
Rasti pun mengangguk, “Lain kali jangan sebanyak ini kak! Kasihan uangmu!” ucap Rasti. Faris pun tersenyum lalu mengangguk padahal menurutnya uang itu tidaklah seberapa yang terpenting Rasti bersedia pulang bersamanya.
“Jadi kita berangkatnya jam?” tanya Faris mengalihkan pembicaraan.
“Tetap sudah isya.” Jawab Rasti.
“Baiklah tuan putri karena sudah di putuskan seperti itu maka lebih baik ayo kita segera melakukan sholat ashar dulu sebelum waktunya habis.” Ucap Faris lalu berdiri.
Sekitar 30 menit lebih akhirnya Rasti dan Faris selesai sholat. Mereka sholat sendiri-sendiri karena memang belum mahram.
***
Singkat cerita, kini Faris dan Rasti serta Shani dan para bodyguard sudah ada di dalam pesawat untuk perjalanan kembali ke tanah air. Seperti jet pribadi pada umumnya tentu saja fasilitasnya terjamin hingga kini Rasti sedang tidur-tiduran di dalam pesawat itu.
__ADS_1
Dalam diamnya dia memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya lalu dia pun segera memperbaiki posisinya dan bangun lalu menatap Faris yang berada di bangku yang bersebrangan dengannya yang juga tengah menutup matanya, “Kak Faris!” panggil Rasti dengan suara kecil karena di sisi lain dia ingin membangunkan Faris untuk mendiskusikan pikiran yang mengganggunya tapi di sisi lain dia juga tidak ingin melakukannya karena dia tahu pasti pria itu sangatlah lelah.
Tapi siapa sangka walau dengan suara kecil dan hanya dengan satu kali panggilan Faris membuka matanya dan menatap Rasti yang juga menatapnya, “Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?” tanya Faris.
“Kakak gak tidur?” bukannya menjawab Rasti justru bertanya.
“Kakak tidur hanya saja kau memanggil jadi terbangun. Ada apa?” ucap Faris.
“Maaf sudah mengganggu tidurmu. Ahh lebih baik kakak tidur saja lagian gak penting kok apa yang akan aku bicarakan.” Ucap Rasti kembali memandang ke depan.
“Gak jadi kak.” Jawab Rasti.
“Sayang!” panggil Faris dengan nada suara rendah.
__ADS_1
“Ahh baiklah aku akan mengatakannya. Ehmmm,, kita menikah siri saja dulu lalu setelah nanti Zea operasi kita akan melakukan resepsi.” Ucap Rasti menatap Faris.
Faris yang mendengarnya tentu saja kaget, “Kenapa tiba-tiba mengatakan ini?” tanya Faris.
“Aku tahu kakak kecewa dengan permintaanku yang ingin menikah nanti setelah Zea selesai operasi dan sembuh dulu tapi kakak tidak mengatakannya. Selain itu juga pernikahan kita seharusnya dilakukan sebulan yang lalu tapi tertunda karena kejadian itu dan keputusanku yang ingin pergi berlibur.” Ucap Rasti.
Faris pun tersenyum, “Jadi hanya karena itu ide ini muncul di kepalamu?” tanya Faris lalu Rasti pun segera mengangguk.
“Hahahh,, kau ini aku memang kecewa tadi tapi setelah ku pikir kembali memang tidak baik juga mengadakan pesta sementara anggota keluarga kita yang lain masih dalam musibah. Aku juga ingin sahabatku datang dalam pernikahanku. Jadi memang sebaiknya kita melakukan pernikahan setelah Zea operasi dan di nyatakan sembuh dulu karena operasinya ini mempunyai resiko tinggi walau Lian sudah berusaha untuk mencegah hal itu.” ucap Faris.
“Tapi untuk menikah siri dulu sepertinya ini bukanlah hal yang mudah walau tidak aku pungkiri aku ingin secepatnya kau menjadi istriku dan aku melindungimu.” Lanjut Faris.
“Jadi bagaimana? Kita menikah siri saja kak, aku tidak ingin ada sesuatu lagi yang terjadi nanti. Selain itu juga kak Zia dan kak Pras menikah siri dulu, kenapa aku tidak mengikuti jejak mereka.” Ucap Rasti tersenyum.
__ADS_1
Faris pun tersenyum, “Kita bicarakan lagi ini setelah kita tiba. Kita bicarakan dengan keluarga kita.” Ucap Faris.
Rasti pun mengangguk lalu akhirnya mereka pun kembali istirahat menunggu pesawat itu mendarat nanti yang masih beberapa jam lagi. Berbeda dengan sebelumnya Rasti yang tidak bisa tidur kini Faris yang tidak bisa tidur karena memikirkan ajakan Rasti itu.