Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 62


__ADS_3

Sesampainya di toko perhiasan, Fandi bertanya kepada pramuniaga toko.


“Mba, aku boleh lihat kalung.” Tanya Fandi.


“Iyaa mas. Ini boleh di lihat-lihat mau yang mana.” Jawab pramuniaga sambil menunjuk kalung yang berjejer dalam etalase kacanya.


“Kalau yang ini berapa mba?” Tanya Fandi menunjuk salah satu kalung.


“Kalau yang ini harganya tiga juta mas.” Jawab pramuniaga.


“Liontinnya aku minta yang inisial F ini mba.” Fandi menunjuk sebuah liontin inisial namanya.


“Totalnya tiga juta rupiah ya mas.” Pramuniaga lalu membungkus kalung yang di beli Fandi.


“Ini uangnya mba, terima kasih.” Fandi mengeluarkan uang dari amplop berwarna cokelat.


“Terima kasih kembali mas.” Jawab pramuniaga tersenyum menundukkan kepalanya.


Fandi dan Riko berlalu meninggalkan toko perhiasan tersebut. Fandi merasa senang akhirnya bisa membelikan Jingga perhiasan. Mereka kemudian membeli kertas bungkusan kado untuk membungkus perhiasan tersebut.


“Bro, lu gak beli kue?” Tanya Riko mengingatkan.


“Ooh iya Rik, aku beli kue yang kecil saja. Soalnya Jingga kurang suka kue tart.” Jawab Fandi.


“Kalau begitu beli brownies cokelat aja. Jingga kan suka. Waktu Novi ulang tahun di sekolah aja habis berapa potong.” Balas Riko memberi ide Fandi agar membeli brownies cokelat saja.

__ADS_1


“Mantap bro. Gue gak kepikiran. Ayo kita beli brownies cokelat saja!” Fandi dan Riko berjalan dan kemudian masuk ke toko kue brownies.


Seorang pramuniaga yang melihat kedatangan Fandi dan Riko segera berdiri dan menghampiri mereka.


“Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya pramuniaga toko kue kepada Fandi dan Riko.


“Iya mba. Aku mau beli brownies yang ukuran agak kecil.” Jawab Fandi seraya melihat ke etalase kue.


“Saran saya yang ini saja mas.” Pramuniaga menunjukkan sebuah kue yang berada di etalase sebelah kanan Fandi. Fandi pun segera menoleh ke samping kanannya.


Fandi langsung menyukai brownies yang baru saja di tunjukkan oleh mba pramuniaga. Brownies berbentuk hati bertamburan cokelat dan cokelat putih, di hiasi buah cheri di atasnya.


“Mba, aku mau yang ini saja.” Fandi langsung menyetujui pilihan si mba.


“Untuk ulang tahun mba.” Jawab Fandi singkat.


“Ooh.. Ulang tahun ya?” Balas mba pramuniaga sembari mengambil brownies tersebut dari dalam etalase.


“Namanya siapa?” Tanya mba pramuniaga sambil melihat ke Fandi.


“Aku Fandi mba.” Jawab Fandi polos.


“Maksud saya nama yang ulang tahun?” Balas mba pramuniaga sambil tersenyum.


“Ooh.. Namanya Jingga mba.” Balas Fandi tersenyum malu.

__ADS_1


“Jingga." Si mba pramuniaga mengambil selembar cokelat putih lalu menuliskan Happy Brithday Jingga dengan cream cokelat di atas selembar cokelat putih tadi.


‘Jingga pasti suka.’ Bisik Fandi dalam hati. Ia sudah tidak sabar ingin memberikan kejutan untuk Jingga.


“Semuanya jadi seratus enam puluh ribu ya mas.” Ucap si mba sambil memberikan kotak bungkusan brownies tadi.


“Terima kasih mba.” Balas Fandi seraya memberikan uang kepada mba pramuniaga.


Setelah itu Fandi dan Riko keluar dari toko kue. Fandi terlihat sangat senang sekali. Riko pun ikut senang melihat sahabatnya senang.


“Rencana lu apa bro?” Tanya Riko mulai penasaran.


“Rencananya nanti jam 12 malam gue ke kosan Jingga untuk kasih kejutan ini Rik.” Jawab Fandi.


“Jam 12 malam.” Tanya Riko terkejut. Ia membelalakkan matanya ke arah Fandi.


“Emang kenapa Rik?” Fandi balik bertanya.


“Di kosan Jingga boleh bertamu jam 12 malam?” Tanya Riko lagi.


“Ya gue minta izin sama mba Wati lah.” Jawab Fandi santai.


“Oohh gitu. Tapi lu hati-hati nanti kebablasan. Hehehehe...” Balas Riko tertawa kecil.


*****

__ADS_1


__ADS_2