Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 41


__ADS_3

Sesampainya di rumah Jingga langsung menuju kamarnya dan mandi. Jingga merasa letih dan berkeringat, karena baru saja mengeluarkan tenaga untuk melerai perkelahian Riyan dan Fandi. Setelah selesai mandi, Jingga kemudian mencari Windy. Namun tak menemukan dimana sahabatnya itu. Jingga lalu masuk ke kamar Windy, tapi juga tak menemukannya.


Tak lama kemudian Windy masuk ke dalam rumah. Ternyata Windy baru saja dari luar.


“Cing, kamu darimana?” Tanya Jingga cemberut.


“Ciiee.. Yang kangen sama aku. Hehehee..” Balas Windy mencubit pipi Jingga kemudian berjalan masuk ke kamarnya.


“Cepatan mandi! Aku mau curhat.” Perintah Jingga.


“Iya iya sabar. Aku langsung mandi ini.” Windy bergegas masuk kamar mandi.


Setelah Windy selesai mandi, Jingga langsung menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya saat di supermarket. Windy yang sedang memakai bajunya buru-buru duduk di tepi ranjang di sebelah Jingga.


“Terus gimana?” Tanya Windy penasaran.


“Kak Riyan gak berhasil memukuli Fandi. Soalnya Fandi lihai dan sigap sekali mengelaknya. Aku salut sama Fandi, padahal saat itu dia punya kesempatan untuk memukul balik kak Riyan, tapi dia gak melakukan itu.” Ujar Jingga kagum dengan sikap Fandi yang tenang saat menghadapi Riyan.


“Aduuhh.. Dewasa banget Fandi itu yaa? Padahal masih SMA. Sedangkan Kak Riyan udah kuliah tapi masih aja kekanakan.” Timpal Windy bicara apa adanya.

__ADS_1


“Iya siih cing. Aku juga sudah mulai jenuh sama kak Riyan.” Balas Jingga mendengus. Jingga merasa kesal dengan sikap Riyan yang sangat kekanak-kanakan.


“Kenapa kemarin di terima sih?” Tanya Windy heran kenapa Jingga bisa berpacaran dengan Riyan.


“Aku gak tahu kalau sifatnya seperti ini.” Jawab Jingga sambil memanyunkan bibirnya dengan raut wajah menyesal.


“Kalau udah kayak gini, pasti susah lepasnya kamu mpus?” Windy menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Iya cing. Aku juga bingung. Kak Riyan orangnya temperament, sering marah-marah gak jelas, posesive. Aduuh.. Rasanya ingin cepat-cepat lepas dari dia. Huuhuu..” Ucap Jingga sambil.merengek.


“Bikin aja dia marah satu kali lagi. Habis itu kamu langsung bilang putus. Selesai!” Usul Windy mengedipkan matanya.


“Okee.. Boleh di coba besok.” Jingga tersenyum sambil menjentikkan jarinya pertanda setuju dengan usulan Windy.


*****


“Cowok si Jingga aneh ya bro?” Tanya Riko sambil senyum gak jelas.


“Aneh maksud lu?” Fandi balik bertanya.

__ADS_1


“Ia cemburuan gitu. Ceweknya gak boleh di lihatin orang. Hahahaa..” Balas Riko sambil tertawa.


“Kalau gue jadi dia, juga pasti marah Rik. Cuma gue gak akan bersikap kekanakan seperti dia.” Timpal Fandi tersenyum berat.


“Jadi menurut lu gak apa-apa cemburu kalau cewek di lihatin orang?” Tanya Riko lagi.


“Iya, menurut gue harus marah atau cemburu kalau yang melihat ceweknya seganteng gue. Hahahaaa..” Balas Fandi mulai melucu.


“Hahahaaa.. Kocak! Lama-lama lu ketularan gue, kepedeannya. Hahahaaa...” Seru Riko tertawa terbahak-bahak mendengar guyonan Fandi.


“Tapi gue masih kepikiran Jingga, Rik.” Ucap Fandi ragu-ragu.


“Kepikiran apanya?” Tanya Riko penasaran.


“Gue lihat. Cowoknya Jingga orangnya sangat temperament. Biasanya cowok yang seperti itu suka kasar. Gue takut bukan cuma omongan dia saja yang kasar pada Jingga, tapi sikapnya juga.” Sesaat Fandi terdiam. Ia takut bila Jingga sampai di kasari oleh Riyan.


“Udah bro. Kita gak bisa apa-apa. Lu berdoa aja biar Jingga dijauhkan dari lelaki yang berniat jahat padanya.” Balas Riko serius.


“Pasti Rik. Gue selalu mendoakan Jingga.” Balas Fandi tersenyum.

__ADS_1


“Rik, gue masuk ya.” Fandi turun dari mobil dan masuk ke dalam warung membawa barang belanjaannya.


*****


__ADS_2