
“Fandi, aku pasti akan jadi perempuan paling bahagia setelah menjadi istrimu nanti.” Ucap Jingga seraya berbaring kembali di tempat tidurnya.
Jingga sama sekali belum mengenakan pakaian. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut. Jingga kembali teringat kata-kata Fandi yang tidak akan meninggalkannya. Jingga merasa benar-benar sangat di cintai lelaki itu. Pelukannya, ciumannya dan tatapan matanya yang tajam membuat Jingga mulai jatuh cinta.
“Bodoh sekali aku.” Jingga menepuk jidatnya.
“Kenapa baru sekarang menyadari keberadaan Fandi? Padahal selama ini dia berada tidak jauh. Tapi tidak pernah terlihat olehku.”
“Fandi dari dulu menyukai aku. Pantas saja Sonya marah. Sonya saja bisa tahu kalau Fandi menyukaiku, tapi aku sama sekali. Haaaahhh....”
“Fandi Fandi, aku sepertinya sudah mulai jatuh cinta.” Jingga kemudian mengusap memberantakkan rambutnya.
Jingga bicara sendiri sambil senyum-senyum. Jingga kemudian memandangi foto dirinya dan Fandi. Mereka sempat berfoto berdua dan Fandi pun telah mencetaknya 2 lembar lalu memberi figura. Jingga meletakkan foto mereka di atas meja di samping ranjang, sama seperti Fandi.
Tak beberapa lama Jingga kembali tertidur.
*****
Ponsel Fandi berdering. Fandi segera meraihnya dan melihat nama Riko tertera di layar ponsel. Kemudian Fandi mengangkat panggilan masuk dari Riko.
__ADS_1
“Ooii bro, lu berangkat bareng gue atau naik motor sendiri?” Tanya Riko di ujung telepon.
“Gue berangkat bareng lu saja Rik.” Jawab Fandi seadanya.
“Tumben? Lu gak berangkat bareng calon istri lu? Heheheheee...” Tanya Riko cekikikan.
“Jingga gue suruh istirahat. Kasihan kelelahan.” Jawab Fandi keceplosan. Ia segera menutup mulutnya.
“Kelelahan? Habis lu apain Jingganya semalam? Heheheheee.. Ayoo jujur!” Tanya Riko menyelidik. Sesekali tertawa kecil.
“Gak gue apa-apain. Sekarang Jingga kan sudah tinggal sendiri. Mencuci pakaian dan beresin kamar sendiri. Dia belum terbiasa, makanya kelelahan sepertinya.” Fandi menjawab pertanyaan Riko dengan gugup. Ia takut Riko curiga kalau hubungannya dan Jingga sudah sangat intim.
“Ooh gitu?” Balas Riko.
“Okee Okee.. Gue otw.” Riko menutup teleponnya.
“Dasar Riko! Hampir saja aku keceplosan.” Ucap Fandi pelan.
Fandi kembali bersiap-siap merapikan seragamnya. Setelah mengecek dan memasukkan buku-buku yang akan ia bawa ke dalam tas, Fandi bergegas keluar dari warung. Di luar ia melihat ada yang berjualan ketoprak
__ADS_1
“Mang.” Panggil Fandi.
“Iya mas.” Jawab si pedagang ketoprak.
“Bungkus 1 tidak pedas, telurnya double ya mang.” Pesan Fandi.
Setelah pesanannya selesai, barulah mobil Riko muncul. Riko turun dari mobilnya dan bergegas menghampiri Fandi.
“Busyet! Lu pesan sendiri gak nungguin gue ya?” Umpat Riko menepuk pundak Fandi.
“Ini untuk Jingga.nKalau lu mau, pesan saja dulu. Gue mau antar ini.” Balas Fandi.
“Sebenarnya gue mau, tapi gue udah terlanjur kekenyangan sarapan di rumah. Mama masak nasi goreng ikan asin, jadinya gue nambah 2 piring. Hehehee..” Celoteh Riko seraya memegangi perutnya yang makin buncit.
“Ya sudah, ayo kita berangkat! Tapi singgah ke kosan Jingga dulu ya?” Ajak Fandi sambil menarik tas Riko. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil Riko.
Sesampainya di kosan Jingga, Fandi turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam kamar Jingga. Riko melongo melihat Fandi yang begitu leluasa keluar masuk kamar Jingga.
“Bro, lu punya kunci sendiri?” Tanya Riko penasaran.
__ADS_1
“Iya.” Balas Fandi singkat tersenyum membuat Riko makin penasaran.
*****