
“Bagaimana dokter?” tanya Lian begitu melihat dokter selesai memeriksa dan melepas EKG serta oksigen yang terpasang dalam tubuh Zea.
Dokter itu tersenyum, “Sepertinya stimulasi yang diberikan oleh suster Zia berhasil. Tidak perlu khawatir semuanya sudah normal, tinggal pemulihan saja. Selamat suster Zia kami mengakui rencana anda ini walau kami tadi sudah was-was dengan kemungkinan buruk dari rencana anda.” Ucap dokter itu.
Zia pun hanya mengangguk tersenyum, “Terima kasih kembali dokter karena walau dengan berat hati kalian sudah menyetujui rencana gila saya ini.” ucap Zia.
Para dokter pun hanya mengangguk lalu segera keluar dari sana, sementara Lian yang mendengar hal itu kini memeluk erat sang istri dan menciumi seluruh wajahnya tidak memedulikan ada keluarga dan para dokter serta perawat di sana, “Boo ja-jangan e-erat meluknya. Sesak!” ucap Zea lemah.
“Maaf sayang! Aku sangat bahagia. Maaf menyakitimu. Mana yang sakit?” tanya Lian melepaskan pelukannya dan memeriksa Zea.
“Boo aku baik-baik saja.” Jawab Zea lemah. Lian pun mengangguk lalu memeluk kembali Zea tapi tidak seerat yang tadi.
Pras, Zia, Rasti dan Faris yang melihat itu pun hanya tersenyum, mereka tahu bagaimana sedihnya Lian seminggu ini bahkan pria itu hanya makan jika dipaksa saja karena dia yang tidak ingin meninggalkan Zea sedikitpun. Urusan perusahaannya saja di kontrol oleh Pras dan Faris dengan Alan yang menjalankannya.
***
Kini seluruh keluarga sudah berkumpul di ruang perawatan Zea, untung saja ruangan itu besar hingga seluruh keluarga muat di sana. Zea sedang di suapi oleh Alya, “Mama pikir kau tidak akan kembali.” Ucap Alya.
__ADS_1
“Mama maaf sudah membuatmu khawatir.” Ucap Zea tersenyum.
“Gak apa-apa mama sudah memaafkanmu.” Ucap Alya kembali menyuapi Zea.
Tiba-tiba, “Zea! Cucuku! Akhirnya kamu sadar nak!” ucap George masuk dan segera mendekati ranjang Zea.
“Kakek! kau datang?” sambut Zea.
“Tentu saja aku datang. Mana mungkin aku gak datang jika mendengarmu sudah sadar dan aku membenci mereka karena melarangmu menjengukmu di sini.” Ucap George memandang Pras, Zia, Rasti dan Faris.
“Kebaikan apanya? Kalian itu hanya melakukan itu agar aku tidak bisa melihat cucuku.” Balas George.
“Boy, sepertinya kau bukan cucunya lagi.” Goda Faris kepada Lian.
“Yah aku memang bukan cucunya semenjak aku menikah dengan Zea.” Balas Lian mengakui hingga membuat seluruh orang di sana tertawa.
“Jadi boo apa kau cemburu padaku?” tanya Zea.
__ADS_1
“Ahh bukan begitu sayang, a-aku hanya--” ucap Lian menggaruk tengkuknya dan menatap Faris tajam.
“Kenapa menatap suamiku seperti itu kak Lian. Suamiku gak salah kau sendiri yang mengatakan itu.” bela Rasti.
“Ahh baiklah aku mengaku kalah!” ucap Lian pasrah lagi-lagi membuat mereka tertawa.
“Sudah-sudah yang penting kau sudah sadar. Kakek sangat senang untukmu! Ohiya kakek punya hadiah untukmu dan juga kedua cicitku!” ucap George.
“Hadiah? Gak kakek gak boleh memberi hadiah untuk istriku karena dia hanya menerima hadiah dariku saja.” Tolak Lian.
“Apa aku juga gak boleh memberi hadiah untuk putriku?” tanya Gibran menatap menantunya itu hingga membuat Lian kembali menggaruk tengkuknya.
“Jawab adik ipar. Ayah mertua bertanya padamu.” Ucap Pras tertawa mengejek.
“Ck, kenapa kalian jadi beramai-ramai memojokkanku. Apakah kalian tidak kasihan padaku, aku ini baru saja sembuh dari kesedihanku tapi kalian justru memojokkanku seperti ini padahal aku baru saja bahagia.” Ucap Lian dramatis.
“Gak usah dramatis deh adik ipar. Daripada kau meminta belas kasihan kami lebih baik jawab tuh pertanyaan papa.” Ucap Zia lalu mendekati Zea di ranjangnya yang sedang makan tidak memedulikan sang suami yang kesulitan.
__ADS_1