
‘Ya Tuhan, kenapa aku segugup ini? Selalu saja lidahku terasa kaku saat di dekat Jingga.’ Batin Fandi. Ia ingin sekali menunjukkan kepada Jingga bagaimana perasaannya yang sebenarnya. Tapi Fandi selalu saja tidak punya keberanian. Padahal tadi mereka sempat saling bertatapan. Tapi ia malah memutuskan untuk pergi lebih cepat.
“Eehh bro, udah aja?” Tanya Riko heran melihat Fandi masuk ke dalam mobilnya. Padahal seingatnya Fandi baru saja masuk ke rumah Jingga dan sekarang sudah sampai lagi di dalam mobil.
“Gue benar-benar bodoh Rik.” Umpat Fandi sambil menepuk jidatnya sendiri.
“Ooppsss.. Santai bro! Ada apa? Rileks. Ceritain dengan santai.” Riko memberi aba-aba agar Fandi tenang.
“Barusan Jingga mengompres memar gue dan gue juga ikut mengompres memar di dahinya. Saat gue sedang mengompres dahi Jingga, mata kami saling beradu pandang. Dalam sekali Rik. Rasanya gue ingin sekali mencurahkan semua perasaan gue. Tapi lidah gue jadi kaku. Dan akhirnya gue malah memutuskan untuk pergi.” Fandi menjelaskan kronologi saat ia dan Jingga berada di dalam. Riko senyum-senyum penuh harap, namun akhirnya melongo setelah Fandi bilang ia pergi sebelum sempat mengutarakan perasaannya pada Jingga.
“Oh My God! Gila! Gue benar-benar geram sama lu bro.” Riko menarik-narik rambutnya sendiri saking geramnya pada Fandi.
“Bagaimana lagi Rik? Gue tiba-tiba jadi kaku seperti patung.” Fandi tersenyum berat. Ia masih tak percaya dengan yang apa yang baru saja terjadi.
“Setelah kalian tatap-tatapan barusan, Jingga bagaimana menurut lu?” Tanya Riko penasaran.
__ADS_1
“Jingga cantik. Sangat cantik Rik.” Jawab Fandi dengan polosnya.
“Maksud gue bukan itu bro. Gue tahu Jingga itu memang cantik bro. Maksud gue disini, Kan lu udah tatap matanya? Menurut lu dia juga menyukai lu gak?” Tanya Riko senyum-senyum menatap tajam Fandi.
“Gu..gue gak tahu Rik.” Jawab Fandi terbata-bata.
“Aduuh.. Masa’ gak tahu terus bro. Lu lihat dari matanya bagaimana? Tatapannya penuh cinta gak?” Riko melontarkan pertanyaan bertubi-tubi. Riko memang sangat penasaran. Fandi yang mendengar banyak pertanyaan dari Riko mulai bingung dan garuk-garuk kepala.
“Dari yang gue lihat tatapan matanya sangat tajam dan penuh perasaan.” Jelas Fandi seraya tersenyum memejamkan matanya.
“Intinya?” Tanya Riko lagi.
“Yaah, gitu lagi.” Riko menepuk jidatnya sendiri.
“Udah. Gak usah bahas itu lagi Rik. Ayo jalan! Nanti gue di marahi bu Romlah kalau kelamaan sampai di warung.” Ujar Fandi memberi isyarat agar Riko segera melajukan mobilnya.
__ADS_1
“Halaahh... Bu Romlah gak bakalan marah. Kan lu anak emasnya? Pegawai teladan. Hahahaa..” Seru Riko menggoda Fandi agar santai.
“Lu fokus menyetir saja. Jangan bicara terus. Huusssh...” Ujar Fandi memberi isyarat agar Riko diam.
“Iya deh Jingga. Hahahaaa..” Riko tertawa terbahak-bahak.
“Apaan sih lu? Ledekan lu seperti anak kecil saja.” Balas Fandi mengernyitkan dahinya.
“Wkwkwkwwkwk...” Riko cekikikan.
“Ooh yaa bro. Bagaimana lu sama Novi?” Kali ini giliran Fandi yang bertanya soal hubungan asmara Riko sahabatnya.
“Novi my sweety my lovely. Gue menunggu waktu yang tepat untuk nembak dia bro. Persiapan gue kali ini harus matang. Gue gak mau di tolak lagi untuk yang ke 18 kalinya. Jawab Riko serius.
“Bagus kalau gitu Rik. Tapi dari yang gue lihat, Novi sepertinya suka sekali sama lu. Tiap kali ketemu lu seperti sedang bertemu dengan Shahrukh khan. Hehehehee..” Ledek Fandi cekikikan.
__ADS_1
“Kuch kuch hota hai donk? Heheheee..” Balas Riko ikut tertawa.
*****