Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 32


__ADS_3

Sementara itu di mejanya, Fandi dan Riko asyik mengobrol tentang rencana kuliah mereka. Riko yang kebetulan duduk menghadap ke arah meja Jingga dan teman-temannya, memberi isyarat kepada Fandi agar menoleh ke belakang. Saat Fandi menoleh ke belakang, Jingga pun sedang memperhatikannya. Mata mereka bertemu dan terjadilah saling tatap-tatapan.


“Cihuuiii..” Sahut Riko spontan melihat sahabatnya yang sedang serius menatap Jingga. Fandi yang menyadari sindiran Riko merasa malu. Wajahnya berubah menjadi merah. Fandi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.


“Rik.” Fandi tersenyum malu sekaligus sangat senang kala itu. Untuk yang pertama kalinya Jingga juga menatapnya. Entah apa arti tatapan sang gadis? Tatapan mata Jingga yang tajam membuat Fandi tidak ingin melepas tatapan itu. Hati mereka seolah saling berbicara.


“Bro, menurut gue itu kode buat lu. Jingga juga mulai terpesona sama lu.” Perkataan Riko membuat Fandi makin malu. Ia menunduk, sesekali mengangkat kepalanya dan tersenyum.


Fandi tidak menanggapi perkataan Riko. Ia berusaha menyembunyikan senyumannya.


“Oii bro, lu denger ape gue kate kagak?” Tanya Riko dengan logat betawinya.


“Hehehee..” Balas Fandi cengengesan.


“Malah ketawa?” Lanjut Riko.


“Terus gue harus apa? Masa’ gue harus jungkir balik? Gila lu!” Celetuk Fandi menanggapi Riko.


“Pokoknya secepatnya lu harus tembak noh gadis lu.” Usul Riko menyemangati Fandi agar segera mengungkapkan perasaan terpendamnya selama ini kepada Jingga.

__ADS_1


Selesai makan, Fandi dan Riko meninggalkan kantin. Sebelum keluar dari kantin Fandi kembali menoleh le arah Jingga dan Jingga pun menyadarinya. Sementara Riko menjadi salah tingkah, karena tak sengaja melihat Novi tengah asyik memperhatikannya.


“Aduuhh.. Fandi melirik kesini.” Seru Rani girang.


“Lihatin Jingga kayaknya deeh.” Balas Eka spontan.


“Apaan sih Ka?” Celoteh Jingga yang mulai ikutan malu.


“Iya, kayaknya Fandi memang lihatin kamu deh beb.” Lanjut Rani sambil memperhatikan arah pandangan Fandi.


‘Masa’?’ Jingga tak menyangka teman-temannya akan berpikir seperti itu. Karena setahunya Fandi adalah orang yang kalem dan tidak mungkin menyukai gadis sepertinya. Jingga pun merasa Fandi bukan tipe lelaki idamannya.


“Wooiii..” Eka menepuk pundak Novi yang dari tadi senyum-senyum sendiri. Jingga yang mendengar teriakan Eka ikut terkejut.


“Iihh Eka.. Kamu apa-apaan siih?" Balas Novi ketus memanyunkan bibirnya.


“Iya kamu siih. Kenapa senyum-senyum gak jelas gitu?” Tanya Eka mengernyitkan dahinya menatap sinis Novi.


“Hhhmmm... Kamu kayak gak tahu aja Ka.” Sahut Rani yang ikut tersenyum melihat Novi.

__ADS_1


“Iyan aku kan lagi lihat pangeran chuby nya aku.” Novi memegang kedua pipinya membayangkan betapa lucunya Riko. Ternyata Novi jatuh hati kepada sahabat Fandi.


“Hahahaaa...” Eka lalu tertawa melihat tingkah Novi.


“Hahahaaa...” Rani dan Jingga juga ikut tertawa kompak, sedangkan Novi cemberut memonyongkan bibirnya.


Tidak di sangka ternyata ada juga gadis yang tulus menyukai Riko. Novi gadis cantik yang polos dan berkacamata, namun sikapnya agak kekanak-kanakan. Sepertinya Riko mulai penasaran dan bertanya-tanya tentang sosok Novi.


“Bro, gue lihat cewek berkacamata temannya Jingga tadi cantik ya bro?” Tanya Riko malu-malu saat sedang berjalan menuju kelas.


“Ooh Novi?” Balas Fandi singkat.


“Lu tahu namanya bro?” Tanya Riko lagi.


“Dia ikut seleksi juga waktu itu.” Balas Fandi lagi.


“Berarti dia pintar juga ya bro?” Riko tersenyum penuh makna.


“Kenapa? Lu kepincut?” Kali ini Fandi yang bertanya. Dan Riko tersipu malu.

__ADS_1


*****


__ADS_2