Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 123


__ADS_3

Setelah lamaran diterima para orang tua membahas langkah apa yang akan di lakukan selanjutnya. Setelah di temukan kesepakatan maka pertunangan mereka akan di adakan dua minggu lagi.


“Apa itu tidak kelamaan?” tanya Faris.


Para orang tua pun tertawa mendengar protes dari Faris sementara Rasti dia hanya tersenyum malu, “Hey boy pertunangan itu butuh persiapan yang banyak.” Ucap Andrew menatap calon menantunya itu.


“Emm,, jika begitu kenapa tidak langsung pernikahan saja kenapa harus melakukan pertunangan terlebih dahulu. Bukankah kami sudah siap untuk membina pernikahan?” tanya Faris lagi.


“Nak sabarlah sedikit. Kami tahu kau sudah tidak sabar memperistri Rasti tapi setidaknya jaga malu lah sedikit boy ingat ada di depan calon mertua. Selain itu juga belum tentu Rasti ingin segera melakukan pernikahan.” Timpal Alice.


Andrew dan Celine hanya tertawa mendengar protes dari calon menantunya, “Ra, bagaimana menurutmu? Apa kalian melakukan pertunangan dulu atau langsung ke pernikahan saja?” tanya Celine menatap sang putri.


Rasti yang di tanyai dan sadar bahwa kelima pasang mata yang menatapnya menanti jawabannya, “Emm,, Rasti ikut keputusan kalian saja. Gak masalah buat Rasti jika harus melakukan pertunangan dulu atau langsung pernikahan.” Faris pun tersenyum mendengar jawaban dari gadisnya itu.

__ADS_1


“Hmm,, baiklah jika begitu kita tidak lagi melakukan pertunangan tapi langsung pernikahan tapi akan dilakukan tiga minggu lagi karena pernikahan butuh banyak persiapan. Waktu tiga minggu saja sepertinya kita harus ekstra kerja keras mempersiapkannya.” Ucap Andrew.


“Bagaimana nak apa kau masih ingin protes lagi?” goda Gifari pada sang putra.


Faris pun tersenyum, “Terimah kasih pih!” Ucap Faris. Andrew pun mengangguk tersenyum.


“Dasar tidak sabaran!” goda Alice berbisik pada sang putra tapi masih bisa di dengar oleh semua orang di ruangan itu.


“Mih, aku hanya gak mau ada sesuatu yang terjadi nanti.” Ucap Faris mengelak.


“Ahh papi memang paling mengerti aku.” Jawab Faris tersenyum.


Para orang tua pun tertawa sementara Rasti hanya tersenyum malu mendengar pengakuan dari calon suaminya itu.

__ADS_1


Setelah semuanya di putuskan mereka pun segera makan siang bersama. Setelah itu Alice dan Gifari pun meminta izin untuk kembali sementara Faris dan Rasti pergi jalan bersama.


***


“Sayang, terima kasih sudah menerima lamaranku. Terima kasih juga sudah mencintaiku.” Ucap Faris saat mereka sudah di mobil berdua.


Rasti hanya tersenyum, “Tau gak sayang aku itu sangat gugup tadi saat menunggu kedatanganmu dari kantor. Aku takut kau menolak lamaranku.” Curhat Faris.


“Tapi aku sangat bahagia saat kau menerimanya apalagi saat kau mengatakan bahwa kau juga mencintaiku. Ingin rasanya aku lompat-lompat di sana tapi aku malu dengan Papi Andrew dan Mami Celine. Mau di taruh di mana wajahku ini nanti jika aku melakukan itu di depan calon mertua, bisa-bisanya nanti mereka ilfiil lagi denganku dan jadinya mereka tidak jadi merestuiku menikahi putri cantiknya.” Lanjut Faris tiada henti.


Rasti lagi-lagi tersenyum mendengar pengakuan Faris, “Pikirnya terlalu kejauhan.” Ucap Rasti.


“Emm,, kok gitu sih sayang kan aku takut. Aku gak mau gak jadi nikah denganmu. Aku sangat mencintaimu.” Ucap Faris dengan bibir cemberut.

__ADS_1


“Hahahha,, kakak lucu deh. Tapi aku ingin tahu bagaimana jika aku menolak lamaran kakak? Apa kakak akan menyerah?” tanya Rasti penasaran.


__ADS_2