Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 110


__ADS_3

Fandi dan Laura menaiki jet pribadinya menuju Australia. Selama perjalanan Fandi memilih untuk membaca buku yang ia bawa untuk persiapan kuliahnya. Sedangkan Laura masih sibuk dengan ponselnya.


“Fandi, aku dengar waktu sekolah kamu sering menang olimpiade bahasa inggris?” Tanya Laura.


“Iya. Begitulah!” Jawab Fandi singkat.


“Baguslah kalau begitu. Jadi setelah sampai di Sidney aku gak perlu ribet menemanimu hendak pergi kemana-mana.” Laura kembali fokus dan menatap layar ponselnya.


Selama di Indonesia, Laura tidak bisa lagi ke club malam karena pak Irwan sangat menentangnya. Makanya Laura lebih memilih bermain game di ponselnya untuk menghilangkan kebosanannya.


“Siapa bilang kita akan pergi kemana-mana?” Fandi tiba-tiba membalas ucapan Laura setelah beberapa menit.


“Maksudmu?” Tanya Laura menatap heran dengan ucapan Fandi.


“Setelah kita berada di Sidney. Aku akan langsung ke kantor mulai bekerja dan juga kuliah. Sedangkan kamu akan tetap tinggal di rumah.” Jawab Fandi dengan santainya sembari membaca kembali bukunya.


“Itu gila Fandi! Aku tidak mau.” Balas Laura mengernyitkan dahinya.


“Kamu harus mau. Sekarang aku adalah suamimu. Kamu harus menuruti semua ucapanku!” Lanjut Fandi tegas.

__ADS_1


“Hahahaaa... Permintaan papa saja tidak mau aku turuti, apalagi perintah kamu.” Laura tertawa kecil sembari menutupi mulutnya dengan telapak tangannya.


“Itu bukan permintaan Laura, tapi perintah!” Balas Fandi lagi menatap sinis Laura.


“Jadi kamu pikir aku akan menuruti perintahmu?” Laura mengangkat alisnya.


“Tentu saja kamu harus menurutinya.” Kali ini Fandi menutup buku yang sedang ia baca dan mengarahkan pandangannya pada Laura.


“Dan aku tidak mau.” Jawab Laura mencibir Fandi.


“Sekarang aku adalah suamimu. Apapun itu kamu harus menuruti perkataanku.” Ujar Fandi tegas.


“Lihat apa yang bisa aku lakukan untuk mengendalikanmu.” Ujar Fandi kembali membaca bukunya.


“Kita lihat saja! Aku bukan Laura yang kamu kenal selama di Indonesia.” Balas Laura tersenyum sinis pada Fandi.


Fandi tak merespon lagi apa yang di ucapkan Laura. Fandi tampak fokus dengan kegiatan membacanya. Laura masih saja merasa kesal dan kali ini ia memasang earphonenya untuk mendengarkan musik.


Selama perjalanan mereka tak lagi berbicara. Karena setiap kali berbicara selalu di akhiri dengan perdebatan. Untuk itu Fandi dan Laura memilih untuk diam dan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

__ADS_1


Sesampainya di Sidney, Fandi dan Laura langsung menuju kediaman mereka yang telah di persiapkan oleh pak Irwan.


*****


“Waaww.. Rumah baru? Sepertinya papa sangat menyukai kamu Fandi. Setelah bertahun-tahun tinggal disini, akhirnya papa membeli rumah lagi.” Celetuk Laura sembari keluar dari mobilnya.


Rumah itu tampak lebih besar dari rumah yang selama ini Laura tinggali. Laura lebih dulu masuk ke dalam rumah. Fandi mengikutinya dari belakang.


“Fandi, kamu tidur di kamar bawah! Sedangkan aku di kamar atas.” Ujar Laura sembari menunjuk kamar yang akan di huni oleh Fandi.


“Terserah kamu!” Balas Fandi meninggalkan Laura lalu menuju kamarnya.


Fandi masuk ke kamarnya dengan membawa tas berisi barang-barang Fandi. Fandi menutup pintu kamarnya tanpa menoleh sedikit pun pada Laura.


“Dasar pria aneh!” Umpat Laura.


Laura kemudian naik ke lantai atas dan melihat-lihat kamar yang ia inginkan. Akhirnya Laura memilih kamar dengan balkon yang luas untuk dirinya bersantai.


Tidak lama setelah itu Laura turun dan keluar rumah tanpa meminta izin ada Fandi. Fandi yang tertidur di kamarnya sama sekali tidak mengetahui kepergian Laura.

__ADS_1


*****


__ADS_2