
Hampir selama satu minggu Jingga merasa pusing dan mual seperti sedang masuk angin. Setelah meminum teh hangat, Jingga kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan seperti biasa memainkan ponselnya. Tiba-tiba Jingga teringat sesuatu.
“Kalender.” Jingga lalu membuka kalender di ponselnya.
“Seharusnya seminggu yang lalu aku datang bulan, tapi kenapa sampai minggu ini belum juga?” Jingga memegangi keningnya mencoba mengingat lagi kapan terakhir ia haid.
Benar saja, Jingga baru sadar jika ia benar-benar telah terlambat seminggu. Tanpa pikir lagi, Jingga langsung berjalan kaki ke luar dari kosannya dan menuju apotek untuk membeli testpack alat tes kehamilan. Saat ditanya oleh karyawan apotek, Jingga beralasan membeli alat itu untuk tantenya.
Sesampainya dirumah, Jingga sudah tidak sabar lagi. Jingga segera ke kamar mandi dan menampung air seninya untuk di tes dengan alat yang baru saja ia beli tadi. Ternyata hasilnya..
“2 garis merah artinya positif.” Jingga melihat alat testpack dan mencocokkan dengan petunjuk yang ada di kemasannya.
“Positif itu artinya aku hamil.” Ucap Jingga dengan nada datar.
Seketika Jingga terdiam, lalu kemudian ia tersenyum. Jingga ingin sekali melompat kegirangan, namun ia sadar saat ini sedang hamil dan harus menahan hasrat itu.
“Fandi.. Fandi.. Kamu harus tahu.” Jingga langsung mengambil ponselnya dan berniat untuk segera memberitahukan kabar itu kepada Fandi.
__ADS_1
Saat sedang memencet nomor ponsel Fandi, Jingga langsung membatalkan niatnya itu.
“Tidak. Fandi gak boleh tahu dulu. 2 hari lagi Fandi ulang tahun, ada baiknya aku memberitahunya pada saat hari ulang tahunnya.” Ujar Jingga lagi.
Tidak lama kemudian Fandi menelepon Jingga. Jingga terkejut, namun ia berusaha untuk tenang dan berbicara dengan Fandi seolah tidak terjadi apa-apa.
“Hallo sayang, kamu lagi apa?” Tanya Fandi di ujung telepon.
“Gak ada sayang. Aku lagi berbaring sambil memikirkan kamu. Heheheheee...” Jawab Jingga tertawa kecil.
“Memikirkan aku? Heheheee... Sama aku juga sedang memikirkan kamu, makanya langsung telepon.” Ujar Fandi.
“Aku baru mau makan siang sayang. Kamu sudah makan?” Balas Fandi menanyakan Jingga.
“Aku belum makan sayang. Sebentar lagi. Aku baru saja minum teh hangat. Sepertinya aku masuk angin.” Jawab Jingga dengan nada suaranya yang lesu.
“Kalau masih pusing dan mual, nanti sore kita ke klinik berobat ya?” Ajak Fandi mulai khawatir.
__ADS_1
“Gak usah. Aku cuma masuk angin biasa. Palingan istirahat sebentar sembuh.” Balas Jingga meyakinkan Fandi.
“Perasaan sudah hampir seminggu ini kamu pusing terus sayang. Aku gak mau kamu sakit. Kita berobat saja ya?” Bujuk Fandi lagi.
“Aku gak mau. Aku kan sudah bilang gak apa-apa, cuma masuk angin biasa. Nanti juga sembuh.” Balas Jingga ketus. Suaranya terdengar agak keras.
“Lah kok kamu jadi marah? Aku kan khawatir sama kamu. Aku gak mau kamu kenapa-napa.” Fandi mencoba menenangkan Jingga yang tiba-tiba kesal padanya.
“Bete! Habisnya kamu bawel jadi cowok. Kalau aku bilang enggak artinya ya enggak.” Balas Jingga lalu menutup teleponnya.
“Iyaa sayang, maaf.” Fandi yang masih sedang berbicara langsung terdiam, karena teleponnya sudah di tutup oleh Jingga.
“Jingga, kamu kenapa sih akhir-akhir ini sering marah gak jelas?” Keluh Fandi.
*****
“Fandi.. Maafin aku!! Aku sudah marah-marah gak jelas!! Gak tahu kenapa akhir-akhir ini emosiku agak labil..” Jingga memejamkan matanya.
__ADS_1
Jingga ingin sekali menelepon balik Fandi dan meminta maaf. Namun ia masih merasa pusing dan lelah. Akhirnya ia tertidur pulas.
*****