Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 154


__ADS_3

Flashback (Jingga)


Dua hari sudah Jingga tinggal di rumah majikan mba Ratih. Majikan mba Ratih bernama bu Romlah. Untungnya bu Romlah orang baik. Bu Romlah mengizinkan Jingga untuk tinggal beberapa hari di rumahnya hingga Jingga mendapatkan pekerjaan nantinya.


Jingga sangat rajin membantu mba Ratih di dapur. Jingga merasa tidak enak jika hanya tidur dan makan gratis di rumah itu. Oleh karena itu Jingga lebih banyak membantu mba Ratih melakukan pekerjaan rumah.


Setelah membantu mba Ratih, Jingga membaringkan tubuhnya di kamar.


‘Fandi, kamu sedang apa?’ Jingga masih mengingat Fandi. Tidak pernah satu hari pun ia tidak memikirkan Fandi.


‘Kamu pasti sudah bersama Sonya saat ini.’ Pikir Jingga dalam hatinya.


Mba Ratih yang sedari tadi sedang berdiri di depan pintu kamar, menatap heran ke arah Jingga. Mba Ratih kemudian memanggil Jingga yang masih larut dalam lamunannya.


“Jingga..” Panggil mba Ratih.


Jingga masih tak merespon. Beberapa kali mba Ratih memanggil, Jingga belum juga merespon. Akhirnya mba Ratih mendekati Jingga dan menepuk pundaknya.


“Jingga..” Panggil mba Ratih lagi seraya menepuk pundak Jingga perlahan.


“Ii..iya mba.” Balas Jingga gelagapan.

__ADS_1


“Jingga kenapa? Lagi mikirin apa?” Tanya mba Ratih penuh tanya.


“Tidak apa-apa mba. Jingga gak mikirin apa-apa kok.” Jawab Jingga masih tampak gugup memberi respon.


“Cerita saja sama mba. Apa Jingga kecapekkan?” Tanya mba Ratih lagi memastikan.


“Jingga tidak capek kok mba. Jingga hanya kepikiran mama dan papa. Jingga rindu mereka.” Jawab Jingga menahan genangan air matanya yang hampir keluar.


“Mba paham perasaan Jingga. Jingga yang sabar ya? Tuan dan nyonya pasti sangat bangga melihat anaknya tumbuh menjadi gadis yang mandiri.” Ucapan mba Ratih seketika menenangkan Jingga.


“Iya mba.” Jingga tersenyum berat memberi isyarat seolah ia baik-baik saja.


“Ooh ya.. Bu Romlah mau bicara dengan Jingga. Segera temui!” Ujar mba Ratih pada Jingga.


*****


Bu Romlah tampak sedang bersantai dengan anak-anaknya. Jingga jadi ragu untuk mendekatinya. Ia tidak mau menganggu suasana itu.


“Jingga, ayo kesini! Kenapa berdiri disitu.” Sahut bu Romlah yang melihat Jingga hanya berdiri memperhatikannya dari jauh.


“Iya bu.” Jingga bergegas mendekat.

__ADS_1


“Mba Ratih bilang katanya kamu ingin mencari pekerjaan. Benar begitu?” Tanya bu Romlah penasaran.


“Iya bu.” Jawab Jingga seadanya.


“Pekerjaan yang seperti apa kalau ibu boleh tahu?” Tanya bu Romlah menatap Jingga.


“Kerja apa saja bu, yang penting halal. Jingga bisa kerja apa saja.” Jawab Jingga bersemangat.


“Kamu mau jadi pelayan?” Bu Romlah tampak ingin memastikan.


“Jingga mau bu. Apapun itu Jingga bersedia. Jingga hanya ingin bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup ke depannya.” Jingga semakin bersemangat. Ia menunjukkan kalau ia tidak akan malu menjadi seorang pelayan.


“Kalau begitu Jingga bisa persiapkan semua berkas yang di perlukan untuk melamar pekerjaan. Ibu punya teman yang punya restoran, tapi di luar kota. Bagaimana? Jingga mau bekerja disitu?” Tanya bu Romlah lagi.


“Jingga mau bu.” Jawab Jingga seadanya.


“Tapi ijazah Jingga belum di ambil dari sekolah bu.” Suara Jingga terdengar ragu-ragu.


“Ini uang, Jingga bisa jemput ijazah besok.” Bu Romlah menyodorkan beberapa lembar uang merah kepada Jingga.


“Terima kasih banyak bu.” Jingga mengambil uang tersebut dari tangan bu Romlah dan berkali-kali berterima kasih.

__ADS_1


*****


__ADS_2