
Ternyata Jingga sudah menunggu kedatangan Fandi. Jingga duduk di teras. Setelah memarkirkan motornya, Fandi segera menghampiri Jingga yang sedang menunggu.
“Kamu lagi tunggu siapa?” Tanya Fandi heran.
“Aku? Aku lagi tunggu cowok Fandi.” Fandi terkejut. Wajahnya berubah merah, ia kesal karena merasa Jingga lagi-lagi menjalin hubungan dengan laki-laki lain.
“Pacar baru kamu?” Tanya Fandi sinis.
“Aku belum tahu. Soalnya aku sama dia belum pacaran. Dia cuma bilang suka sama aku, tapi belum mengajak aku pacaran.” Ujar Jingga senyum-senyum.
“Siapa? Aku gak apa-apa kok kalau kamu jujur.” Fandi mulai lesu. Ia melihat Jingga tersenyum bahagia.
“Ini makan malam buat kamu. Aku balik.” Fandi kemudian berbalik arah.
Jingga memanyunkan bibirnya. Jingga berpikir kalau Fandi paham maksudnya, ternyata tidak. Jingga segera menarik Fandi dan menggenggam tangan Fandi. Seketika Fandi berbalik arah, ia melihat Jingga masih saja tersenyum senang.
“Fandi kamu mau kemana?” Tanya Jingga memanyunkan bibirnya yang seksi.
“Aku mau pulang. Aku gak mau menganggu waktumu bersama lelaki itu.”Balas Fandi dengan polosnya.
“Iiihh.. Fandi.” Jingga mencubit pinggang Fandi.
“Auuwww.. Kenapa mencubit aku?” Tanya Fandi meringis kesakitan.
__ADS_1
“Habisnya kamu bikin kesal. Kamu benaran gak mengerti atau pura-pura gak mengerti?” Jingga memalingkan wajahnya dari Fandi.
“Oowhh..” Fandi baru mengerti maksud ucapan Jingga tadi. Jingga masuk ke dalam kamarnya dengan wajah cemberutnya.
“Jingga.” Sahut Fandi menggoda Jingga yang sedang merajuk. Jingga tetap diam dan membuang muka.
“Aku minta maaf ya? Aku terbiasa cemburu dan kesal tiap kali melihat kamu sama laki-laki lain.” Ujar Fandi membujuk Jingga agar tidak marah. Jingga tetap saja diam.
“Aku pikir kamu menunggu yang lain, bukan aku.” Lanjut Fandi. Jingga masih saja diam dan tak menghiraukan ucapan Fandi.
“Kalau begitu aku pergi saja. Biar kamu tenang dulu.” Fandi berdiri hendak pergi. Namun lagi-lagi Jingga dengan sigap memeluknya dari belakang. Fandi terkejut, ia terdiam sejenak. Jingga makin erat memeluknya. Fandi mencoba berbalik, ia ingin menatap gadisnya.
“Kamu maafin aku kan?” Tanya Fandi. Jingga hanya mengangguk. Jingga terus saja memeluk Fandi. Fandi kemudian mengajak Jingga untuk duduk di tepi ranjang.
“Jangan cemberut lagi.” Rayu Fandi sambil membelai pipi Jingga.
“Iya, maaf yaa?” Pinta Fandi dengan wajah memohon.
“Hehehehee.. Iya iyaa. Aku sudah maafin kok.” Jingga kemudian mengusap rambut Fandi membuatnya berantakan.
“Gadisku yang nakal.” Fandi mulai menggelitiki Jingga. Mereka tertawa bersama. Jingga merasa tidak memiliki beban saat bersama Fandi. Dan Fandi merasa hidupnya sempurna setelah bersama Jingga.
“Sekarang kita apa?” Tanya Jingga berbisik di telinga Fandi.
__ADS_1
“Maksud kamu?” Fandi balik bertanya.
“Iiihh.. Kan gitu lagi?” Jingga mengernyitkan dahinya.
“Hehehehee.. Sekarang kamu milik Fandi.” Jawab Fandi menatap mata Jingga.
“Kita pacaran?” Tanya Jingga membalas tatapan mata Fandi.
“Iya.” Balas Fandi singkat.
“Sayang?” Tanya Jingga.
“Banget.” Jawab Fandi
“Cinta?” Tanya Jingga lagi.
“Banget.. Banget..” Jawab Fandi lagi.
“Kalau kamu? Sayang gak sama aku?” Kali ini giliran Fandi yang bertanya kepada Jingga.
“Aku nyaman sama kamu. Dan aku mau selalu ada kamu.” Jawab Jingga masih dengan menatap mata Fandi.
“Cinta?” Tanya Fandi lagi.
__ADS_1
“Aku sedang belajar mencintai kamu. Dan secepatnya pasti akan jatuh cinta sama kamu.” Jawab Jingga lagi. Fandi melihat keseriusan di mata Jingga. Ia yakin Jingga benar-benar ingin membuka hati untuk dirinya.
*****