek matanya dan mendapati Jingga sedang menangis di sampingnya. Jingga membalutkan selimut pada tubuhnya.
“Jingga.” Fandi terkejut dan segera duduk. Ia memegangi kepalanya mengingat apa yang terjadi semalam.
“Hiks hiks hiks..” Jingga terus saja menangis.
“Jingga, Jangan menangis!” Pinta Fandi. Fandi menyandarkan kepala Jingga di bahunya. Kali ini ia bersikap tenang dan tidak terlihat gugup.
“Fandi, apa yang sudah kita lakukan semalam?” Jingga tak percaya hal itu terjadi padanya dan Fandi.
“Auuwww..” Ucap Jingga lirih. Jingga ingin beranjak, tapi ia merasakan sakit di bagian pangkal pahanya. Jingga melihat ada bercak darah di seprei tempatnya duduk. Jingga baru sadar jika keperawanannya sudah di renggut oleh Fandi malam tadi.
“Jingga, maafkan aku? Kamu berdarah. Maafkan aku?” Ujar Fandi merasa sangat bersalah.
Jingga kembali menangis. Jingga tidak menyangka akan menyerahkan keperawanannya kepada Fandi, laki-laki yang sama sekali belum ia cintai saat itu.
“Fandi aku takut.” Ucap Jingga sambil menangis.
__ADS_1
“Tenang Jingga, aku disini.. Aku tidak akan meninggalkanmu.” Fandi berusaha menenangkan Jingga. Ia kembali memeluk Jingga dan menghapus air matanya.
“Bagaimana dengan masa depanku?” Tanya Jingga khawatir. Jingga takut tidak akan ada laki-laki yang mau lagi dengannya setelah tahu bahwa ia tidak gadis lagi.
“Aku akan bertanggung jawab.” Jawab Fandi tersenyum pada Jingga.
“Tapi kita sama-sama masih sekolah Fandi.” Rengek Jingga yang masih berada dalam pelukan Fandi.
“Sebentar lagi kita lulus. Aku akan kuliah sambil bekerja untuk membiayai kehidupan kita. Aku akan menikahi kamu.” Fandi meyakinkan Jingga. Ia menggenggam tangan Jingga dan mengecupnya. Jingga hanya mengangguk percaya pada ucapan Fandi.
Sama seperti remaja lainnya yang sedih dan takut jika melakukan kesalahan seperti mereka. Selain itu Fandi juga merasa sangat senang. Ia merasa jalannya sudah terbuka sangat lebar untuk memiliki Jingga. Ia semakin bersemangat. Ia ingin segera kuliah dan bekerja agar bisa menopang kehidupan gadis yang sebentar lagi akan ia jadikan istri.
“Kamu gak apa-apa? Apa kita perlu ke rumah sakit?” Tanya Fandi khawatir.
“Maafkan aku Jingga. Apa masih sakit?” Tanya Fandi lagi.
“Masih sakit sedikit.” Jawab Jingga.
“Aku mau mandi dulu Fandi.” Jingga kemudian berdiri. Fandi membantunya berjalan ke kamar mandi.
__ADS_1
*****
Fandi membereskan kamar yang berantakan. Merapikan ranjang dan memungut pakaian yang berserakkan di lantai.
Tidak lama kemudian Jingga keluar dari kamar mandi. Jingga mengambil pakaian dari dalam tasnya dan kembali ke kamar mandi untuk memakai baju.
“Fandi, kamu gak mandi?” Tanya Jingga.
“Iyaa.” Fandi mengambil handuk yang di sodorkan Jingga lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah beberapa lama kemudian Fandi keluar dari kamar mandi. Ia menghampiri Jingga yang duduk terdiam di atas kasur.
“Mata kamu sembab?” Tanya Fandi seraya membelai pipi jingga.
“Aku memang sering menangis sekarang semenjak orang tuaku meninggal.” Jawab Jingga lirih.
“Mulai hari ini kamu jangan menangis lagi. Kamu sudah tidak sendirian. Kamu bisa berbagi kesedihanmu denganku.” Jingga tertegun mendengar kata-kata Fandi. Baru kali ini ada laki-laki yang bicara seperti itu kepadanya. Jingga merasa nyaman dan menyandarkan kembali kepalanya di bahu Fandi.
“Ooh ya Fandi, kita sudah terlambat ke sekolah. Sekarang apa yang akan kita lakukan?” Tanya Jingga kepada Fandi.
__ADS_1
“Kita cari sarapan habis itu baru kita cari kos-kosan untuk kamu.” Jawab Fandi tersenyum. Jingga lalu membalas senyuman Fandi.
*****