
Tidak terasa kini Rasti sudah menjadi CEO dari perusahaan maminya yaitu “CA Corp.” dimana singkatan itu adalah singkatan nama maminya yakni Celine Azizah. Rasti sudah secara resmi menjadi CEO perusahaan itu, peresmiannya tiga hari yang lalu. Rasti pun mulai sibuk dengan perusahaannya hingga bisnis keripik sudah diserahkan kepada Zea sepenuhnya karena Zia tidak bisa mengelolanya karena Celine juga menyerahkan “Celine Foundation” kepada Zia untuk di kelolanya.
“Bu, hari ini kita ada rapat dengan pemilik mall A.” ucap Gaby, asisten pribadinya Rasti.
“Baiklah jika begitu kau atur saja waktunya karena aku harus menyelesaikan ini lebih dulu.” Jawab Rasti sambil fokus dengan beberapa dokumen dihadapannya. Gaby pun mengangguk mengerti dan segera kembali ke ruangannya.
“Huh, sepertinya ini yang mami rasakan.” Ucap Rasti sambil memandang banyaknya dokumen.
Drt,, drt,, drt,,
“Halo, Ada apa kau menelponku kak?” Tanya Rasti to the point begitu telepon tersambung.
“Bagaimana pekerjaanmu? Apa kamu mengalami kesulitan?” tanya Pras.
“Kak, kepalaku pusing melihat begitu banyaknya dokumen yang harus aku setujui.” Jawab Rasti jujur.
“Kakak yakin kau bisa. Walau beru seminggu kau menjadi CEO-nya saham perusahaan mami tidak turun dan tetap stabil. Semangat! Kakak mendukungmu, kau juga bisa katakan jika kau memiliki kesulitan. Kakak akan membantumu.” Ucap Pras.
Rasti yang mendengarnya tersenyum karena untuk pertama kalinya kakaknya itu bersikap sweet seperti padanya karena biasanya mereka selalu berdebat, “Kak, apa kau salah makan?” tanya Rasti menggoda kakaknya.
“Ah, malas ngomong denganmu. Sudah yaa kakak matikan.” Ucap Pras.
“Eehh,, tunggu kak, aku belum selesai. Gitu aja ngambek sih kak. Aku hanya merasa aneh saja apa yang terjadi kepada kakak hingga mengatakan kata-kata sweet seperti itu jadi aku hanya menggodamu kak. Ohiya terima kasih mulai hari ini aku tidak akan sungkan meminta bantuanmu jika aku mengalami kesulitan.” Ucap Rasti segera memutuskan sambungan telepon lalu tertawa karena pasti saat ini kakaknya itu sedang kesal.
Tuut tuut
“Dasar adik kurang ajar, beraninya dia memutuskan teleponku.” Teriak Pras.
“Ada apa tuan? Apa yang terjadi padamu?” tanya Hans kaget.
“Gak ada, kau fokus saja dengan pekerjaanmu.” Jawab Pras.
“Baik tuan!” ucap Hans sambil mengangguk dan meneruskan pekerjaannya.
***
Saat ini Zia sedang sibuk bermain dengan si kembar di kamar utama mereka. Dia baru saja tiba dari rumah sakit dan setelah membersihkan tubuhnya dia segera membawa si kembar ke kamarnya.
“Apa kabar anak-anak bunda?” tanya Zia kepada kedua anaknya itu yang saat ini hanya menanggapinya dengan senyuman.
“Ouh, anak bunda sekarang sudah pintar yaa.” Ucap Zia gemas kepada kedua anaknya itu.
“Bu-bunda!” panggil Zayyah.
“Iya sayang! Ada apa dengan putri cantik bunda ini?” tanya Zia lalu menciumi wajah Zayyah.
Seketika Zayyan langsung menangis, “Cup,, cup,, kenapa kamu sangat cemburuan nak? Sifat siapa sih ini?” ucap Zia langsung membujuk putranya itu. Zayyan pun segera diam begitu Zia bicara padanya.
Tiba-tiba Pras pulang dan langsung masuk, “Assalamu’alaikum bunda dan anak-anak ayah.” Salam Pras karena dia sudah tahu dari asistennya bahwa istrinya itu sedang bermain dengan si kembar.
__ADS_1
Zia pun tersenyum menyambut suaminya, “Wa’alaikumsalam ayah.” Jawab Zia dan langsung menyalami suaminya. Pras pun segera mencium kening Zia karena itu sudah menjadi ritual mereka jika akan pergi dan pulang dari kantor atau kemana saja.
Tiba-tiba Zayyan dan Zayyah menangis bersamaan, “Apa kalian sedang iri kepada ayah? Hey, bunda kalian itu istri ayah.” Ucap Pras tapi kedua bayi itu tetap menangis.
“Sudahlah, honey kamu sana bersih-bersih dulu biar aku yang akan membujuk anak-anak. Sepertinya mereka memang cemburu padamu.” Ucap Zia. Pras pun akhirnya mengalah dan langsung masuk menuju kamar mandi membersihkan diri.
Zia pun segera membujuk kedua anaknya itu dan langsung saja diam sepertinya memang benar bahwa mereka cemburu dengan ayah mereka.
***
“Bagaimana semuanya berjalan lancar kan?” tanya Rasti kepada asistennya.
“Semuanya berjalan lancar bu.” Jawab Gaby.
Yah, Gaby yang mewakilinya untuk bertemu dengan pemilik mall A.
Di sisi lain juga, “Apa semuanya berjalan lancar?” tanya seorang pria kepada asistennya.
“Semuanya berjalan lancar tuan, sepertinya CA Corp. juga hanya mengirim asistennya.” Jawab asisten pria itu.
Pria itu pun hanya mengangguk mengerti lalu menyuruh asistennya pergi.
Tidak lama kemudian dia segera pulang. Dia selalu menyetir mobilnya sendiri hanya kadang asistennya yang akan menyupirinya. Dia pun berkeliling sebelum menuju apartemennya. Tiba-tiba ada yang menarik perhatiannya.
“Gadis itu?” gumam pria itu sambil mengamati seorang gadis yang saat ini sedang ada di kedai pinggir jalan menikmati makannya.
Zea yang saat itu sedang fokus dengan makannya pun segera melihat siapa yang menyapanya, “Anda bicara dengan saya?” tanya Zea.
Pria itu pun menangguk dan langsung duduk di kursi yang ada dihadapan Zea, “Apa ada gadis lain disini?” tanya pria itu.
Zea pun melihat sekeliling dan ternyata benar hanya dialah gadis yang ada disana karena pelanggan lain mereka makan bersama keluarga mereka.
“Siapa namamu? Kita pernah bertemu sebelumnya kan?” tanya pria itu.
Zea pun kembali melihat pria yang ada dihadapannya, “Apa kita pernah ketemu?” tanya Zea balik dan melanjutkan makannya.
Pria itu pun tersenyum, “Sepertinya kau melupakan saya. Baiklah itu tidak penting juga yang paling penting saat ini kita bertemu lagi.” Ucap pria itu.
Zea pun tidak mempedulikannya, dalam pikirannya saat ini hanya bagaimana dia segera pergi dari tempat itu, “Hey, pelan-pelan makannya. Saya tidak akan meminta makananmu.” Ucap pria itu tersenyum.
Zea pun hanya tersenyum dan segera berdiri setelah menyelesaikan makannya, “Pak, ini uangnya. Kembaliannya untuk bapak saja.” Ucap Zea sambil memberi uang kepada penjualnya.
“Terima kasih nak” Jawab penjual itu tersenyum.
Zea pun segera pergi dari sana sementara pria itu segera menyusul Zea dan menahan lengan Zea. Zea pun berhenti dan segera melihat lengannya dan di tahan oleh pria itu, “Ah, maaf!” ucap Pria itu segera menyadari tatapan Zea.
Zea pun mengabaikannya dan segera naik motornya dan menghidupkannya setelah pria itu melepas tangannya dari lengannya, “Eehh tunggu!” tahan pria itu.
Zea pun hanya menatap pria itu dengan malas, “Tidak bisakah saya tahu namamu?” tanya Pria itu lagi.
__ADS_1
“Maaf tuan kita tidak sedekat itu hingga harus saling mengetahui nama. Maaf saya harus pergi.” ucap Zea segera melajukan namanya.
Pria itu pun hanya bisa melihat kepergian Zea, “Nama saya Lian.” Teriak pria itu. Zea yang masih mendengarnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena menurutnya pria itu sangat aneh.
Lian pun segera menuju mobilnya tapi tiba-tiba dia kembali dan bicara dengan penjual, “Maaf apa saya bisa bertanya tentang gadis tadi?” tanya Lian to the point.
“Gadis cantik yang berhijab tadi?” tanya Lian memperjelas pertanyaannya.
“Ouh itu nak Zea.” Jawab penjual itu.
“Zea? Nama yang cantik.” Gumam Lian tersenyum. “Apa bapak sangat kenal padanya?” tanya Lian lagi.
“Apa anda menyukai gadis itu?” tanya penjual itu.
Lian pun bingung harus menjawab apa, “Hmm,, benar saya menyukainya. Dia sangat menarik. Apa bapak mengenalnya?” tanya Lian akhirnya karena sebenarnya dia ssudah tertarik dengan Zea saat pertama kali melihatnya.
“Baiklah saya akan memberitahu anda. Sepertinya anda pria baik. Dia adalah pelanggan tetap saya dan setiap dia membeli makanan dia selalu memberikan uang kembaliannya kepada saya. Dia adalah pelanggan pertama kami dari tempat ini baru dibuka. Namanya Zea, dia saat ini sedang kuliah kalau tidak salah semester 7.” Jelas penjual itu.
“Apa tidak ada info lain yang anda ketahui?” tanya Lian. “Hanya itu yang saya ketahui tuan.” Jawab penjual itu.
Lian pun mengangguk mengerti, “Apa anda bisa menelpon saya jika dia datang kesini lagi? Ini nomor telepon saya.” pinta Lian.
Penjual itu pun tersenyum, “Baiklah nanti saya beritahu jika nona Zea kesini lagi. Tapi dia selalu datang kesini saat sesudah ashar.” Jawab Penjual itu.
“Baiklah, terima kasih atas bantuannya. Kalau begitu saya pergi dulu.” Pamit Lian lalu memberikan beberapa uang kepada penjual itu tapi penjual itu menolaknya karena dia hanya ingin membantu Lian. Selain itu juga dia sangat menghargai Zea sebagai pelanggannya yang setia.
Lian pun segera pergi, “Nak tunggu!” teriak penjual itu berlari mendekati Lian yang sudah dekat mobilnya.
“Ada apa pak?” tanya Lian.
“Ini! Semoga ini bisa membantu anda. Dia selalu membawa ini kepada kami.” Ucap penjual itu lalu segera pergi.
Lian pun melihat apa yang diberikan penjual itu yang ternyata adalah sebungkus keripik, “ZP Keripik?” gumam Lian tersenyum lalu segera masuk mobilnya.
“Aku akan menemukanmu gadis manis.” Ucap Lian melihat keripik ditangannya lalu segera menghubungi seseorang.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊
Mohon maaf jika ada typo guys !!🙏🏻😉
Mohon mampir di novel author yang berjudul “Di Kala Cinta Menyapa”. Tinggalkan jejak ya, author tunggu. Heheheheh
🙏🏻🥺😁
__ADS_1