Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 17


__ADS_3

Tok.. tok.. tok..


“Mpus, aku masuk yaa?” Windy membuka pintu kamar Jingga dan mendapati Jingga sedang menangis sambil memeluk foto kedua orang tuanya.


Air matanya terus mengalir. Sesekali ia mencoba mengusapnya, namun air matanya semakin deras mengalir. Jingga tidak menyangka akan secepat ini kehilangan Mama dan Papanya. Rasanya baru semalam mereka masih tertawa bersama. Jingga merasa yang di alaminya saat itu seperti mimpi buruk yang ingin sekali ia terbangun darinya.


“Mpus, kita sarapan yuk? Aku tadi beli bubur ayamnya kang Asep yang di perempatan, kan itu favorit kamu mpus?” Windy membujuk Jingga untuk makan, karena dari kemarin seharian Jingga tidak makan apapun setelah mengetahui orang tuanya mengalami musibah kecelakaan.


“Aku gak lapar cing.” Balas Jingga lesu.


“Aku gak mau kamu sakit mpus. Kamu makan sedikit yaa?” Bujuk Windy lagi, namun Jingga tidak menghiraukannya.


Air matanya masih saja terus mengalir. Matanya pun sudah bengkak, karena tak berhenti menangis sejak kejadian itu. Jingga belum siap hidup tanpa orang tuanya. Apalagi Jingga anak satu-satunya, tidak punya kakak ataupun adik. Jingga benar-benar seorang diri sekarang.


Sebelumnya, papa dan mama Jingga pamit untuk pergi ke luar kota memenuhi undangan pernikahan kerabat jauh mereka. Namun naas musibah menimpa mereka. Di perjalanan pulang, mobil mereka di hantam sebuah truck kontainer mengangkut barang yang kehilangan kendali. Mama Jingga meninggal di tempat kejadian, sedangkan Papanya sempat di larikan ke rumah sakit namun akhirnya juga meninggal.

__ADS_1


“Mau aku telepon Fiki?” Windy sudah bingung tidak tahu bagaimana lagi caranya membujuk Jingga untuk makan. Wajah Jingga juga sudah terlihat pucat.


“Gak usah cing. aku cuma mau sendiri.” Jingga mengusap lagi air matanya yang jatuh bercucuran, lalu berusaha tersenyum di depan Windy sahabatnya.


“Kamu sarapan saja dulu. Aku mau istirahat sebentar.” Jingga kemudian berbaring dan menaruh kembali foto orang tuanya di atas meja.


Jingga mencoba memejamkan matanya. Dari wajahnya terlihat betapa terpukulnya Jingga saat itu. Orang tua yang dulu selalu ada dan memanjakannya kini telah tiada.


Setelah Jingga terlelap, Windy pun berdiri lalu ke luar dari kamar Jingga membiarkannya untuk istirahat.


*****


“Jingga masih nangis Ma.” Windy menjawab dengan lesu. Windy seperti sudah menyerah membujuk sahabatnya itu.


Windy dan bu Lisa kemudian kembali ke rumah mereka yang kebetulan berada di sebelah rumah Jingga.

__ADS_1


“Ma, tadi pak Harri telepon papa.” Papa Windy menghampiri istrinya dengan wajah pasrah.


“Pak Harri bilang apa pa?” Tanya bu Lisa.


“Karena mas Feri sudah meninggal, jadi semua cicilan rumah dan mobil-mobilnya sudah tidak di tanggung perusahaan lagi ma. Jingga cuma berhak menerima uang duka dan asuransi papanya saja dan itu jumlahnya tidak seberapa.” Pak Niko mulai menjelaskan secara detail kepada Istrinya.


“Itu artinya rumah dan mobil mereka.” Bu Lisa mengernyitkan dahinya.


“Iya ma. mau tidak mau kita harus menyerahkan rumah dan mobil mereka ke pihak bank.” Pak Niko lanjut menjelaskan. Bu Lisa terduduk mendengar penjelasan suaminya.


“Uang duka dan asuransinya akan cair seminggu lagi ma. Sementara itu pihak bank memberi waktu satu minggu untuk mengosongkan rumah. Sabar ya ma!” Pak Niko mencoba menenangkan istrinya yang merupakan saudara dari papa Jingga.


Windy yang mendengar pembicaraan orang tuanya dari kejauhan merasa sedih. Windy tidak menyangka dalam sekejap kehidupan sahabatnya berubah seperti ini. Jingga yang biasanya selalu bahagia bersama orang tuanya kini tinggal sebatang kara. Senyum ceria di wajahnya mulai terkikis semenjak musibah itu datang menimpa keluarga mereka.


*****

__ADS_1


__ADS_2