Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 177


__ADS_3

”Selamat Fandi.. Akhirnya kamu bisa bersatu juga dengan Jingga wanita yang kamu cintai.” Ujar wanita itu menyalami Fandi. Jingga hanya tersenyum memperhatikannya.


“Terima kasih Lona.” Balas Fandi sembari tersenyum pada Lona.


Sesaat kemudian Lona meninggalkan Fandi setelah menyalami Jingga juga. Dalam hatinya Jingga bertanya-tanya tentang siapa Lona sebenarnya.


‘Wanita itu siapanya Fandi? Kenapa tatapannya seperti itu pada Fandi?’ Pikir Jingga dalam hatinya.


“Dia Lona. Hanya teman satu kampus.” Tiba-tiba ucapan Fandi membuyarkan lamunan Jingga.


Fandi seolah tahu apa yang sedang di pikirkan Jingga dalam hatinya.


“Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku sedang mempertanyakan siapa wanita itu?” Tanya Jingga masih heran.


“Kamu lupa kalau aku bisa dengar suara hati kamu? Heheheee...” Celetuk Fandi sembari mencubit hidung Jingga.


“Iih.. Fandi.” Balas Jingga mengusap hidungnya yang memerah.


“Benaran hanya teman kampus? Tapi aku mencium ada bau-bau cinta antara kamu dan dia.” Jingga memanyunkan bibirnya tak percaya.


“Hahahaaa.. Kamu bisa saja.” Fandi tertawa kecil menanggapi perkataan Jingga.


“Jujur saja..” Jingga seakan menyelidik ingin tahu.


*****


Fandi menarik tangan Jingga mengajaknya meninggalkan lokasi pesta. Fandi membawa Jingga ke balkon. Dengan raut wajah yang penasaran, Jingga menatap tajam ke arah Fandi.

__ADS_1


“Kenapa masih manyun saja?” Tanya Fandi menggoda Jingga.


“Kamu belum jawab pertanyaan aku. Apa antara kamu dan wanita tadi pernah ada hubungan spesial?” Jingga semakin penasaran ingin tahu.


“Hhhmmm...” Fandi menghela nafasnya perlahan sembari senyum-senyum memperhatikan wajah Jingga.


“Fandi?” Jingga tampak tak sabar menunggu jawaban dari Fandi.


“Okee.. Sebenarnya Lona memang sempat mendekati aku. Tapi aku hanya menganggapnya teman.” Ujar Fandi meyakinkan Jingga.


“Sungguh?” Tanya Jingga mengangkat alisnya.


“Percayalah Jingga. Aku sama sekali tidak punya perasaan apa-apa sama Lona. Aku selalu berusaha untuk menjaga hatiku untuk kamu.” Jawab Fandi mencoba kembali meyakinkan Jingga.


“Aku percaya Fandi. Lagian kalau kamu punya hubungan spesial dengan wanita lain pun saat itu tidak masalah. Kamu berhak untuk itu, toh saat itu aku juga sudah menjadi istri orang lain kan?” Jingga tersenyum berat.


“Aku tahu.. Tapi aku memutuskan untuk menjaga perasaanku agar tidak berpaling pada yang lain. Meskipun pada akhirnya aku memilih untuk menikahi wanita lain.” Balas Fandi menggenggam tangan Jingga.


Fandi mendekat ke wajah Jingga sembari menatap mata kekasihnya itu. Jingga mengernyitkan dahinya memberi isyarat agar Fandi segera menjawab pertanyaan dari Jingga. Fandi menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar. Fandi tampak kurang bersemangat membahas mantan istrinya Laura.


“Kenapa kita perlu membahasnya? Sebenarnya aku sangat malas membahas itu. Jingga sayang, mari kita bahas soal pernikahan kita saja!” Bujuk Fandi mencoba menghindar.


“Fandi.. Please! Aku ingin tahu.” Pinta Jingga dengan wajah memohon.


Fandi lagi-lagi menghembuskan nafasnya dengan kasar. Jingga tampak tidak sabar.


“Namanya Laura. Dia anak pak Irwan bos aku dulu. Kami menikah karena permintaan pak Irwan.” Jawab Fandi dengan wajahnya yang datar.

__ADS_1


“Lalu?” Tanya Jingga lagi.


“Lalu apa?” Fandi mengernyitkan dahinya pada Jingga.


“Lalu bagaimana kamu menjalani pernikahan dengan Laura?” Tanya Jingga mulai ragu-ragu.


“Kami menikah selama 2 tahun. Dan akhirnya bercerai.” Jawab Fandi merangkul Jingga.


“Sudahlah.. Jangan bahas itu lagi!” Fandi membelai puncak kepala Jingga dengan lembut.


“Fandi.. Aku boleh tanya lagi? Kali ini sesuatu yang sifatnya pribadi.” Jingga menatap Fandi. Dari matanya Jingga menyimpan rasa penasaran yang besar.


“Apa itu? Aku akan berusaha untuk menjawabnya.” Bisik Fandi di telinga Jingga.


“Fandi, apa kamu dan Laura tidur bersama?” Tanya Jingga ragu-ragu. Seketika Fandi terdiam menatap wajah Jingga yang tampak gugup.


“Sayang.. Selama 2 tahun menikah, aku dan Laura tidur terpisah. Kami tidak saling mencintai. Bagaimana mungkin bisa tidur bersama? Seperti halnya kamu dan Ferdinan.” Jawab Fandi mantap.


“Benarkah?” Tanya Jingga memastikan.


“Aku serius. Aku sangat mencintai kamu Jingga. Tidak mungkin bisa memikirkan wanita lain. Apalagi berhubungan dengan wanita lain.” Jawab Fandi lagi.


“Kenapa kamu tanya seperti itu?” Kali ini Fandi yang bertanya pada Jingga.


“Aku hanya ingin memastikan kalau Fandi hanya milik Jingga.” Jawab Jingga melirik nakal Fandi. Fandi tertegun mendengar jawaban Jingga. Ia tidak menyangka Jingga mengatakan hal itu.


“Jingga.. Aku juga senang sampai saat ini Jingga hanya milik Fandi.” Balas Fandi menarik Jingga ke dalam pelukannya.

__ADS_1


“Ayo kembali ke dalam! Nanti yang lain bingung melihat kita tidak berada disana.” Ajak Jingga sembari menarik tangan Fandi masuk ke dalam.


*****


__ADS_2