
Saat mereka dijalan, tiba-tiba Zia mulai merasa mengenali jalan yang mereka lewati, “Apa kita,,?” tanya Zia.
“Seperti perkiraan kakak, kita akan ke kota kakak. Bukankah hari ini hari wisuda kakak.” Ucap Rasti.
“Jadi ini? Apa kita akan ke kampus kakak?” tanya Zia.
“Iya. Aku tahu kakak pasti ingin hadir kan diwisuda kakak.” Ucap Rasti.
“Ee,, tunggu dulu. Darimana kau tahu bahwa hari ini wisuda kakak?” tanya Zia heran.
“Hehehhe, aku tidak sengaja melihatnya di ponsel kakak.” Ucap Rasti cengesan.
“Jadi tadi kalian gak ada pergi membeli ini?” tanya Zia sambil menunjuk pakaiannya dan hanya diangguki oleh Rasti.
“Ohiya kak. Untuk jubah dan togamu aku sudah memesannya, semoga kau suka.” Ucap Rasti.
“Kapan kau memesannya?” tanya Zia lagi.
“Hari ini.” Jawab Rasti.
“Kok bisa?” tanya Zia heran.
“Itu rahasia kak.” Ucap Rasti.
Zia pun mangut-mangut, “Ee,, dek sebenarnya untuk jubah dan toga itu sudah kakak pesan saat melakukan pendaftaran wisuda tapi belum sempat kakak ambil. Jadi jika kau memesan yang baru lagi maka,,” ucap Zia.
“Yaa gak apa-apa double. Malah bagus kan.” Ucap Rasti.
“Apa gak bisa dicancel saja punyamu dek. Kita akan memakai yang kakak sudah pesan. Sudah dibayar kok hanya belum diambil saja.” Ucap Zia.
“Gak boleh kak, aku gak akan mengcancelnya. Coba lihat sudah jadi katanya.” Ucap Rasti sambil menunjukkan pesan.
“Kok bisa cepat begitu?” tanya Zia heran tapi Rasti hanya tersenyum.
Mereka pun segera menuju kampus Zia tapi sebelumnya mereka singga dulu untuk mengambil pesanan Rasti dan pesanan Zia tapi katanya untuk pakaian Zia sudah diambil oleh adiknya. Akhirnya Zia pun memakai jubah yang di beli Rasti.
***
Sementara disisi lain, Zea sedang memandangi jubah dan toga serta selempang dihadapannya.
“Kak, aku sudah mengambil pakaianmu. Apa kau akan datang atau tidak?” ucap Zea.
Sementara Zia dan Rasti serta Hanifa dan Ammar sudah tiba di gedung rektorat. Wisuda untuk profesi ners sebentar lagi akan dimulai. Zia pun segera bergabung dengan teman-teman seangkatannya.
Kurang lebih 30 menit akhirnya acara wisuda untuk profesi ners selesai dan Zia lulus dengan nilai cumlaude hingga dipasangkan selempang cumlaude oleh bapak rektornya. Rasti, Hanifa dan Ammar ikut bahagia karena ternyata orang yang mereka tolong adalah salah satu mahasiswa cerdas hanya saja nasib baik tidak berpihak padanya.
__ADS_1
Zia pun segera mendekati Rasti, “Selamat kakak untuk kelulusanmu. Aku bangga padamu.” Ucap Rasti segera memeluk Zia.
“Terima kasih dek!” ucap Zia membalas pelukan Rasti.
“Selamat nak! Kami tidak menyangka bahwa ternyata kau seorang perawat.” Ucap Hanifa.
“Makasih bibi!” ucap Zia memeluk Hanifa. Lalu selanjutnya Ammar yang memberi selamat padanya.
“Ya sudah kak, ayo kita foto-foto dulu.” Ajak Rasti.
Mereka pun segera menuju ruang foto dan berfoto disana. Tiba-tiba Zia merasa bahwa Zea ada disana juga dan saat dia menatap ke arah pintu ada ternyata ada Zea disana.
“Ada apa kak?” tanya Rasti ketika melihat Zia bersembunyi.
“Ada adikku disini. Ayo kita segera pergi dari sini.” Ucap Zia sambil menarik Rasti keluar. Zia pun bersembunyi disamping Rasti.
“Kak Zia?” ucap Zea tiba-tiba karena merasa bahwa dia seperti melihat siluet Zia. Zea pun segera keluar mencari kakaknya diluar tapi sayang sudah tidak ada Zia disana.
“Hiks,, hiks,, hiks,, apa aku berhalusinasi? Tidak, aku sangat yakin itu kak Zia.” Ucap Zea.
“Kemana kau kak? Apa kau datang?” ucap Zea sambil melihat sekeliling tapi karena banyaknya orang yang wisuda maka sulit untuk menemukannya.
Sementara Zia meneteskan airmata melihat adiknya yang menangis, “Maafin kakak! Kakak merindukanmu tapi kakak belum bisa menemuimu.”
“Kak, apa tidak sebaiknya kita menemuinya? Kasihan dia kak, sepertinya dia merasakan keberadaanmu.” Ucap Rasti yang ikut sedih melihat kedua bersaudara itu. Dia iri akan ikatan batin mereka.
“Kak, bukankah kau sangat merindukannya. Setidaknya temui dia sekali. Kasihan dia!” bujuk Rasti.
Zia pun hanya diam lalu segera mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan.
Ting
“Berdirilah dek! Jangan kau jongkok seperti itu. Jangan menangis!”
Zea yang menerima pesan itu menjadi sangat yakin bahwa kakaknya memang ada disini. Dia pun melihat sekeliling kembali. Zia yang melihat hal itu segera mengirimkan pesan kembali.
Ting
“Jangan mencari kakak seperti itu. Kau kembalilah, bawalah jubah itu ke rumah.”
Zea yang membacanya langsung menelpon nomor ponsel itu tapi Zia tidak menerimanya.
“Kak, aku tahu kau ada disini. Aku mohon jangan bersembunyi dariku. Aku tidak akan berhenti mencarimu sampai aku menemukanmu atau sampai kau menemuiku. Aku tidak akan menuruti perintahmu lagi.”
Zia yang menerimanya hanya tersenyum karena ternyata adiknya itu masih saja suka mengancamnya jika permintaannya tidak dituruti, “Jangan jadi adik seperti itu. Kakak yakin kau pasti akan tetap menuruti perintah kakak. Kau itu adik kakak yang paling baik”
__ADS_1
“Gak, aku bukan lagi adik kakak yang baik, sekarang aku tidak akan menuruti lagi permintaanmu. Kak, aku mohon tolong temuilah aku. Aku sangat merindukanmu kak. Please!!”
Rasti yang berada disamping Zia pun segera bicara, “Temuilah dia kak. Aku akan menunggumu dimobil.” Ucap Rasti segera berlalu menuju parkiran mobil dimana sudah ada Hanifa dan Ammar disana.
Zia yang ditinggalkan pun berpikir sambil menatap adiknya yang berada sekitar 40 meter darinya.
“Kak, aku mohon temui aku.” Pesan Zea.
Zia pun akhirnya berjalan menemui adiknya itu sementara Zea melihat ke sekelilingnya begitu dia melihat kakaknya dia segera berlari, “Kakak! Aku sangat merindukanmu.” Peluknya.
Zia pun hanya meneteskan airmatanya sambil membalas pelukan adiknya itu.
“Dek, apa kau ingin membunuh kakak?” ucap Zia karena Zea mengeratkan pelukannya.
“Ah, maaf kak! Aku hanya,,” ucap Zea melepaskan pelukannya.
“Kakak tahu.” Ucap Zia menghapus airmata dipipi adiknya itu.
“Kak, ayo kita kesana? Aku tidak ingin kau lelah!” ucap Zea mengajak kakaknya untuk duduk.
“Kak, aku pikir kau tidak akan datang. Ohiya, jubahmu aku yang mengambilnya ada di bagasi.” Ucap Zea.
“Sudahlah, simpanlah itu untukmu.” Ucap Zia.
“Kak, kau ada dimana? Kau tinggal dimana? Apa kau baik-baik saja selama ini? Kau tidak melakukan yang tidak-tidak kan? Apa kau menggugurkan kandunganmu?” tanya Zea segera meraih tangan Zia untuk memeriksa denyut nadinya.
“Bagaimana? Apa kakak menggugurkannya?” tanya Zia kemudian setelah melihat adiknya itu selesai memeriksa denyut nadinya.
“Kak, apa kau hidup dengan baik? Mama dan Papa sangat merindukanmu. Kita akan pergi menemui mereka. Ayo kita pulang kak.” Ucap Zea.
“Maafkan kakak dek! Kakak tidak bisa pulang. Kau harus menjaga mama dan papa dengan baik dan kau juga harus merahasiakan pertemuan ini. Berjanjilah untuk tidak mengatakan apapun pada mereka.” Ucap Zia.
“Tapi kak? Setidaknya temuilah mereka. Mama sering sakit karena memikirkanmu kak. Papa juga begitu. Apa kau tidak merindukan mereka?” ucap Zea.
“Kakak sangat merindukan mereka tapi ini semua kakak lakukan untuk kebaikan semua orang. Jadi kakak mohon dek. Kakak janji akan selalu mengabarimu. Tapi kau harus bisa membujuk mama dan papa untuk minum obat mereka.” Ucap Zia.
Sementara disisi lain Rasti yang melihat keakraban dari dua saudara itu merasa sangat iri. Yah, dia tidak langsung ke mobil.
Zea pun dengan terpaksa akhirnya menuruti permintaan Zia tapi dengan syarat Zia harus selalu menghubunginya. Mereka pun mengambil beberapa foto.
*
*
Happy reading guys !!😊
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻
Mohon maaf jika ada typo,,🙏🏻