Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 109


__ADS_3

Jika Rasti dan Faris sedang dalam masa bucin-bucinnya, jauh berbeda dengan Lian dan Zea yang saling diam-diaman setelah mereka kembali dari rumah sakit.


“Dear!” ucap Lian segera memeluk sang istri yang dari tadi diam lebih tepatnya mereka tidak saling bicara.


Zea hanya menangis di pelukan suaminya itu, “Boo aku takut!” ucap Zea terisak.


Lian pun semakin mengeratkan pelukannya tapi tetap menjaga agar dia tidak menekan perut sang istri, “Gak apa-apa kita akan jalani ini bersama. Bukankah kita kuat dan aku yakin istriku ini sangat kuat.” Ucap Lian menyembunyikan ketakutannya. Jika bisa jujur dia sangat takut jika suatu hari nanti dia akan di hadapkan pada pilihan harus memilih salah satu diantara anaknya atau istrinya.


“Boo bagaimana jika aku,,”


“Sstt,, bukankah kamu yakin yang memilih ini maka kita akan menjalaninya bersama. Kenapa sekarang jadi takut? Kemana keberanian istriku?” potong Lian.

__ADS_1


“Boo jujur aku takut jika harus berpisah darimu, aku takut aku tidak bisa melihat anak-anak kita nanti. Tapi di sisi lain aku juga tidak mungkin tega membunuh mereka. Aku begitu menantikan kehadiran mereka. Boo apa aku melakukan dosa besar di masalalu hingga ini harus terjadi padaku?” tanya Zea menatap sang suami.


Lian pun hanya bisa menghapus air mata sang istri, “Ingat sayang, ini ujian untuk kita. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, kamu itu sangat baik.” ucap Lian menenangkan sang istri sambil mengecup kepala Zea berulang kali.


“Sudah yaa sekarang kita istirahat. Mulai hari ini kamu gak boleh bekerja yang berat-berat lagi.” Ucap Lian padahal selama ini juga Zea tidak pernah melakukan pekerjaan yang berat karena baik Lian dan George sangat memanjakan Zea.


***


Keesokan paginya saat sarapan di kediaman Andrew dan Celine.


Celine pun mengangguk, “Kapan itu terjadi? Kenapa aku gak tahu?” tanya Rasti masih tidak percaya dan segera menyelesaikan sarapannya.

__ADS_1


“Kami juga baru mengetahuinya kemarin nak saat kakak iparmu menelpon mami dan menangis menceritakan Zea.” Ucap Celine.


“Ahhh Zea pasti sedang terpuruk sekarang. Aku harus melihatnya!” ucap Rasti segera meraih tasnya tapi tujuannya kini bukan ke kantor tapi ke mansion keluarga Lian di mana adiknya tinggal.


“Hati-hati di jalan sayang!” ucap Andrew begitu Rasti segera berlari setelah menyalami tangan mereka cepat. Rasti hanya membalasnya dengan anggukkan yang entah di lihat oleh Andrew dan Celine atau tidak.


“Kasihan Zea yaa pih!” ucap Celine.


Andrew pun mengangguk, “Kita harus menyelamatkannya Mih. Aku tidak ingin kehilangan putriku.” Ucap Andrew yakin.


“Iya pih kita harus mencarikan dokter terbaik untuknya tapi masalahnya saat ini dia sedang hamil dan ini juga akan memburuk keadaanya apalagi dia belum melakukan pemeriksaan apapun selain pemeriksaan dasar.” Ucap Celine sedih.

__ADS_1


“Kamu benar Mih tapi kita tetap harus berusaha untuk menyelamatkan mereka jika bisa.” Timpal Andrew ikutan sedih. Yah Andrew dan Celine sedih karena mereka sudah menganggap Zea adalah putri bungsu mereka. Untuk itulah mereka tidak marah saat Rasti membatalkan perjodohannya dengan Lian karena menurut mereka Zea juga putri mereka. Jadi baik Rasti dan Zea sama saja bagi mereka.


Mereka juga mengerti bahwa cinta tidak bisa di paksakan, jika Rasti yang menikah dengan Lian maka putri mereka itu tidak akan bahagia karena Lian mencintai gadis lain. Untuk itulah mereka menyetujui keputusan Rasti saat dan berharap putri mereka yang lain bahagia tapi sayang kini dia justru di diagnosa penyakit mematikan.


__ADS_2