
Saat ini Lian menjemput Zea untuk melakukan fitting untuk pernikahan mereka.
“Kenapa memandangku seperti itu kak. Ayo fokus menyetir. Aku tidak ingin mati muda.” Ucap Zea yang melihat Lian hanya menatapnya.
“Hahah,, baiklah aku akan fokus menyetir tapi bagaimana dong aku tidak bisa memalingkan wajahku darimu.” Goda Lian.
“Ah dasar tukang gombal.” Ucap Zea.
“Gak sayang itu gak gombal. Beneran kamu sangat cantik.” Ucap Lian lagi.
“Kak, hentikan bualanmu itu dan fokus menyetir.” Ucap Zea.
Lian pun tersenyum lalu kembali fokus menyetir karena tidak ingin ada sesuatu yang terjadi.
Kurang lebih 30 menit akhirnya mereka tiba di butik yang menjadi tempat fitting untuk gaun pernikahan mereka yang sebelumnya juga menjadi tempat fitting untuk pertunangan mereka. Tapi bedanya saat ini mereka datang bersama sedang untuk pertunangan mereka datang sendiri-sendiri.
__ADS_1
Mereka pun segera masuk dan di sambut oleh pelayan butik, “Selamat datan tuan Lian dan nona Zea. Ayo masuk!!” ucap pelayan itu.
Lian dan Zea pun mengikuti pelayan butik itu menuju ruangan untuk mereka bisa melakukan fitting. Pelayan butik pun segera membawakan beberapa gaun dan tuxedo, “Tuan, Nona silahkan di coba.” Ucap pelayan itu.
“Sayang, kamu dulu ayo sana.” Ucap Lian kepada Zea.
Zea pun menurut lalu segera masuk untuk mencoba gaun itu, tidak lama kemudian dia keluar, “Bagaimana kak?” tanya Zea meminta pendapat Lian.
Lian pun menatap Zea dan tanpa berkedip dia lagi-lagi terpesona dengan tunangannya itu, “Kak, bagaimana?” ulang Zea karena tidak mendapat jawaban.
Zea pun mengangguk lalu segera masuk ke ruang ganti untuk mencoba gaun yang lain total 5 gaun yang di coba oleh Zea dan pilihan mereka jatuh pada gaun yang ketiga yang terlihat elegan tapi tetap mewah.
Setelah itu Zea pun membantu Lian untuk memilih tuxedo yang akan dia gunakan dan pilihan mereka jatuh pada tuxedo warna putih gading senada dengan gaun yang di pilih Zea.
Setelah dari sana mereka menuju toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan mereka.
__ADS_1
***
Hari cepat berlalu tidak terasa kini tinggal 3 hari lagi pernikahan Zea dan Rasti akan di laksanakan.
“Kak, aku deg-degan.” Ucap Zea bicara dengan sang kakak.
Zia pun tersenyum, “I-itu semua memang di rasakan oleh setiap pasangan yang akan menikah dek. Kakak masih tidak menyangka kau akan segera menikah dan menjadi istri orang lain yang sudah pasti kita akan jarang ketemu.” Ucap Zia.
“Ahhh kakak jangan bicara begitu, aku janji akan selalu menemui kakak.” Ucap Zea.
“Hahah,, gak apa-apa sayang. Kakak mengerti, ingat dek saat kau menikah nanti dan sudah memiliki suami kau harus menyayangi keluarga suamimu bukan hanya suamimu saja. Ingat selalu turuti kata-kata suami tapi jika perkataannya menurutmu sudah tidak masuk akal maka tegur dia dengan lembut dan beri pengertian. Ingat juga pernikahan itu ikatan yang sakral jadi jangan jika ada masalah meminta perpisahan. Kamu kan tahu perceraian adalah hal yang paling di benci oleh Allah.” Ucap Zia menasehati.
Zea pun menangguk, “Aku akan selalu mengingat ucapan kakak. Aku janji aku akan menyayangi keluarga suamiku seperti menyayangi keluarga kita.” Ucap Zea.
“I-itu baru adikku.” Ucap Zia memeluk adiknya itu. Akhirnya mereka berpelukan ria.
__ADS_1