
Di mall yang sama, Jingga dan kekasih barunya baru saja keluar dari sebuah butik. Jingga baru saja di belanjai oleh seorang laki-laki. Mereka naik ke lantai 4 untuk makan di cafe yang sama tempat Fandi dan Riko makan. Saat masuk dan mulai duduk. Jingga melihat Fandi dan Riko. Jingga terkejut dan merasa gelisah. Entah apa penyebab kegelisahannya.
“Bro, kita pulang yuk bro?” Ajak Riko. Riko menyadari kehadiran Jingga dan kekasihnya. Lalu sengaja mengajak Fandi pulang. Riko tidak mau sahabatnya itu patah hati lagi melihat Jingga dengan laki-laki lain.
“Okee Rik, gue ke toilet sebentar.” Jawab Fandi hendak berdiri.
“Gak usah bro. Di bawah aja nanti.” Larang Riko. Fandi merasa ada yang aneh dari sikap Riko, kemudian Fandi mencoba melihat di sekeliling mereka. Dan benar saja Fandi melihat Jingga tengah asyik bersama seorang lelaki.
“Ayo Rik! Kita pulang.” Kali ini Fandi yang mengajak Riko untuk segera pulang.
Fandi sangat kecewa dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia merasakan sesak di dadanya. Hatinya hancur untuk yang kesekian kalinya. Ia bergegas keluar dari cafe tanpa menoleh sedikit pun pada Jingga.
“Bro, sabar ya bro.” Ucap Riko seraya mengikuti Fandi yang sudah dulu jalan di depannya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Fandi hanya diam seribu bahasa. Ia tak berbicara satu patah kata pun. Yang ia ingin hanyalah segera sampai di rumah.
__ADS_1
“Bro, lu kok diam aja dari tadi?” Tanya Riko mencoba mengajak Fandi untuk berbicara.
“Iya Rik, Gue capek. Ingin cepat sampai di rumah dan istirahat.” Jawab Fandi berpura-pura tenang.
“Lu jangan bohong sama gue bro? Cerita aja bro. Gue kan sohib lu?” Bujuk Riko. Jujur Riko merasa kasihan dengan Fandi yang selalu saja kecewa dan patah hati oleh Jingga.
“Jujur gue sangat kecewa Rik. Gue sakit hati setiap kali melihat Jingga bersama laki-laki lain. Tapi gue bisa apa? Gue bukan siapa-siapanya Jingga? Gue gak berhak marah atau kecewa yang berlebihan.” Jelas Fandi. Ia mulai meluapkan penyebab rasa sesak di dadanya sedikit demi sedikit.
“Itulah kenapa gue selalu menyuruh lu untuk nembak dia bro. Setidaknya Jingga tahu perasaan lu dan mungkin akan mencoba membuka hatinya untuk lu.” Balas Riko menyemangati Fandi supaya jujur kepada Jingga.
“Ingat bro, gak ada yang mustahil bro?” Tegas Riko.
“Hhhmmm...” Fandi menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar.
“Gue selalu di pihak lu bro.” Balas Riko.
__ADS_1
“Lu memang sohib gue yang paling mengerti gue Rik.” Puji Fandi lagi.
“Saran gue lu pacaran aja dulu sama cewek lain. Biar gak terlalu merasa kecewa dan sakit hati setap kali melihat Jingga bersama pacarnya.” Usul Riko. Riko menatap serius berharap Fandi setuju dengan usulannya.
“Gue sangat menghargai saran lu Rik. Tapi gue lebih baik sendiri. Gue mau menata masa depan gue dulu. Membuat orang tua gue bangga disana, setelah itu gue baru akan memikirkan masalah pendamping hidup.” Ujar Fandi sangat dewasa.
“Mantap bro! Gue suka jalan pikiran lu.” Kali ini giliran Riko yang memuji sahabatnya Fandi.
“Heheheee.. Iya Rik.” Balas Fandi tertawa kecil, padahal hatinya masih pilu.
“Itu artinya perasaan lu sama Jingga sampai disini bro?” Tanya Riko kembali penasaran.
“Untuk perasaan gue ke Jingga, itu gak akan pernah ada kata berakhir Rik. Sekarang gue pasrahkan pada Allah. Kalau memang dia jodoh gue, pasti gue di persatukan sama Jingga dan gue berharap saat semua itu terjadi gue sudah sangat layak untuknya.” Ucap Fandi tenang.
*****
__ADS_1