Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 31


__ADS_3

Siang itu Jingga bersama teman-teman sekelasnya Rani, Eka dan Novi masuk ke kantin untuk makan. Mereka kompak memesan mie rebus dan es jeruk.


Di meja pojokkan Fandi dan Riko juga sedang duduk menyantap makanan. Rani seketika langsung tersenyum melihat Fandi dan mulai menepuk meja memberi isyarat kepada teman-temannya.


“Kamu kenapa Ran?” Tanya Novi yang heran tiba-tiba melihat Rani senyum-senyum sendiri dan menepuk meja.


“Malu tahu di lihatin orang nanti.” Timpal Eka seraya mencoba menghalau pandangan Rani.


“Rani.” Jingga ikut mencoba membuyarkan pandangan Rani yang terpaku pada satu arah.


“Hhhmmm.. Kalian!” Balas Rani memanyunkan bibirnya.


“Iya kamu kenapa? Kayak kesambet gitu.” Tanya Eka. Eka memang suka berbicara tanpa basa basi.


“Oohh itu.” Novi kemudian ikut senyum melihat ke arah pandangan Rani. Novi sepertinya paham apa yang membuat Rani bertingkah aneh seperti itu.


“Itu! Coba kalian lihat cowok di pojokkan.” Rani menunjuk dengan memonyongkan bibirnya sambil melirik memberi kode teman-temannya.


“Yang mana?” Tanya Eka mencoba melihat ke arah yang di tunjuk Rani.


“Yang berdua.” Sambung Novi menjelaskan dengan rinci.


“Ooohh.. Yang gendut apa yang satu lagi.” Tanya Eka lagi.

__ADS_1


“Iihh.. Kamu jangan sebut gendut. Chuby tau!” Novi tiba-tiba membela lelaki yang disebut gendut oleh Eka yang tak lain adalah Riko.


“Okee Okee..” Balas Eka.


“Yang ganteng itu, Fandi.” Rani mulai bicara. Sesekali Rani tersenyum melirik ke arah Fandi.


“Riko juga ganteng kok Ran.” Sahut Novi tak mau kalah.


“Iya iyaa, dua-duanya ganteng. Yang satu tipenya Novi dan yang satunya lagi tipe semua cewek.” Ujar Rani.


Rani tak henti memuji Fandi, karena Fandi memang terlihat tampan dan menawan. Jingga yang sedang minum jadi tersedak mendengar Rani menyebut nama Fandi.


“Huukk hukkk...” Suara Jingga tersedak.


“Aku gak apa-apa Ran.” Jawab Jingga.


“Fandi yang mana maksud kamu?” Tanya Jingga ikut penasaran dengan ucapan Rani tadi.


“Fandi yang sering menang olimpiade mewakili sekolah kita.” Rani menjawab dengan cepat. Rani menjadi bersemangat kalau soal menceritakan Fandi.


“Itu, coba kamu lihat deh.” Novi lalu mengarahkan pandangan Jingga ke arah Fandi. Dan benar saja secara kebetulan saat Jingga mulai melihat, Fandi tiba-tiba juga melihat ke arah Jingga. Mata mereka saling bertemu.


‘Bukankah itu Fandi gebetan Sonya dulu?’ Gumam Jingga dalam hati.

__ADS_1


“Eeiitss.. Jangan lama-lama. Nanti kamu naksir loh.” Sahut Rani senyum melihat Jingga yang terlalu lama memandang Fandi.


“Gak lah Ran. Tapi aku tahu Fandi. Dia gebetan Sonya teman sekelasku dulu.” Jingga menjelaskan awal ia mengenal Fandi.


“Itu aku sudah tahu beb. Sonya sudah dari dulu mengejar Fandi, sejak kelas 10. Tapi kabarnya Fandi menolaknya mentah-mentah. Heheheeee...” Ujar Eka menjelaskan apa yang ia ketahui.


“Ooh gitu?” Respon Novi.


“Jingga, sekarang kamu kan jomblo. Gak ada salahnya juga kali.” Timpal Eka lagi-lagi tanpa basa basi.


“Aahh.. Kamu ada-ada aja Ka. Gak mungkinlah. Sekarang kan gebetan Rani. Hahahaaa..” Balas Jingga sambil tertawa kecil.


“Aduuh Jingga. Aku cuma sekedar kagum sama dia kok. Kamu lupa kalau aku udah punya tunangan? Hehehee..” Ujar Rani pada Jingga.


“Kalian ini.” Jingga merasa malu dengan yang di katakan teman-temannya.


“Kamu cocok kok beb. Hehehehee..” Balas Rani, Eka dan Novi kompak menyetujui bila Jingga dengan Fandi.


“Gak mungkin. Dia pintar, juara terus di kelas dan juara olimpiade lagi. Aku siapa? Gak mungkin dia suka sama aku kan? Tipe dia juga gak mungkin seperti aku? Hehehee..” Ucap Jingga merendah. Kali ini Jingga yang merasa tak layak dengan Fandi.


“Hahahahaa... Gak ada yang gak mungkin beb.” Balas Novi mengedipkan matanya.


‘Fandi.’ Batin Jingga tersenyum sambil mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


*****


__ADS_2