
“Terima kasih!”
“Untuk apa?” tanya Rasti.
“Untuk semuanya, terima kasih sudah datang ke sini lagi walau kau lelah, terima kasih sudah meminta Lian ke sini untuk menemaniku agar tidak kesepian dan terima kasih sudah membelikan aku makanan ini.” ucap Faris.
“Ouh itu, tapi aku gak menelpon kak Lian kok.” jawab Rasti.
Faris pun hanya tersenyum karena dia tahu Rasti tidak akan mengaku, “Kenapa anda tersenyum?” tanya Rasti.
Faris menggeleng, “Gak ada kok.” jawabnya.
“Ya sudah karena di sini ada Reno saya izin pulang dulu.” Izin Rasti.
Faris yang sedang makan terdiam, “Kenapa kau pulang?” tanya Faris.
“Apa saya gak bisa pulang? Bukankah di sini sudah ada asisten anda menjaga.” Ucap Rasti.
“Tapi aku ingin kau yang menjagaku. Tidak bisakah?” tanya Faris sambil berusaha menghabiskan makanan yang di bawa Rasti.
Rasti pun terdiam, “Maaf saya gak bisa untuk hari ini. Saya harus pulang. Jika sempat saya akan ke sini lagi tapi tidak janji.” ucap Rasti setelah berpikir.
__ADS_1
“Hmm,, baiklah. Hati-hati di jalan dan jangan lupa makan serta istirahat. Saya gak mau kau sakit juga.” Ucap Faris.
Rasti pun mengangguk lalu segera mengambil tasnya dan segera keluar setelah berpamitan kepada Faris dan Reno.
Faris yang melihat Rasti pergi segera menggelengkan kepalanya saat Reno menyuapinya, “Aku sudah kenyang, kau istirahatlah!” ucap Faris.
Reno pun hanya menurut, “Ren, apa aku salah mengharapkan dia menjagaku?” tanya Faris setelah diam beberapa saat.
Reno hanya diam karena tidak tahu harus menjawab apa, “Ah sudahlah kau pasti tidak punya solusinya.” Ucap Faris berikutnya.
***
Setelah satu jam dia membersihkan diri dia bahkan nanti Celine mengetuk pintu, “Ra!” panggil Celine sambil mengetuk pintu kamar mandi putrinya itu.
“Iya Mih sebentar.” Jawab Rasti dari dalam.
“Kenapa Mih?” tanya Rasti keluar dengan batrobe-nya.
“Kakakmu mau bicara.” Ucap Celine sambil menyerahkan ponsel kepada sang putri.
Rasti pun menerima ponsel maminya itu, “Halo, iya kenapa kak?” tanya Rasti.
__ADS_1
“Kenapa kamu gak bilang Faris kecelakaan saat kita ketemu tadi?” tanya Pras dari seberang.
“Kak tadi kan kita sedang dalam pekerjaan dan itu juga bukan urusan penting karena tuan Faris juga sudah baik-baik saja.” Ucap Rasti.
“Gak penting kamu bilang? Sejak kapan kau menganggap nyawa seseorang gak penting? Pokoknya kakak gak mau tahu kamu harus memastikan Faris sembuh sampai sedia kala. Kamu harus merawatnya sampai dia sembuh.” Ucap Pras.
“Gak bisa gitu dong kak, aku juga punya beberapa urusan di kantor.” Tolak Rasti.
“Apa kamu pikir kakak gak bisa menanganinya. Ingat kau harus bertanggung jawab atas Faris karena dia mengalami kecelakaan setelah mengantarmu.” Ucap Pras.
“Tapi kak?” tolak Rasti lagi.
“Gak ada tapi-tapian, kakak gak menerima penolakan. Ingat dek, kakak tahu kau nggak suka urusanmu di kerjakan orang lain tapi apa kau tidak mempercayai kakakmu sendiri dan ingat kakak bukan orang lain. Kakak tidak mungkin membuat perusahaan mami merugi.” Ucap Pras.
“Kamu hanya harus merawatnya sampai sembuh saja setelah itu kamu bisa mengambil alih kembali semuanya.” Lanjut Pras.
“Ahh,, baiklah aku memang tidak pernah bisa menang melawanmu kak.” Jawab Rasti pasrah.
“Ingat dek kakak menyayangimu. Kakak melakukan ini demi kebaikanmu.” Ucap Pras.
“Ya ya baiklah terserah kau saja kak.” Jawab Rasti.
__ADS_1