Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 155


__ADS_3

Rasti pun mengangguk, “Bisakah kita menikah setelah Zea operasi?” tanya Rasti hati-hati.


Faris pun hanya terdiam mendengar perkataan Rasti, “A-aku hanya ingin memastikan adikku baik-baik saja sebelum aku melangsungkan pernikahan.” Lanjut Rasti yang melihat sedikit kekecewaan di wajah Faris.


Faris pun segera menatap Rasti lalu tersenyum, “Kita akan lakukan itu.” jawabnya.


Lalu mereka menghabiskan waktu kebersamaan mereka itu di taman.


***


Setelah lelah bermain di taman itu mereka segera kembali ke apartemen Rasti begitu menunjukkan waktu sholat ashar. Sesampainya di apartemen di sana sudah ada Shani dan bodyguard yang menunggu mereka.


“Tuan, Nona!” sapa mereka.


Faris dan Rasti pun hanya mengangguk, “Apa yang sudah saya perintahkan kepada kalian sudah selesai?” tanya Faris.


“Sudah tuan, semuanya sudah siap.” Jawab Shani.


Faris pun tersenyum sementara Rasti bertanya-tanya, “Apa yang kalian bicarakan?” tanya Rasti.

__ADS_1


“Kita akan pulang malam ini. Pesawat sudah siap dan barang-barangmu sudah Shani kemas.” Jawab Faris.


“Malam ini?” tanya Rasti tidak percaya.


“Kenapa? Apa kau belum ingin pulang?” tanya Faris balik.


“Bu-bukan begitu hanya saja ahh terserahlah. Kalau begitu kapan kita balik?” tanya Rasti pasrah.


Faris pun tersenyum, “Kapanpun kau siap. Jika kau ingin kita pulangnya jam berapa.” Ucap Faris.


“Tunggu dulu! Jangan katakan kakak membawa jet pribadi menjemputku?” tebak Rasti.


“Perkataan macam apa itu. Aku tidak menilai seseorang karena kekayaannya. Aku hanya tidak menyangka papi dan kak Pras memberikan izinnya.” Ucap Rasti.


“Hahah,, tentu saja mereka memberikan izinnya karena aku meminjamnya untuk menjemputmu.” Ucap Faris tertawa.


“Sudahlah kalau begitu kita berangkat sesudah isya saja. Aku masih harus membeli oleh-oleh untuk ku bawa.” Ucap Rasti lalu segera masuk ke dalam apartemennya.


“Kak, apa ini?” tanya Rasti kaget melihat begitu banyak barang di apartemennya.

__ADS_1


“Oleh-oleh untuk keluarga kita.” Jawab Faris enteng lalu duduk di sofa apartemen itu.


“Ouh God. Berapa ratus juta yang kau habiskan untuk membeli oleh-oleh sebanyak ini dan kapan kau membelinya?” tanya Rasti.


Faris hanya diam saja sembari mengangkat bahunya, “Ouh aku mengerti pasti mereka yang membelinya.” Tunjuk Rasti kepada para bodyguard.


“Cepat katakan berapa ratus juta yang kalian habiskan untuk membeli ini?” tanya Rasti menatap tajam para bodyguard.


“Sayang kau menakuti mereka. Jangan memandang mereka seperti itu. Aku yang meminta mereka membeli ini dan untuk berapa banyak uang yang aku habiskan gak usahlah. Lagian ini kan untuk keluarga kita.” Ucap Faris.


“Aku tahu hanya saja aku merasa ini terlalu berlebihan kak. Kau pasti menghabiskan tabunganmu untuk membeli ini. Aku tahu kau pengusaha tapi kan uang juga--” ucap Rasti.


“Aku mengerti. Jika kau ingin tahu lihatlah!” ucap Faris menyerahkan ponselnya di mana di sana terdapat laporan pengeluarannya hari ini.


Rasti pun menerima ponsel Faris, “Apa aku bisa melihatnya?” izin Rasti walau bagaimanapun ponsel adalah privasi.


Faris tersenyum, “Kenapa bertanya sayang. Kau berhak untuk ponselku bahkan semua milikku! Jadi lihatlah! Pengeluaranku tidak perlu di rahasiakan darimu kan? Karena kau adalah calon istriku.” Ucap Faris.


Rasti pun sedikit terharu dengan ucapan Faris itu lalu segera membuka ponsel Faris dan melihatnya dan seperti dugaannya bahwa Faris menghabiskan ratus juta untuk membeli oleh-oleh sebanyak itu.

__ADS_1


Setelah selesai memeriksa itu dia segera mengembalikan ponsel Faris, “Sudah?” tanya Faris.


__ADS_2