Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 71


__ADS_3

Malam harinya Fandi datang ke kosan Jingga. Seperti biasa ia membuka pintu kamar Jingga menggunakan kunci yang ada padanya. Ia melihat kekasihnya itu sedang tertidur pulas. Makan siangnya pun masih banyak bersisa. Fandi mendekati Jingga. Ia bingung kenapa Jingga akhir-akhir ini sering pusing dan emosian. Kemudian Fandi duduk di tepi ranjang dan di lihatnya wajah Jingga sedikit pucat.


“Kamu kenapa sayang? Sakit apa?” Ucap Fandi pelan seraya membelai rambut Jingga.


“Kamu tahu, aku sangat menyayangimu. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu.” Lanjut Fandi. Jingga kemudian terbangun, Jingga mendengar jelas apa yang di ucapkan Fandi.


“Sayang.” Jingga lalu berusaha untuk duduk. Fandi membantunya bangkit dari berbaring.


“Sayang kamu bangun?” Tanya Fandi membelai wajah Jingga.


“Iya sayang, kamu kenapa wajahnya sedih?” Tanya Jingga merasa bersalah. Jingga tahu Fandi sedang memikirkannya.


“Aku gak baik-baik saja sayang. Aku sedikit lelah.” Jawab Fandi menyembunyikan perasaannya.


“Maafin aku tadi siang ya dan akhir-akhir ini karena sering marah-marah tanpa sebab sama kamu.” Ucap Jingga lirih lalu menunduk merasa bersalah.


“Jingga, kamu gak salah. Aku cuma sedikit lelah. Aku gak apa-apa di marahin, karena memang aku yang salah.” Balas Fandi mengangkat dagu Jingga.

__ADS_1


“Tidak Fandi. Kamu gak pernah salah. Kamu sudah sangat sempurna selama ini. Tapi aku yang selalu salah dan khilaf.” Balas Jingga. Kali ini Jingga menitikkan air matanya. Jingga sangat merasa bersalah kepada Fandi yang begitu sabar padanya.


“Cup..” Fandi mengecup kening Jingga dengan lembut. Jingga semakin terisak dalam tangisnya.


“Jingga, sudah sayang. Kamu jangan menangis. Aku tidak ingin melihatmu menangis seperti ini.” Ucap Fandi mencoba menenangkan kekasihnya. Namun Jingga masih saja menangis.


“Sekarang kamu jujur sama aku. Beritahu aku apa yang mengganjal dalam hatimu sehingga kamu merasa sedih seperti ini? Apa kamu merasa tertekan dengan hubungan ini? Bilang sama aku. Biar kita cari solusinya. Apa hubungan kita ini membebani kamu?” Fandi tak henti-hentinya bertanya. Ia bingung dengan Jingga yang masih saja menangis.


“Tidak Fandi. Tidak ada yang salah dengan kamu. Hubungan ini tidak membebaniku, aku malah sangat bahagia dengan hubungan ini. Aku juga tidak merasa tertekan, aku sangat bahagia bersama kamu. Hanya saja aku takut tidak bisa menjadi yang terbaik dan membuat kamu bahagia.” Ucap Jingga mulai berhenti menangis dan memanyunkan bibirnya.


“Jingga sayang, perlu kamu tahu. Kamu adalah yang terbaik untukku, memiliki kamu benar-benar adalah anugerah untukku dan aku pasti akan selalu bahagia asalkan kamu selalu bersamaku.” Balas Fandi meyakinkan Jingga.


“Tentu saja.” Jawab Fandi singkat.


"Kalau aku berbuat salah, apa kamu akan memarahiku?” Tanya Jingga penasaran.


“Aku tidak akan memarahimu. Tapi aku akan menghukummu.” Jawab Fandi.

__ADS_1


“Menghukum? Huhh Jahat!” Celetuk Jingga mengernyitkan dahinya.


“Iya menghukummu tidak boleh keluar kamar, seharian harus bersamaku. Heheheheee...” Balas Fandi cengengesan.


“Iihh.. Nakal.” Jingga cemberut memanyunkan bibirnya.


“Okee.. Aku akan menghukummu.”Lanjut Fandi.


“Menghukum seperti apa?” Tanya Jingga makin penasaran.


“Menghukummu untuk lebih mencintaiku. Hahahaaa...” Balas Fandi sembari tertawa jenaka.


“Hahahaaa.. Kamu sudah pintar gombal yaa? Pasti belajar dari Riko.” Balas Jingga ikut tertawa.


“Sekarang kamu makan. Aku bawa soto mie, mumpung masih hangat.” Fandi kemudian berdiri mengambil mangkok dan menyalin soto mie ke dalam mangkok.


Jingga menuruti perkataan Fandi. Jingga makan di suapi Fandi dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.

__ADS_1


*****


__ADS_2