Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 151


__ADS_3

Satu jam berlalu, dokter meminta Fandi untuk masuk ke ruangannya. Dokter menjelaskan tentang kondisi Dirga. Dirga hanya demam biasa, tidak ada sakit yang serius. Namun dokter menyarankan supaya Dirga di rawat di rumah sakit. Agar dapat di pantau dan kondisinya segera membaik. Tanpa ragu Fandi menyetujui saran dokter. Ia ingin perawatan yang terbaik untuk anak laki-lakinya itu.


Dirga di pindahkan ke ruang perawatan. Kebetulan Fandi meminta kepada pihak rumah sakit agar Dirga bisa satu lantai dengan ruangan Jingga. Fandi menemani Dirga hingga Dirga pun mulai tertidur.


Setelah Dirga tertidur, Fandi meninggalkan ruang perawatan Dirga. Fandi ingin memberitahukan kondisi Dirga kepada Jingga.


Fandi masuk ke dalam ruang perawatan Jingga. Jingga sedang berbaring di ranjang. Jingga tampak heran dengan kedatangan Fandi namun kali itu tanpa Dirga.


“Dirga mana?” Tanya Jingga menatap Fandi penuh tanya.


“Jingga, Dirga ada di ruangan lain di lantai ini juga.” Jawab Fandi. Jingga semakin bingung mendengar jawaban Fandi. Wajah Fandi tampak lesu.

__ADS_1


“Maksud kamu apa Fandi? Apa yang terjadi pada Dirga?” Jingga mulai mengkhawatirkan Dirga.


“Dirga sedang demam. Jadi aku membawanya ke rumah sakit ini.” Fandi berusaha menenagkan Jingga yang mulai khawatir.


“Demam biasa? Tapi kenapa di rawat? Fandi tolong jujur, Dirga kenapa?” Tanya Jingga lagi. Jingga seperti tak percaya kalau anaknya Dirga hanya demam biasa. Karena Jingga begitu menyayangi Dirga.


“Tenanglah Jingga. Dirga hanya demam biasa. Aku ingin Dirga di rawat dengan baik agar kondisinya segera pulih.” Jawab Fandi kembali menenangkan Jingga.


“Terima kasih Fandi.” Jingga menghela nafasnya mulai lega dengan jawaban Fandi.


Jingga terkejut mendengar ucapan Fandi. Seketika Jingga terdiam, Jingga hanya menunduk sembari berpikir apa yang menyebabkan Fandi bisa berkata seperti itu.

__ADS_1


‘Fandi, apa maksud ucapannya? Apa Fandi sudah tahu? Tapi tahu dari mana?’ Banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Jingga. Ia tampak tidak berani lagi menatap Fandi. Jingga masih saja terus menunduk menyembunyikan wajahnya.


“Jingga, tolong jawab aku!” Fandi mendekati Jingga meminta penjelasan dari Jingga tentang status Dirga yang sebenarnya.


“Kamu bicara apa Fandi?” Jingga pura-pura tidak mengerti maksud Fandi.


“Kamu tidak usah pura-pura lagi. Dirga sebenarnya adalah anakku kan?” Tanya Fandi penasaran. Sejujurnya Fandi hanya ingin memastikannya sendiri dari mulut Jingga.


“Fandi, kamu apa-apaan? Dirga itu anakku dan su..amiku.” Jawab Jingga gelagapan. Jingga tampak mulai gugup menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Fandi.


“Sudahlah Jingga. Aku sudah tahu semuanya. Aku tahu Dirga adalah anak kandungku. Kamu tidak pernah menggugurkan anak kita. Itulah kenyataannya! Aku tidak terima Ferdinan selalu menghina Dirga. Pria itu selalu saja mengatakan Dirga anak haram. Kamu tahu, hatiku sakit tiap kali Dirga di hina seperti itu olehnya. Akhirnya aku menelepon Ferdinan. Dan benar saja Ferdinan bukan suami dan ayah yang baik. Aku tidak akan membiarkan kamu dan Dirga kembali ke rumah pria itu.” Fandi mengutarakan semuanya kepada Jingga. Jingga terdiam mendengar ucapan Fandi. Jingga tampak malu ternyata Fandi sudah mengetahui semuanya.

__ADS_1


Jingga masih membisu. Fandi mengangkat kepala Jingga yang masih tertunduk malu. Tadinya Fandi berpikir Jingga benar-benar hidup bahagia tanpa dirinya, tapi kenyataan malah sebaliknya. Tidak terasa ada butiran air mata yang jatuh di sudut mata Jingga, Fandi segera menyekanya.


*****


__ADS_2