
Hari ini tepat 2 tahun usia pernikahan Fandi dan Laura. Tidak seperti pasangan lainnya yang merayakan hari jadi perkawinannya, Fandi dan Laura malah sibuk dengan urusannya masing-masing. Seperti biasa Laura akan menghabiskan waktunya sepanjang malam bersama Samuel kekasihnya yang berkewarganegaraan Australia. Sedangkan Fandi memilih untuk berkomunikasi dengan Riko sahabatnya di Indonesia. Fandi memutuskan untuk meminta bantuan Riko mengurus perceraiannya dengan Laura, karena kebetulan Riko adalah seorang pengacara. Fandi mempercayakan Riko untuk mengurus semua proses perceraiannya.
“Fandi, aku jalan dulu.” Sahut Laura ketika hendak keluar dari rumah.
“Oh ya, aku sudah mendaftarkan gugatan perceraian kita ke pengadilan agama di Indonesia.” Ujar Fandi tetap fokus menatap layar ponselnya.
“Baguslah. By the way kamu chat sama siapa? Serius sekali. Apa sudah dapat calon istri baru?” Tanya Laura sedikit menyelidik.
“Apa urusanmu?” Jawab Fandi datar masih tanpa menoleh pada Laura.
“Huuftt.. Bukankah kita sudah berdamai? Apa salahnya sih kamu bersikap baik sedikit padaku?” Tanya Laura lagi memanyunkan bibirnya mendengar jawaban Fandi yang masih saja ketus padanya.
__ADS_1
“Baiklah, aku sedang tidak ingin berdebat. Aku sedang chat dengan sahabatku Riko. Kebetulan dia seorang pengacara yang akan mengurus semua proses perceraian kita.” Jelas Fandi menghentikan kegiatannya.
“Okee fix.. Kalau begitu aku jalan sekarang. Aku mau bermalam mingguan dulu bersama Sam. Kamu baik-baik di rumah ya suamiku Fandi. Jangan lupa cuci muka, tangan dan kaki! Ooh ya sikat gigi juga sebelum tidur! Hahahaaa..” Ledek Laura sembari melambaikan tangannya meninggalkan Fandi.
“Dasar!” Balas Fandi mendengus.
Laura keluar dari rumah dengan tertawa jahil pada Fandi. Laura kemudian masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan kediamannya.
*****
“Ternyata seperti ini akhirnya pernikahanku. Pernikahan yang tidak di dasari oleh cinta.” Celoteh Fandi sembari menyimpan ponselnya ke dalam kantong celana.
__ADS_1
Fandi kemudian masuk ke kamarnya untuk istirahat. Seperti biasa Fandi selalu menghabiskan malam minggunya sendiri di rumah. Meskipun telah memiliki istri, ia tetap melewatinya seorang diri.
“Andai Jingga yang menjadi istriku. Mungkin tidak akan sesepi ini. Setiap malam, huufft.. Aku merindukanmu Jingga. Meski sekarang kamu sudah melupakanku dan bahagia dengan keluarga kecilmu. Aku tetap tidak bisa membunuh rasa cinta ini.” Ucap Fandi. Ia berbaring sambil menatap layar ponselnya yang masih memajang foto Jingga.
Setiap hari setiap malam bahkan setiap detik Fandi masih saja mengingat Jingga. Bertahun-tahun Jingga meninggalkannya tidak pernah cukup bisa membuatnya berhenti mencintai Jingga. Bahkan 2 tahun pernikahannya pun sama sekali tak ada artinya bagi Fandi. Ia masih saja memikirkan Jingga.
Jingga adalah cinta pertama bagi Fandi. Satu-satunya cinta yang pernah hadir dalam hidupnya. Cinta yang selalu memotivasinya. Dan cinta yang juga membuatnya mati rasa untuk merasakan cinta lainnya.
“Jingga, aku selalu berharap memiliki kesempatan untuk bertemu denganmu lagi. Walaupun semuanya sudah sangat terlambat. Tapi aku ingin meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi antara kita 6 tahun yang lalu. Aku tahu semua tidak akan merubah segalanya. Kalaupun tidak ada kesempatan untuk bicara denganmu lagi. Setidaknya aku ingin melihat wajahmu dan memastikan kalau kamu memang benar-benar hidup bahagia tanpaku.” Suara Fandi semakin parau. Ia mulai tercekat menahan sesak di dadanya.
“Aku mencintaimu Jingga. Aku masih mencintaimu. Aku masih sangat mencintaimu. Entah sampai kapan? Aku tidak pernah ingin rasa cinta ini pergi dari hatiku. Aku ingin selalu mencintaimu. Selalu seperti ini.” Kali ini Fandi memejamkan matanya sambil membayangkan wajah Jingganya.
__ADS_1
*****