
Fandi dan Dirga berpegangan tangan berjalan kembali ke rumah sakit. Dirga sudah mulai akrab dengan Fandi. Dirga tak malu lagi bercerita banyak pada Fandi. Dirga menceritakan bagaimana sosok Jingga di matanya. Dirga sangat menyayangi Jingga. Namun setiap kali Fandi bertanya tentang ayahnya, Dirga hanya bungkam. Ada ketakutan yang terpancar dari mata sang anak.
Dirga memanggil ayahnya dengan sebutan daddy, sama seperti panggilan dari saudaranya yang lain. Dirga bercerita kepada Fandi kalau ia memiliki seorang kakak laki-laki yang sudah besar. Fandi tampak serius mendengarkan Dirga bercerita, seolah Fandi tidak di anggap orang asing lagi oleh Dirga.
Sesekali Fandi kembali mengintip ruangan Jingga memastikan kalau wanita itu sudah sadar. Tapi masih belum ada tanda-tanda Jingga akan bangun.
Dokter mengajak Fandi berbicara dalam ruangannya. Dokter menjelaskan kondisi Jingga yang sebenarnya. Jingga mengalami geger otak ringan. Dokter mengatakan bahwa kepala Jingga sering mengalami benturan. Fandi terkejut mendengar penjelasan dari dokter. Hatinya terasa pilu mengetahui keadaan wanita yang masih menghuni hatinya sampai sekarang.
“Saya mohon lakukan yang terbaik dok. Beri perawatan yang bagus untuk Jingga.” Pinta Fandi pada dokter.
“Tentu saja pak Fandi. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan ibu Jingga.” Ujar dokter menenangkan Fandi.
Saat keluar dari ruangan dokter, Fandi melirik Dirga yang duduk di depan ruangan Jingga. Anak itu termenung, entah apa yang sedang ia pikirkan. Fandi kemudian mendekati Dirga.
__ADS_1
“Dirga, ikut om ya?” Ajak Fandi menatap Dirga. Mata Dirga tampak sayu. Sepertinya Dirga sudah mulai mengantuk, karena malam pun semakin larut.
“Kemana? Dirga mau jaga mama disini om.” Dirga menatap balik pada Fandi. Tampak di matanya tidak ingin jauh dari Jingga.
“Biar mama istirahat dulu ya? Besok pagi kita kesini lagi. Sekarang sudah malam, kita istirahat dulu.” Bujuk Fandi lagi. Fandi tersenyum melihat tatapan mata polos Dirga.
“Iya om. Tapi mama ada yang jaga kan?” Tanya Dirga memastikan Jingga aman.
“Disini banyak suster dan dokter yang jaga mama. Dirga tidak perlu khawatir.” Jawab Fandi mengusap kepala Dirga.
Selama perjalanan, Dirga sudah tidak bisa lagi menahan kantuknya. Akhirnya Dirga tertidur. Fandi merebahkan kepala Dirga dalam pangkuannya. Fandi mulai merasa nyaman dengan sosok anak itu. Anak yang sangat polos dan sangat menyayangi Jingga.
*****
__ADS_1
Fandi menggendong Dirga masuk ke kamar hotelnya. Ia membaringkan tubuh Dirga di atas tempat tidurnya, tidak lupa Fandi menyelimuti tubuh Dirga.
‘Jingga, anakmu ini begitu menyayangimu, sama sepertiku.’ Ucap Fandi dalam hatinya sembari menatap kembali wajah Dirga dalam-dalam.
Fandi berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum akhirnya ia ikut tidur bersama Dirga.
Setelah beberapa tahun akhirnya Fandi kembali bertemu dengan Jingga. Meski dalam kondisi yang berbeda. Fandi kembali teringat mimpinya beberapa bulan yang lalu.
“Hhhmmm...” Fandi menarik nafas.
‘Aku tidak akan membiarkan kamu sakit Jingga. Kali ini aku tidak akan membiarkan semua terjadi seperti mimpi itu. Kamu harus sembuh Jingga. Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhanmu. Jika harus berobat keluar negeri, pasti akan aku lakukan.’ Gumam Fandi dalam hatinya.
Fandi kemudian memejamkan matanya. Ia juga merasa sangat mengantuk. Tidak lama Fandi akhirnya tertidur.
__ADS_1
*****