
Flashback (Jingga)
“Segera bersiap-siap! Hari ini kita akan ke rumah kerabatmu untuk meminta surat izin menikah.” Perintah Ferdinan. Jingga yang sedang asyik membantu Hastari di dapur tiba-tiba terdiam.
‘Aku benar-benar sudah tidak bisa menghindar lagi.’ Gumam Jingga dalam hati.
“Lu dengar gak? Malah bengong.” Ferdinan meneriaki Jingga, Jingga tak bisa berbuat apa-apa lagi.
“Iya pak.” Jawab Jingga berusaha untuk tenang.
“Iya apa?” Tanya Ferdinan masih dengan suara yang keras.
“Iya, saya akan segera bersiap-siap.” Jingga segera menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap seperti yang di perintah Ferdinan padanya.
Saat sedang bersiap-siap di kamarnya, Hastari masuk dan duduk di tepi ranjang.
“Jingga, kamu tidak apa-apa?.” Tanya Hastari.
__ADS_1
“Iya mba.” Jingga tersenyum pada Hastari.
“Itu belum seberapa. Belum menikah saja mas Ferdinan sudah meneriaki kamu seperti itu, apalagi setelah menikah. Apa kamu yakin tidak mau berubah pikiran?” Lagi-lagi Hastari meminta Jingga untuk mempertimbangkan lagi untuk menikah dengan Ferdinan.
“Kalau boleh jujur mba, aku sama sekali tidak ingin menikah dengan pak Ferdinan. Tapi aku bisa apa? Pak Ferdinan sudah terlanjur membuat aku berhutang padanya. Dan itu jumlahnya sangat besar. Mustahil bisa aku kembalikan uang itu.” Jingga menjelaskan bahwa ia berada di posisinya yang sulit pada Hastari.
“Kalau boleh mba tahu, kamu berhutang untuk apa?” Hastari nampak penasaran.
“Ketika akan melahirkan, kandunganku bermasalah dan harus di lakukan tindakan operasi. Saat itu pak Ferdinan datang menawarkan bantuan dengan syarat seperti itu. Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak mau kehilangan Dirga mba.” Jingga kembali menjelaskan kalau ia terpaksa setuju dengan pernikahan itu.
“Mas Ferdinan selalu seperti itu, tidak pernah berubah. Tapi baru kali ini ia mau menikahi wanita yang berhutang padanya.” Hastari mengernyitkan dahinya.
“Banyak, tapi tidak satu pun yang mas Ferdinan nikahi.” Jawab Hastari. Jingga tampak bingung.
“Maksud mba?” Tanya Jingga semakin penasaran.
“Biasanya hanya di jadikan kekasih, melayani nafsunya saja.” Jawab Hastari sembari menghela nafas.
__ADS_1
“Pak Ferdinan tidur dengan wanita lain, dan tidak cuma satu wanita. Bagaimana mba Hastari bisa tetap bertahan?” Jingga mengernyitkan dahinya tak percaya jika ada wanita yang mau bertahan dengan pria seperti Ferdinan.
“Memang sulit. Terkadang saya ingin pergi. Tapi tidak pernah bisa. Suatu hari kamu pasti akan mengerti setelah mengalaminya. Suamiku bukanlah pria baik.” Ucap Hastari sebelum menutup pembicaraan mereka.
Jingga segera keluar dari kamar setelah beberapa kali di panggil oleh Ferdinan. Jingga berusaha untuk bersikap tenang, meski Hastari telah memberitahunya sedikit banyak soal watak buruk Ferdinan.
*****
“Akhirnya selesai juga. Ini tinggal gua antar ke KUA.” Ujar Ferdinan tersenyum sinis sembari memperlihatkan beberapa lembar kertas yang akan di pergunakannya untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Jingga. Jingga hanya diam, ia tidak tertarik merespon perkataan Ferdinan.
“Lu kenapa diam?” Ferdinan menatap sinis Jingga.
“Tidak ada pak. Saya rasa tidak ada yang perlu saya komentari.” Jawab Jingga seadanya.
“Lu memang pintar menjawab omongan gua ya? Lihat saja setelah menikah, apa mulut lu masih bisa seringan ini?” Ferdinan mencibir. Jingga tetap memilih untuk diam.
‘Terus aku harus jungkir balik kegirangan? Gila.. Pernikahan ini hanya terpaksa, karena tidak ada pilihan lain. Andai saja aku tidak berhutang padamu, aku tidak akan sudi menikah dengan pria seperti dirimu.’ Celoteh Jingga dalam hatinya. Dari dulu Jingga selalu antipati pada Ferdinan. Namun sekarang kenyataannya ia harus rela menjadi istri kedua pria itu.
__ADS_1
*****