Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 77


__ADS_3

Beberapa hari setelah itu, kondisi Fandi sudah berangsur pulih. Fandi sudah di perbolehkan untuk pulang.


Satu minggu lebih sudah ia tidak bertemu Jingga. Ia sudah sangat merindukan kekasihnya itu. Fandi berharap kali ini Jingga akan memberinya kesempatan untuk menjelaskan kesalahpahaman antara mereka.


Fandi hari itu di jemput oleh Riko di rumah sakit. Fandi meminta Riko untuk segera mengantarnya ke rumah bu Lisa tantenya Jingga.


Sesampainya disana, Fandi bertemu dengan Windy yang tak lain adalah sepupu Jingga.


“Maaf. Aku bisa bertemu dengan Jingga?” Tanya Fandi pada Windy yang kebetulan keluar dari gerbang rumah bu Lisa.


“Kamu siapa?” Windy yang heran balik bertanya kepada Fandi.


“Aku Fandi.” Jawab Fandi.


“Kamu Fandi pacarnya Jingga?” Tanya Windy lagi tak percaya. Selama ini Windy hanya mendengar curhatan Jingga lewat telepon mengenai kekasihnya, namun tak pernah bertemu.


“Iya.” Balas Fandi.

__ADS_1


“Lalu Jingga apakah ada disini?” Lanjut Fandi bertanya penasaran.


“Jingga tidak disini. Dia sudah tidak tinggal disini lagi. Beberapa hari yang lalu Jingga datang kesini minta di temani ke sekolahnya untuk menjemput ijazah. Sampai sekarang aku tidak tahu lagi kabar Jingga.” Jawab Windy menjelaskan.


“Aku boleh minta nomor ponsel Jingga yang baru?” Tanya Fandi lagi.


“Aku tidak tahu nomor ponsel Jingga yang baru. Sepertinya Jingga tidak punya ponsel lagi.” Jelas Windy lagi.


“Aku mohon. Aku ingin ketemu Jingga.” Pinta Fandi memohon.


“Maaf Fandi. Aku benar-benar tidak tahu Jingga dimana. Aku juga bingung melihat perubahan sikap Jingga, ia tampak murung seperti sedang banyak masalah. Pergelangan tangannya pun banyak bekas luka." Lanjut Windy.


“Terakhir Jngga sempat bilang kalau dia akan pindah keluar kota memulai kehidupan yang baru.” Windy kemudian melanjutkan ucapannya.


Fandi tertunduk lesu mendengar ucapan Windy. Ia tidak menyangka akan jadi serumit itu masalah antara ia dan Jingga. Fandi merasa tercekat tidak bisa berbicara lagi. Ia hanya bisa terdiam.


“Ya udah Fandi. Aku pergi dulu.” Sahut Windy melambaikan tangannya meninggalkan Fandi.

__ADS_1


Fandi kemudian berjalan dengan langkah tertatih masuk ke mobil Riko. Ia masih saja diam seribu bahasa. Riko berkali-kali mengajaknya untuk bicara namun Fandi tetap bergumam dalam diamnya.


*****


‘Jingga, kamu ada dimana sayang?’ Gumam Fandi dalam hatinya. Ia takut bila Jingga benar-benar meninggalkannya.


“Bro, kita coba cari di kosan aja dulu. Siapa tahu Jingga ada disana?” Sahut Riko memberi harapan pada Fandi.


“Iyaa Rik, ayo kita ke kosan Jingga!” Balas Fandi setuju.


“Sabar bro.” Ucap Riko seraya menepuk pundak Fandi.


“Ini salah gue Rik. Dengan susah payah gue mendapatkan hatinya Jingga, tapi gue malah lengah membiarkan Sonya mengambil kesempatan untuk merusak hubungan kami!” Ujar Fandi menunduk menyesali kebodohannya.


“Lu harus yakin bro. Ini hanya ujian untuk hubungan kalian. Tidak ada hubungan yang berjalan mulus, pasti ada bumbu pertengkaran sedikit di dalamnya.” Balas Riko dengan kata-katanya yang bijak.


“Iyaa Rik. Gue yakin Jingga cuma marah sebentar sama gue. Dia cuma butuh waktu sendiri menenangkan pikirannya. Setelah ini hubungan kami pasti akan baik-baik saja.” Ucap Fandi lirih. Fandi berusaha tersenyum menenangkan hatinya yang mulai gelisah.

__ADS_1


Fandi turun dari mobil. Ia meminta Riko untuk meninggalkannya sendiri. Riko menuruti perkataan Fandi dan melajukan mobilnya untuk pulang menuju rumahnya. Sementara itu Fandi membuka pintu kosan Jingga dan masuk ke dalam.


*****


__ADS_2