Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 36


__ADS_3

“Ooii bro, gila lu! Berani-beraninya gendong cewek di muka umum.” Ledek Riko seraya menepuk pundak Fandi.


“Gue kebablasan Rik.” Balas Fandi merasa malu.


“Kebablasan bagaimana? Lu menikmati banget. Cihuuii..” Lagi-lagi Riko meledek Fandi dan wajah Fandi makin memerah karena malu.


“Udah, lu gak usah bahas lagi.” Fandi mengibas-ngibaskan tangannya memberi isyarat agar Riko berhenti membahas kejadian tadi.


“Ooh tidak bisa.” Balas Riko menggelengkan kepalanya.


“Terus lu mau apa?” Tanya Fandi heran melihat Riko yang begitu kepo.


“Gue mau lu ceritain sama gue dari A sampai Z gak pakai tambah (+) gak pakai kurang (-). Okee?” Perintah Riko dengan gaya bicaranya yang serius.


“Busyet! Lu kayak detektif saja. Main interogasi segala.” Ujar Fandi sembari menepuk jidatnya.


Fandi bingung harus memulai cerita darimana. Ia hanya tersenyum membayangkan kejadian yang baru saja terjadi. Tadi tanpa berpikir panjang ia langsung saja menggendong Jingga sang gadis pujaan hatinya. Bukan hanya Jingga yang heran, tapi semua orang pun ikut heran melihat tingkah Fandi saat itu.

__ADS_1


“Ayo silahkan di mulai!” Seru Riko seraya tangannya mempersilahkan Fandi untuk mulai bercerita.


“Aduuhh.. Gak lucu Rik? Gue bingung mau bicara apa?” Balas Fandi, kali ini ia tertawa tak kuasa menahan malu.


“Tinggal lu cerita aja, barangkali lu udah jadian sama Jingga.” Riko menembak langsung. Fandi terbelalak mendengar ocehan sahabatnya itu.


“Aahh.. Lu.” Balas Fandi menjitak kepala Riko.


“Ayolah bro! Please jujur sama sohib lu ini.” Pinta Riko dengan tatapan penuh harap.


“Okee.. Gue tadi reflek saja gendong Jingga. Karena gue gak mau melihat Jingga berantem sama Sonya seperti tadi. Makanya gue bawa dia ke taman samping. Dia menangis di pelukan gue, terus gue belai rambutnya. Dia tanya kenapa gue gendong dia? Terus gue bersihin luka cakaran di lengannya. Habis itu dia pergi. Ya sudah itu saja.” Fandi menceritakan apa saja yang terjadi pada saat berduaan dengan Jingga.


“Terus?” Tanya Riko yang makin penasaran.


“Kan udah gue bilang. Habis itu dia pergi.” Jawab Fandi.


“Maksud gue. Lu jawab apa? Dia kan tanya kenapa lu gendong dia bro?” Tanya Riko lagi.

__ADS_1


“Ooh iya, dia tanya kenapa gue gendong dia? Dia juga tanya apa gue suka sama dia seperti yang di bilang sama Sonya?” Jawab Fandi. Belum sempat melanjutkan, Riko langsung memotong omongan Fandi.


“Terus lu bilang iya kan bro?” Timpal Riko memotong saat Fandi masih bicara.


“Makanya lu dengerin dulu gue ngomong Rik.” Fandi lagi-lagi menjitak kepala Riko. Riko hanya cengengesan karena sudah tidak sabar mendengar lanjutan cerita Fandi.


“Sayangnya dia tidak memberi gue kesempatan untuk menjawab semua pertanyaannya itu Rik. Dia buru-buru pergi berlalu dari hadapan gue dengan senyuman manisnya.” Lanjut Fandi sambil tersenyum lagi memejamkan matanya membayangkan senyuman Jingga yang manis.


“Aahh.. Gak seru. Lu gak berusaha kejar dia bro?” Tanya Riko lagi penuh harap.


“Gak Rik. Tadinya gue berpikir mungkin itulah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaan gue selama ini sama Jingga. Tapi saat Jingga pergi, gue lalu tersadar dan yakin kalau itu bukan waktu yang tepat. Belum saatnya Rik. Gue masih harus bersabar. Mungkin gue harus menunggu beberapa tahun lagi. Setelah gue sukses, baru gue akan menjadikan Jingga pendamping hidup selamanya.” Jawab Fandi penuh percaya diri. Entah mengapa Fandi merasa Jingga mulai dekat untuk di gapainya.


“Beberapa tahun lagi? Dan dalam beberapa tahun itu apa saja bisa terjadi bro. Siapa tahu dia sudah jadi istri orang lain nanti.” Balas Riko asal.


“Haahhh?” Fandi seketika terdiam mendengar ucapan Riko.


‘Menjadi istri orang lain.’ Fandi mengulangi ucapan Riko di dalam hatinya.

__ADS_1


*****


__ADS_2