Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 144


__ADS_3

Sore harinya, Fandi datang lagi ke rumah sakit untuk menjemput Dirga. Karena memang anak-anak tidak di perbolehkan menginap di rumah sakit. Dirga sudah mulai terbiasa dengan Fandi. Dirga tampak tidak canggung lagi pada Fandi. Jingga ikut tersenyum melihat keakraban Dirga dan Fandi.


“Mama, Dirga pulang dulu ya. Mama istirahat biar cepat sembuh.” Dirga mencium pipi Jingga lalu mencium punggung tangan mamanya.


“Iya sayang. Dirga baik-baik ya. Jangan nakal!” Ujar Jingga mengusap rambut Dirga.


“Iya ma.” Balas Dirga tersenyum manis pada Jingga.


“Kami pamit dulu.” Fandi berpamitan pada Jingga.


Ekpresi Fandi tampak datar. Ia tak banyak bicara. Setelah berpamitan Fandi membawa Dirga keluar dari ruang perawatan Jingga.


Sebelum kembali ke hotel, Fandi mengajak Dirga untuk makan. Sesuai permintaan, Dirga ingin sekali makan nasi padang.


“Dirga, sering makan nasi padang?” Tanya Fandi melirik Dirga yang duduk di sebelahnya. Fandi mengemudi sendiri tanpa supir lagi.


“Tidak om, tapi mama pernah beli nasi padang satu kali untuk Dirga. Dirga suka.” Jawab Dirga tampak menelan ludahnya membayangkan nikmatnya nasi padang.


“Waahh.. Dirga hebat bisa makan pedas.” Puji Fandi. Dirga tampak tersenyum bangga di puji oleh Fandi.


“Iya om. Dirga kan anak laki-laki. Kalau sudah besar Dirga akan jaga mama dari daddy jahat.” Celetuk Dirga bersemangat.


“Daddy jahat?” Fandi kaget mendengar perkataan Dirga.

__ADS_1


“Uuppss.. Dirga salah ngomong.” Balas Dirga sembari menutupi mulutnya dengan telapak tangannya.


“Tidak apa-apa Dirga. Cerita saja sama om Fandi. Om akan jaga rahasia.” Bujuk Fandi meyakinkan Dirga agar mempercayainya.


“Dirga takut om.” Dirga menunduk menyembunyikan wajah polosnya.


“Takut sama siapa?” Tanya Fandi semakin penasaran.


“Daddy jahat om. Daddy sering marah-marah sama Dirga dan mama.” Jawab Dirga sedikit ragu-ragu memceritakan pada Fandi.


“Dirga jangan takut lagi. Om tidak akan membiarkan daddy jahat lagi sama Dirga.” Fandi membelai puncak kepala Dirga dengan lembut.


“Om janji?” Tanya Dirga antusias sembari mengacungkan jari kelingkingnya pada Fandi.


“Iya, om janji akan jaga Dirga.” Jawab Fandi. Saat Fandi akan mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Dirga, Dirga menghentikannya.


“Iya Dirga. Om janji..” Fandi mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Dirga. Setelah itu Dirga tertawa lepas bersama Fandi.


‘Iya Dirga. Mulai sekarang om akan menjaga kamu dan mamamu.’ Ucap Fandi dalam hatinya.


Fandi berkali-kali melirik Dirga sembari mengemudikan mobilnya.


*****

__ADS_1


Fandi memberhentikan mobilnya di depan sebuah restoran masakan padang. Restoran itu sangat terkenal sekali dengan masakan padangnya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Fandi mengajak Dirga untuk turun dan masuk ke dalam restoran. Dirga amat senang, karena Dirga jarang sekali di ajak makan di luar oleh orang tuanya.


“Dirga, ayo ambil lauknya! Dirga mau yang mana?” Tanya Fandi menunjuk hidangan yang ada di hadapan mereka.


“Dirga mau rendang om. Rendang itu enak, Dirga suka.” Jawab Dirga memperhatikan piring yang berisi beberapa potong rendang daging.


“Ini.. Makan yang banyak ya.” Fandi mengambil sepotong daging rendang dan meletakkannya di atas piring nasi Dirga.


Seperti biasa Dirga tidak lupa membaca doa sebelum mulai makan.


Fandi masih memperhatikan Dirga yang sangat bersemangat melahap makanannya. Sama seperti Dirga, Fandi juga sangat menyukai masakan padang apalagi rendang.


“Dirga mau minum apa? Biar om pesan sekalian.” Tanya Fandi lagi.


“Dirga boleh pesan jus om?” Dirga bertanya balik kepada Fandi.


“Tentu saja boleh. Dirga mau jus apa?” Fandi menatap Dirga dengan senyuman.


“Dirga mau jus wortel.” Jawab Dirga tersenyum sungkan pada Fandi.


“Baik. Om pesan dulu ya!” Balas Fandi seraya memanggil pelayan.

__ADS_1


Fandi memesan 2 jus wortel, karena dari dulu Fandi juga menyukai jus wortel.


*****


__ADS_2