Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 33


__ADS_3

Jingga dan teman-temannya kembali ke kelas. Dalam perjalanan, seorang perempuan menyindir Jingga. Perempuan itu merasa kurang senang dengan Jingga. Jingga langsung menghampiri si perempuan.


“Sonya, maksud kamu apa?” Tanya Jingga kesal.


“Kenapa? Memang kenyataannya kan? Hahahaaa..” Sonya membalas dengan ketus sembari tertawa.


“Apa sih salah aku? Kalau karena aku putus sama kakak kamu, ya sudahlah! Sudah lewat, sudah lama juga kan?” Ujar Jingga. Jujur Jingga sudah capek dengan sikap Sonya yang sampai hari itu masih saja menyindirnya tanpa sebab.


“Memangnya aku pikirin. Intinya aku gak suka kamu, jelas?” Balas Sonya makin menyolot dan melototkan matanya pada Jingga.


“Tapi kenapa? Dulu kan kita pernah berteman?” Suara Jingga melirih. Jingga tidak menyangka Sonya akan membencinya seperti itu, karena peristiwa beberapa tahun yang lalu.


“Cuuiihh.. Aku gak sudi punya teman kayak kamu. Sorry ya! Kita gak pernah berteman, dulu maupun sekarang.” Jawab Sonya lantang sedikit berteriak.

__ADS_1


“Okee.. Aku gak masalah kalau kamu gak pernah menganggap aku teman. Tapi please, jangan ganggu aku lagi.” Ucap Jingga sedikit memohon lalu meninggalkan Sonya yang masih belum puas menyindir Jingga.


“Dasar ular!” Balas Sonya. Jingga terkejut mendengar ucapan Sonya. Selama ini Jingga merasa tidak pernah menjahati Sonya.


“Maksud kamu apa? Ular apa?” Jingga berbalik arah tampak mulai kesal tersulut emosi mendengar ucapan Sonya.


“Iya, kamu ular kepala dua. Pura-pura baik, tapi hatinya busuk.” Sonya menunjuk-nunjuk wajah Jingga.


“Aku gak pernah seperti itu.” Balas Jingga sedikit berteriak.


“Kamu memang seperti itu. Sudah di tinggal mati sama orang tua, tapi gak juga sadar. Malah tambah parah. Sekarang jadi perempuan murahan. Cuiihh.. Jijik!” Sonya berkali-kali mengucapkan kata-kata itu dan sesekali meludah menunjukkan ekspresi betapa jijiknya ia kepada Jingga.


“Plakkk..” Jingga menampar Sonya dengan sangat keras. Air matanya menetes. Jingga tidak menyangka akan di hina dan di permalukan lagi seperti ini di depan umum. Dulu Fiki, sekarang Sonya adiknya Fiki.

__ADS_1


“Beraninya kamu?” Sonya tidak terima di tampar oleh Jingga. Sonya berusaha membalas, namun Jingga berhasil menangkisnya. Sonya kemudian berhasil menjambak rambut Jingga.


Pertengkaran pun tidak bisa lagi di hindari. Jingga dan Sonya bergulat. Mereka saling menjambak rambut mereka masing-masing. Semua siswa bersorak memberi semangat.


Teman-teman Jingga tidak bisa berbuat apa-apa. Eka berusaha ingin ikut menolong Jingga, namun Rani mengingatkan bahwa Eka sudah mendapat surat peringatan dari kepala sekolah agar tidak terlibat perkelahian manapun lagi.


Fandi yang melihat kejadian itu tidak tinggal diam. Ia mencoba melerai, namun Jingga dan Sonya tak mengindahkan perkataannya. Akhirnya Fandi menggendong paksa Jingga dan membawanya pergi sebelum para guru mengetahui keributan yang terjadi saat itu.


“Fandi.” Sonya terkejut melihat apa yang dilakukan Fandi. Sonya menangis, hatinya sakit mengetahui kalau Fandi memang benar menyukai Jingga.


Fandi menggendong Jingga menuju taman di samping gedung sekolah. Berkali-kali Jingga bersikeras untuk turun. Namun Fandi tak menghiraukan permintaannya. Hingga mereka sampai di taman sekolah.


“Turunin aku!” Teriak Jingga. Fandi lalu menurunkan Jingga dengan hati-hati.

__ADS_1


“Kamu siapa? Berani-beraninya menggendong aku dengan paksa. Lepasin aku! Biarin aku sobek-sobek mulut si Sonya. Enak saja menghina aku seperti itu. Dia benar-benar sudah keterlaluan, dari dulu aku selalu diam. Tapi sekarang gak lagi, aku harus beri dia pelajaran.” Jingga berceloteh kesal. Sesekali ia berusaha untuk kembali menghampiri Sonya, namun Fandi berhasil menahannya. Semakin ia bersikeras, semakin kuat Fandi menahannya. Tanpa terasa Jingga menangis. Dadanya terasa sangat sesak. Sejak orang tuanya meninggal, semua orang begitu mudah menghina dirinya.


*****


__ADS_2