
Seminggu berlalu, kini Pras dan Zia sudah dalam perjalanan pulang. Hubungan keduanya pun semakin romantis, sudah tidak ada kecanggungan lagi di antara kedua manusia itu. Baik Zia maupun Pras sudah tidak malu lagi menunjukkan cinta mereka.
“Baby, apa kamu lelah?” tanya Pras.
“Gak kok.” jawab Zia.
“Lebih baik kamu istirahat.” Ucap Pras sambil menyandarkan kepala Zia dipundaknya.
“Ouh, Zea sepertinya kita memang salah ikut nebeng di pesawat ini. Kita tidak di anggap. Apa kita tidak terlihat?” tanya Rasti menyindir kakaknya.
“Sepertinya memang begitu kak.” Jawab Zea.
Yah Zea dan Rasti ikut pesawat mereka.
“Sstt, Jangan ribut!” ucap Pras.
Rasti dan Zea hanya menghela nafas mereka melihat itu.
***
Kurang lebih 17 jam, akhirnya mereka tiba.
“Ouh, syukurlah kita sampai pagi begini.” Ucap Rasti begitu keluar dari pesawat.
“Akhirnya kita kembali lagi kak.” Ucap Zea ikut keluar.
“Baby, apa kamu mabuk?” tanya Pras sambil menggandeng Zia.
“Aku gak apa-apa kak.” Jawab Zia.
Rasti dan Zea hanya bisa menghela nafas melihat itu karena selama seminggu di Swiss mereka melihat bagaimana posesifnya Pras kepada Zia.
“Kakak ipar, ayo kau ikut kami.” Ajak Rasti.
Zia pun mengikuti kedua adiknya itu setelah di izinkan oleh Pras. Pras pun mengizinkannya karena dia harus mengurus administrasi pesawat.
***
“Sayang, kalian sudah kembali?” peluk Celine begitu melihat Zia.
“Iya mih.” Jawab Zia membalas pelukan Celine.
Setelah pelukannya dilepaskan, Zia segera mendekati kedua anaknya yang begitu dirindukannya.
“Sayang, apa kalian baik-baik disini?” tanya Zia sambil mencium kedua anaknya yang saat ini dalam gendongan kedua orang tuanya. Si kembar hanya menanggapinya dengan tertawa, mungkin mereka juga mengenali aroma ibu mereka.
“Baby, ayo bersih-bersih dulu.” Ajak Pras.
Zia pun segera mengikuti suaminya.
“Bagaimana perjalanan kalian nak?” tanya Alya.
“Sangat menyenangkan Ma.” Jawab Zea.
Mereka pun bercengkrama disana, setelah cukup lama Zea dan Rasti pun pergi membersihkan tubuh mereka karena ingin memeluk si kembar.
***
__ADS_1
Tiga hari kemudian, kini Zia dan Pras sudah di rumah mereka kembali. Pras saat ini sedang menemani Zia menjaga si kembar karena berhubung hari ini hari libur.
“Ouh, anak ayah sangat cantik.” Ucap Pras sambil menggendong Zayyah.
Tiba-tiba Zayyan menangis, “Ouh, apa anak ayah yang ganteng ini sedang cemburu?” Ucap Pras segera mencium Zayyan.
“Makanya kak, gendong keduanya. Sepertinya sifat cemburu Zayyan menurun darimu kak.” Ucap Zia segera mengambil Zayyah dari gendongan Pras.
“Iya dong, like father like son. Bukan begitu boy?” ucap Pras segera menggendong putranya.
Mereka pun menghabiskan hari mereka dengan kedua anak mereka itu. Zia tetap belum memakai jasa baby sitter. Dia juga belum melamar kerja karena dia ingin memastikan kedua anaknya tumbuh sehat, minimal 6 bulan. Tentu saja Pras menyetujuinya karena walau Zia tidak bekerja pun dia bisa membiayai kebutuhan mereka.
Pras juga semakin mencintai Zia karena istrinya itu sangat telaten dalam mengurus kedua buah hati mereka yang saat ini sudah genap berusia tiga bulan. Semakin hari rasa cintanya semakin bertambah.
***
Malam harinya, setelah si kembar tidur dengan di temani oleh bi Ratna. Zia pun melihat-lihat lemari suaminya.
“Kak, apa ini?” tanya Zia sambil mengeluarkan sebuah kotak kayu yang sangat besar berbentuk seperti bingkai dan terlihat sangat mewah karena ada ukirannya.
“Apa yang kamu lakukan baby, itu sangat berat.” Ucap Pras segera mengambil barang itu dari tangan Zia.
“Apa ini kak? Eeh,, bukankah ini terlihat seperti seprai?” tanya Zia setelah mengamati apa yang ada dalam kotak bingkai itu.
Pras pun hanya tersenyum dan membawa Zia ke ranjang mereka, “Apa kamu mau tahu ini apa?” tanya Pras.
Zia pun hanya mengangguk, “Kamu benar, ini seprai seperti dugaanmu. Tapi ini sangat spesial.” Ucap Pras.
“Spesial? Apa itu sangat mahal?” tanya Zia.
Pras pun lagi-lagi hanya tersenyum, “Yah, ini sangat mahal. Bahkan uang sebanyak apapun tidak bisa membelinya.” Ucap Pras.
“Apa kamu ingin melihatnya?” tanya Pras.
Zia pun hanya mengangguk, “Emang boleh?” tanya Zia dengan mata berbinar.
Cup
Pras pun mengecup bibir Zia sekilas, “Tentu saja baby, aku sudah mengambil bayarannya.” Ucap Pras segera membuka kotak itu.
Zia pun hanya tersenyum memandang suaminya itu, “Ouh, jadi bisa dibuka?” tanya Zia heran. Pras pun mengeluarkan seprai itu dari kotak dan memberikannya kepada Zia.
Zia pun menerimanya dan membuka seprai itu dengan hati-hati. Tiba-tiba dia melihat ada noda yang terlihat seperti noda darah tapi sudah kering dalam seprai putih itu, “Apa ini?” tanya Zia memandang suaminya begitu dia memahaminya.
Pras tidak menjawabnya tapi langsung memeluk istrinya itu, “Maaf!” bisik Pras.
Zia pun melepaskan pelukan Pras dan menatap mata suaminya yang kini sudah berkaca-kaca, “Apa ini seprai hotel? Apa kakak membawanya? Apa itu noda darahku?” tanya Zia.
Pras pun hanya mengangguk. Zia yang melihat itu langsung memeluk suaminya itu erat, “Kenapa kakak membawanya?” tanya Zia.
“Karena itu adalah darah kesucian seorang gadis yang telah kutiduri, selain itu juga agar aku mengingat bahwa aku telah meniduri seorang gadis yang sangat menjaga kesuciannya.” Jawab Pras.
“Apa kakak tidak dimarahi membawa seprai hotel?” tanya Zia sambil tertawa.
“Aku membelinya.” Jawab Pras.
“Ouh May God, kakak membeli seprai bekas hanya karena itu ada darah kesucian seorang gadis yang tidak kakak kenali?” tanya Zia menatap suaminya.
__ADS_1
“Katakanlah aku gila baby, tapi aku memang gila saat itu karena saat aku terbangun aku tidak menemukan siapa-siapa dan tiba-tiba aku melihat noda darah. Aku gila mencarimu saat itu. Tapi sayang aku tetap sulit menemukanmu.” Ucap Pras menyesal.
Zia pun menangkup kedua pipi Pras dan memandang kedua manik mata suaminya, “Maaf! Aku pergi meninggalkan kakak saat itu, karena saat itu yang ada dalam pikiranku bagaimana aku keluar dari tempat itu.” Ucap Zia.
“Lalu kenapa kau tidak mencariku?” tanya Pras.
“Bagaimana Zia mencari kakak. Zia tidak melihat wajah kakak sedikitpun.” Jawab Zia.
“Kenapa kau tidak melihat siapa yang telah memaksamu?” tanya Pras.
“Seperti yang Zia katakan tadi, pikiran Zia saat itu sangat kacau.” Jawab Zia.
“Maaf! Kau pasti melalui hari yang sangat berat karenaku. Maaf baby, maafkan aku.” Ucap Pras sambil memeluk erat Zia.
“Aku sudah memaafkanmu kak, jangan pikirkan apapun.” Ucap Zia membalas pelukan suaminya.
“Eeh,, masih ada satu lagi baby. Tunggu sebentar!” ucap Pras melepaskan pelukannya dan pergi ke walk in closet dan mengambil sesuatu dari saku jasnya.
“Ini milikmu kan?” tanya Pras sambil menunjukkan salah satu anting.
Zia pun menerimanya dan melihatnya, “Jadi kakak menemukannya juga?” tanya Zia.
Pras pun hanya mengangguk, Zia pun segera berdiri dan mengambil dompetnya lalu mengambil salah satu anting dari sana, “Akhirnya kalian sepasang lagi.” Ucap Zia.
“Kenapa kakak menyimpan anting ini?” tanya Zia.
“Karena aku tidak bisa tidur tanpa melihat anting itu. Aku juga sangat stress karena tidak bisa mengingatmu. Aku hanya mengingat warna hijabmu.” Ucap Pras.
“Emang apa warna hijabku?” tanya Zia.
“Pink! Dan asal kau tahu saja saat aku melihatmu memakai hijab pink di vila saat itu aku berharap bahwa kau adalah gadis itu dan ternyata benar.” ucap Pras.
“Sebenarnya Zia mengalami trauma memakai hijab pink ataupun pakaian yang berwarna pink. Tapi saat Zia memakainya kembali saat itu entah kenapa Zia merasa nyaman padahal hijab itu adalah hijab yang Zia kenakan malam itu karena Zia tidak membawa satupun pakaian atau hijab yang berwarna pink hanya itu satu-satunya.” Jawab Zia mengambil hijab itu lagi.
Pras pun hanya diam karena dia tidak tau bahwa ternyata gadis itu mengalami trauma, “Ini adalah hijab kesukaan Zia. Dia adalah favorit Zia tapi entah kenapa kejadian itu membuat Zia membencinya.” Ucap Zia jujur.
“Maaf, atas semuanya. Maaf atas trauma yang kau alami.” Ucap Pras.
“Sudahlah, itu adalah bagian hidup Zia. Zia sudah berdamai dengan itu. Zia hanya ingin menjalani kehidupan saat ini dengan bahagia.” Ucap Zia.
“Mari kita lakukan itu.” Ucap Pras. Zia pun hanya tersenyum.
“Kak, lalu bagaimana dengan seprai itu?” tanya Zia.
“Biarkan itu tetap ditempatnya. Itu adalah kenang-kenangan. Jangan pernah mencucinya. Itu adalah hartaku” Ucap Pras.
Zia pun hanya tertawa mendengar perkataan suaminya itu, “Baiklah terserah kakak.” Ucap Zia.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊
Mohon maaf jika ada typo guys !!🙏🏻😉
__ADS_1
Mohon mampir di novel author yang berjudul “Di Kala Cinta Menyapa”. Tinggalkan jejak ya, author tunggu. Heheheheh😁😉🙏🏻