Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 29


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Namun kehidupan Fandi dan Jingga tidak berubah. Fandi masih saja mengagumi Jingga dari kejauhan. Memendam perasaannya yang semakin hari semakin besar.


Sekarang Fandi sudah kelas 12. Fandi sama sekali tidak berubah, Ia masih mempertahankan kesederhanaannya. Namun yang berbeda, sekarang Fandi mulai menjadi idola oleh adik-adik kelasnya. Karena kepintarannya, Fandi selalu menang dalam perlombaan akademik. Terakhir ia menang olimpiade bahasa inggris dan berhasil mendapatkan beasiswa di sebuah Perguruan Tinggi.


Berbeda dengan Fandi, Jingga masih saja mencari jati dirinya. Jingga sering bergonta ganti pacar. Beberapa kali menjalani hubungan dengan teman satu sekolah maupun dari sekolah lain. Namun sampai saat ini Jingga masih belum menemukan yang terbaik.


Suatu ketika sepulang sekolah Fandi melihat Jingga di jemput oleh kekasihnya. Fandi hanya bisa menyaksikan dari kejauhan gadis yang dicintainya berboncengan dengan seorang lelaki. Ada yang hancur yang di rasakan Fandi dalam hatinya.


‘Hhhmmm...’ Fandi menghirup nafasnya dengan sangat dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar.


‘Sampai kapan aku harus menyaksikan Jingga seperti ini?’ Fandi bertanya-tanya dalam hatinya. Ia merasa ingin sekali mengungkapkan perasaannya kepada Jingga, namun ia masih merasa belum cukup layak untuk mendekati Jingga.


“Ooii bro, lihat apa?” Riko menepuk pundak Fandi. Riko tahu sahabatnya itu baru saja melihat Jingga berboncengan dengan seorang lelaki.


“Eehh Rik, sejak kapan lu disini?” Tanya Fandi terkejut dengan kehadiran Riko.


“Kita makan bakso yuk bro?” Riko merangkul Fandi mengajaknya ke warung bakso Mas Joko di samping sekolah.

__ADS_1


Setelah mengambil tempat duduk, mereka memesan dua mangkok bakso dan dua es jeruk. Riko melihat Fandi yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


“Bro, lu masih kepikiran yang tadi?” Suara Riko terdengar pelan dan hati-hati.


“Yang tadi? Yang mana Rik?” Fandi seketika tersontak melihat ke arah Riko. Ia pura-pura bingung dengan arah pembicaraan Riko.


“Jingga bro.” Jawab Riko tersenyum.


“Ooh itu Rik, iya Rik. Gue kasihan saja sama Jingga Rik.” Fandi kembali menunduk lesu menjawab pertanyaan Riko.


“Gue paham Rik, Jingga seperti itu hanya ingin mencari yang terbaik untuk masa depannya." Ujar Fandi membela gadis pujaannya.


“Okee.. Apapun itu bro meskipun terlihat salah bagi gue. Sebagai sahabat lu, gue akan tetap dukung lu bro.” Riko kembali menyemangati Fandi. Riko tidak mau terlalu ikut campur urusan asmara sahabatnya itu.


“Thanks Rik.” Balas Fandi.


“Ooh ya bro, setelah lulus tahun ini lu kuliah di Universitas EFGH kan? Gue juga udah bilang sama Papa mau kuliah disitu.” Riko kemudian mengutarakan niatnya yang juga ingin kuliah di kampus yang sama dengan Fandi.

__ADS_1


“Waaww.. Mantap Rik.” Fandi bersemangat dan menepuk pundak Riko.


“Iya bro, Lu gue kan best friend forever bro. Hahahaaa..” Riko mulai alay menirukan gaya bicara anak-anak alay. Fandi pun tertawa geli melihat cara bicara Riko.


“Hahahaaa.. Iihh amit-amit sahabat gue jadi seperti ini. Hahahaha...” Fandi tertawa sambil menepuk-nepuk jidatnya.


“Tapi kita berbeda jurusan bro.” Riko mulai berhenti tertawa.


“Emang lu ambil jurusan apa?” Tanya Fandi penasaran, wajahnya berubah serius.


“Gue ambil jurusan hukum bro.” Riko menjawab penasaran Fandi.


“Hukum apa?” Tanya Fandi lagi.


“Hukum karma! Hahahaaa..” Balas Riko sambil tertawa kocak. Fandi yang mendengar jawaban Riko pun ikut tertawa.


*****

__ADS_1


__ADS_2