Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 38


__ADS_3

Sabtu itu, Riko datang ke warung makan tempat Fandi bekerja. Riko meminta izin kepada bu Romlah untuk mengajak Fandi keluar dengan alasan ke toko buku. Dengan senang hati bu Romlah memberi izin, karena Fandi memang anak emas bosnya.


“Terimakasih ya bu. Kami pamit. Assalammualaikum..” Ucap Riko dan Fandi serentak.


“Iya, kalian hati-hati. Jangan terlalu malam pulangnya.” Pesan bu Romlah. Setelah berpamitan dan mencium punggung tangan bu Romlah, mereka lalu pergi menaiki mobil Riko.


Riko merasa senang, karena akhirnya bisa mengajak sahabatnya untuk keluar di malam minggu. Hampir 3 tahun bersekolah di kota, Fandi belum pernah satu kali pun keluar malam. Alasannya karena ia tidak sebebas pemuda seumurannya. Ia punya kewajiban untuk bekerja, beda dengan teman-temannya yang lain.


“Bagaimana bro? Seru kan melihat jalanan di malam hari? Jalanan terang, banyak lampu dimana-mana.” Ujar Riko sambil fokus menyetir.


“Iya Rik, biasanya gue cuma lihat di TV dan FB saja jalanan ini. Gak nyangka akhirnya gue bisa juga lewat sini di malam hari. Heheheee..” Balas Fandi cengengesan. Ia merasa konyol. Bertahun-tahun tinggal di kota, tapi baru kali ini melihat kota di malam hari.


“Okee.. Habis ini kita langsung ke XXI nonton film Fast Furious kesukaan gue bro. Gue yang traktir pokoknya. Hehehee..” Riko sudah jauh-jauh hari punya rencana mengajak Fandi untuk nonton film favoritnya itu.

__ADS_1


“Thanks Rik, lu memang sohib terbaik gue. Selalu baik sama gue.” Fandi kembali memuji Riko.


“Udah bro. Gue mohon lu jangan memuji gue lagii. Nanti gue bisa naksir sama lu.” Balas Riko sambil memonyongkan bibirnya seolah memberikan ciuman kepada Fandi.


“Iihh.. Najis gue melihat lu seperti itu Rik Amit-amit, jangan sampai sohib gue beneran seperti itu.” Fandi benar-benar geli melihat tingkah konyol Riko. Berkali-kali ia menepuk jidatnya.


“Hahahaaa... Makanya lu jangan puji gue lagi bro. Pokoknya kata-kata terima kasih, maaf, tolong gak boleh ada dalam kamus persahabatan kita. Oke bro?” Jelas Riko mengingatkan Fandi kalau mereka berdua bersahabat.


“Hahahaaa.. Oke.. Oke.. Gue paham. Sorry?” Balas Fandi.


“Gue kebablasan. Heheheee...” Balas Fandi lagi.


Sesampainya di Mall, mereka memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam Mall. Fandi dan Riko langsung naik menuju lantai 4 dimana bioskop XXI berada. Setelah membeli tiket dan beberapa cemilan, mereka masuk dan mengambil posisi duduk di depan. Riko ingin lebih fokus menonton film kesukaannya itu, makanya memilih kursi paling depan.

__ADS_1


Selama film berlangsung, Riko tak banyak bicara. Fandi heran, Riko yang biasanya pencicilan bisa diam juga ternyata.


Akhirnya film selesai juga. Mereka keluar dari studio dan masuk ke cafe tempat mereka biasa ngopi. Riiko yang merasa lapar langsung memanggil pelayan dan memesan makanan.


Saat menyantap makanan, Riko tak henti-hentinya bercerita tentang film yang baru saja mereka tonton. Padahal Fandi juga ikut menonton, tapi tetap saja Riko mengotot ingin menjelaskan kembali alur ceritanya.


“Mantap banget bro. Gue selalu suka film ini. Apalagi Vin Diesel aksinya ajib banget. Mantap!” Riko bersemangat. Berkali-kali memuji film dan aktor dalam film itu.


“Vin Diesel yang botak itu ya bro?” Tanya Fandi. Karena Fandi memang belum pernah nonton film tersebut dari sekuel yang pertama.


“Iya bro. Botak, ganteng, berotot, pokoknya sebelas dua belas lah sama gue.” Ucap Riko dengan pedenya.


“Wkwkwkwwkk... Iya bro. Lu botak, ganteng dan berotot banget malahan. Hehehee...” Balas Fandi cekikikan mendengar ucapan Riko.

__ADS_1


“Hahahaaa..” Riko pun ikut tertawa.


*****


__ADS_2