
Tiga hari kemudian.
“Halo, apa semuanya sudah siap?” tanya Pras kepada seseorang.
“Iya, semuanya sudah selesai tuan.” Jawabnya.
“Baiklah, aku harap semuanya memang sudah selesai.” Ucap Pras
Sementara di sisi lain.
“Kakak! Aku sangat merindukanmu.” Ucap Zea segera memeluk kakaknya.
“Kau ada disini? Dengan siapa kau kesini?” tanya Zia membalas pelukan adiknya.
“Hi, kakak ipar, apa kabarmu?” tanya Rasti segera masuk.
“Ra, kau juga disini.” Ucap Zia melepas pelukan Zea.
Rasti pun segera memeluk Zia, “Kak, aku sangat merindukanmu. Tapi kau jangan khawatir ZP keripik lancar. Aku hebat kan?” tanya Rasti.
“Yah, aku hebat. Maaf ya kakak belum mengunjungi vila lagi. Ohiya bagaimana kabar paman dan bibi?” tanya Zia.
“Mereka baik-baik saja. Mereka menitip salam untukmu.” Jawab Rasti yang tetap memeluk Zia.
“Kakak aku juga ingin kau peluk.” Ucap Zea. Zia pun tersenyum dan segera memeluk kedua adiknya itu.
Setelah itu mereka segera menemui si kembar. Setelah menemui si kembar mereka segera memaksa Zia ikut bersama mereka ke salon. Zia awalnya menolak tapi karena bujuk rayu kedua adiknya akhirnya dia pun ikut dengan mereka.
Sesampainya disana Zia segera melakukan perawatan, setelah itu di make up dan dipakaikan gaun yang sangat mewah. Zia sudah bertanya kepada orang-orang disana tapi tidak ada yang menjawab. Zia pun bingung karena kedua adiknya itu kini menghilang entah kemana.
“Kakak, kau sangat cantik.” Ucap Zea begitu masuk yang diikuti oleh Rasti dari belakang.
“Kalian dari mana saja?” tanya Zia memandang kedua adiknya itu yang kini memakai pakaian yang hampir sama dengannya.
“Ini ada apa sebenarnya? Kenapa mereka memaksaku memakai pakaian begini dan kalian juga?” tanya Zia menatap kedua adiknya tajam.
“Kau akan tahu nanti kakak ipar. Sekarang kau bersabarlah!” ucap Rasti.
Zia pun hanya bisa menghela nafas karena percuma dia bertanya tidak aka nada yang menjawab, dia hanya bisa menunggu. Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan masuklah seorang laki-laki yang sangat tampan dengan tuxedo-nya yang berwarna senada dengan gaun yang dipakai oleh Zia iatu pink terang.
“Maukah kau ikut denganku tuan putri?” tanya Pras berlutut dihadapan Zia dan diluar sana banyak kamera yang mengabadikan momen itu.
Zia yang sebenarnya bingung hanya bisa menerima tangan suaminya sambil menyimpan banyak pertanyaan di kepalanya. Pras pun segera membawa istrinya ke ballroom hotel. Yah, ternyata mereka ada dihotel, Zia tidak mengetahuinya karena kedua adiknya itu menutup matanya dengan kain saat membawanya kesana.
“Ini?” tanya Zia memandang suaminya yang ada disampingnya begitu melihat dekorasi ballroom hotel itu yang kini diubah menjadi pelaminan yang sangat cantik dengan dipenuhi bunga beraneka warna tapi tetap di dominasi oleh warna pink. Zia melihat sekeliling disana semua kerabatnya ada dan begitu banyak tamu undangan selaku rekan kerja perusahaan Pras dan mertunya. Kini dia mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Disana juga dia bisa melihat kedua anaknya yang saat ini digendong oleh Celine dan Alya.
“Apa ini?” tanya Zia begitu mereka tiba dipelaminan dan Pras hanya mengangguk.
Acara demi acara berlalu dengan sangat meriah. Pras mengumumkan Zia sebagai istri sahnya dan juga Zayyan dan Zayyah sebagai pewarisnya yang sah. Banyak pertanyaan yang timbul tapi Andrew segera menunjukkan semua dokumen pernikahan mereka. Mereka tidak ingin harga diri Zia dan keluarganya di injak-injak.
“Selamat ulang tahun sayang!” bisik Pras lalu tiba-tiba munculah ucap selamat ulang tahun dilayar besar di depan Zia.
__ADS_1
Zia yang melihatnya terharu karena sejujurnya dia pun lupa bahwa hari ini adalah ulang tahunnya, “Terima kasih kak!” ucap Zia.
“Jangan berterima kasih, aku senang jika kau senang. Apa kau menyukai pesta pernikahan ini?” tanya Pras.
“Aku sangat menyukainya, terima kasih sudah mewujudkan pernikahan impianku. Ini lebih indah dari pernikahan impianku. Terima kasih suamiku.” Bisik Zia terharu.
“Aku akan membahagiakanmu, terima kasih atas segalanya.” Ucap Pras mengecup kening Zia.
Dibawah sana Gibran, Alya, dan Zea bahagia melihat itu karena mereka tidak salah memberikan kesempatan kepada Pras.
Acara pernikahan yang sekaligus dirangkaikan dengan acara ulang tahun Zia itu pun berlalu dengan sangat meriah. Begitu banyak yang memberi selamat kepada mereka.
***
“Ini hadiah pernikahan untuk kalian!” ucap Andrew.
“Apa ini pih?” tanya Zia.
“Bukalah nak!” jawab Andrew. Zia pun segera membukanya yang ternyata itu adalah tiket pesawat.
“Kami membeli itu karena kami mendengar dari Pras bahwa kau lebih menyukai naik pesawat komersil daripada pesawat pribadi. Kami harap kau menerimanya nak!” ucap Andrew.
“Tenang saja, itu memang tiket bulan madu tapi jika kau belum siap maka kalian bisa menggunakan itu hanya untuk jalan-jalan.” Ucap Celine memeluk menantunya itu.
“Terima kasih pih, mih. Tapi Zia gak bisa menerimanya.” Tolak Zia.
“Kenapa gak bisa? Apa karena si kembar? Kau tenang saja kami yang akan menjaganya.” Timpal Alya.
“Iya kak, kau tenang saja kami akan menjaga si kembar.” Ucap Zea yang saat ini sedang menggendong Zayyah.
“Hmm,, sepertinya aku tidak bisa menolak. Baiklah kami akan pergi. Terima kasih!” ucap Zia. Dari sudut Pras hanya tersenyum karena Zia menyetujui tiket bulan madu itu.
***
“Dek, ini hadiah untukmu!” ucap Pras begitu mereka pulang dan sudah berada dikamar. Si kembar ikut Alya dan Gibran karena Pras dan Zia akan berangkat besok ke Swiss.
“Apa ini kak?” tanya Zia sambil membuka hadiah dari suaminya itu.
“I-ini?” tanya Zia.
“Iya, itu semua berkas milikmu, kau sudah bisa masuk rumah sakit apapun yang kau mau. Aku tahu kau sangat ingin menjadi perawat tapi karena aku kau harus menguburnya. Maafkan aku!” ucap Pras.
Zia pun lagi-lagi terharu karena dia berpikir bahwa Pras akan melarangnya, “Terima kasih kak!” ucap Zia memeluk suaminya itu.
Pras pun membalas pelukan istrinya itu yang sangat terasa hangat, “Aku tidak akan menghalangi cita-citamu dek walau aku bisa membiayai seluruh hidupmu tapi aku tahu kau sangat mencintai prefesimu itu. Tapi kau harus mengatakan jika nanti kau lelah kau bisa berhenti kapan saja. Janji?” tanya Pras.
Zia pun menengahkan kepalanya dan menatap suaminya, “Janji. Terima kasih!” ucap Zia menenggelamkan kepalanya kembali di dada bidang suaminya. Pras pun membalas pelukan istrinya itu dengan erat.
“Ohiya, kau belum melihat semua hadiahnya.” Ucap Pras begitu pelukan mereka selesai.
Zia pun melanjutkan membuka hadiah dari suaminya yang ternyata ada kunci mobil serta surat-surat pembelian mobil serta dokumen pengalihan seluruh saham Pras atas nama Zia.
__ADS_1
“Apa ini kak?” tanya Zia.
“Itu adalah jaminan untukmu jika nanti aku,,” ucap Pras.
“Aku tidak ingin ini.” potong Zia.
“Dek, dengarlah. Kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya jadi jika nanti aku melakukan kesalahan maka semuanya akan menjadi milikmu. Aku tahu kau tidak mungkin menerima ini dan aku juga tahu kau bukan wanita yang gila harta tapi ini hanya bentuk hukuman untukku jika nanti aku melakukan kesalahan.” Ucap Pras.
“Tapi aku tidak ingin itu. Kak aku mempercayaimu bahwa kau tidak mungkin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Aku tidak akan menandatangi itu dan lebih baik kakak membakar dokumen itu.” Ucap Zia.
“Baiklah-baiklah. Maaf! Aku akan membakarnya. Dan terima kasih sudah percaya padaku, aku janji tidak akan menghianati janjiku.” Ucap Pras memeluk Zia.
“Jangan menangis, aku sungguh minta maaf. Kau bisa tidak menandatanganinya. Maaf!” bujuk Pras memeluk Zia erat.
“Apa kau tidak mencintaiku?” tanya Zia memandang Pras dalam.
Pras segera memeluk Zia, “Aku sangat-sangat mencintaimu.” Ucap Pras mengulang-ngulang perkataannya sambil mengecup kepala Zia yang ditutupi hijab itu.
Zia pun tersenyum dan segera menghapus air matanya, “Aku juga mencintaimu kak!” gumam Zia.
Pras yang mendengarnya segera menengahkan kepala Zia, “Sungguh? Apa bisa kau mengulanginya?” tanya Pras mengecup kening Zia.
Zia pun hanya tersenyum, “Jangan tersenyum dek, kakak butuh jawaban bukan senyuman.” Ucap Pras mengecup bibir Zia sekilas. Untuk pertama kalinya dia mengecup bibir Zia dan tentu saja selain yang terjadi malam itu.
“I Love You!” bisik Zia menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
Pras yang mendengarnya menghujani Zia dengan kecupan, “I Love You more and more.” Balas Pras.
Zia pun hanya tertawa menerima kecupan suaminya itu, “Apa kita boleh melakukan itu?” tanya Pras tersenyum misterius.
Seketika tawa Zia terhenti, “Kakak bercanda dek, kakak bisa menunggu!” ucap Pras memeluk Zia.
“Tapi a-aku siap.” Jawab Zia memberanikan diri menatap suaminya.
“Kamu jangan pura-pura setuju dek, sungguh kakak masih bisa menunggu.” Ucap Pras mengecup kening Zia.
“Zia gak bercanda kak, Zia siap kok!” ucap Zia menatap suaminya.
“Sungguh? Apa kau yakin? Kau tahu kakak gak akan berhenti jika kau setuju,,” ucap Pras menatap wajah istrinya. Zia hanya tersenyum.
Pras pun segera menggendong Zia dan membaringkannya diranjang, “Apa kau yakin?” tanya Pras lagi.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😉
Mohon maaf jika ada typo guys !!🙏🏻😊
__ADS_1
Mohon mampir di novel author yang berjudul “Di Kala Cinta Menyapa”. Tinggalkan jejak ya, author tunggu. Heheheheh
🙏🏻😁🥺