
Kini Zia dan Pras sudah tiba dirumah sakit dan seperti biasa mereka langsung masuk ke ruangan pemeriksaan.
“Apa ini ibu Zia?” tanya dokter.
“Benar dokter.” Jawab Zia.
“Wah, apa kali ini ibu ditemani oleh suami ibu? Ini suami ibu kan?” tanya dokter.
Pras pun kaget mendengar dia dianggap suaminya Zia. Dia pun hanya memandang Zia sementara Zia hanya diam saja karena tidak tahu harus mengatakan apa. “Ini pak Prasya kan?” tanya dokter itu lagi.
“Benar dokter.” Jawab Pras.
“Ah, jika begitu kita mulai saja pemeriksaannya. Apa pak Pras ingin melihat calon bayinya? Jika iya bapak juga bisa ikut melihat. Ini kan pertama kalinya bapak menemani bu Zia periksa.” Ucap dokter itu.
Pras pun lagi-lagi hanya memandang Zia seolah-olah meminta izin, sementara Zia pun hanya diam saja karena dia tidak apa yang harus dilakukannya.
“Apa saya bisa melihat dokter?” tanya Pras.
“Tentu saja pak. Itu justru lebih baik agar calon anak bapak bisa mengenali ayahnya.” Ucap dokter itu.
Akhirnya Pras pun ikut melihat pemeriksaan itu tapi dia tidak memandang Zia karena dia tahu Zia sangat menjaga auratnya sedangkan dia bukanlah mahram bagi Zia. Pras pun hanya melihat layar monitor USG.
“Pak Pras ini anak kalian, mereka ada dua. Usianya sudah 27 minggu, semua organnya sudah ada. Mereka juga baik-baik saja. Kandungan ibu Zia sangat baik. Apa bapak sama ibu ingin melihat jenis kelamin kedua anak kalian?” tanya dokter.
Pras hanya diam saja karena dia fokus melihat kedua wajah mungil yang ada dilayar monitor. Tak dia sadari air matanya jatuh melihat dua wajah mungil itu. Zia yang melihat Pras hanya diam saja dan melihat Pras meneteskan air mata hanya tersenyum, “Kami belum ingin mengetahui jenis kelaminnya dokter. Biar saja itu jadi kejutan nanti.” Ucap Zia.
Dokter itu pun mengangguk mengerti lalu memprint hasil USG itu dan memberikannya kepada Pras yang tetap setia menatap layar monitor, “Pak ini foto USG-nya agar bapak bisa memandangnya dengan sepenuh hati.” Ucap dokter itu.
Setelah itu pemeriksaan pun segera selesai dan seperti biasa mereka mengambil vitamin untuk Zia. Setelah dari sana mereka segera menuju mobil.
“Kak Pras! Aku minta maaf karena sudah menggunakan nama kakak sebagai suamiku. Jadi dokter jadi salah paham. Maaf kak!” ucap Zia saat mereka sudah sampai parkiran, seketika Pras jadi sadar bahwa dia pergi bersama Zia. Saking asyiknya melihat foto USG Zia dia jadi melupakan Zia.
“Ah, gak apa-apa. Maafkan saya karena melupakanmu. Entah kenapa saya sangat melihat ini.” ucap Pras menunjukkan foto USG.
“Apa bisa saya menyimpannya?” tanya Pras.
“Apa kakak gak marah kakak dianggap sebagai suamiku?” tanya Zia balik.
“Gak apa-apa kok. Saya yakin pasti Rasti yang melakukannya kan?” Ucap Pras.
Zia pun hanya mengangguk, “Kalau begitu bisa saya menyimpan USG anakmu?” tanya Pras lagi.
“Terserah kakak. Ohiya, terimah kasih sudah menemani Zia. Maafkan saya sudah merepotkan tuan Pras.” Ucap Zia.
__ADS_1
“Gak repot kok. Lagian saya juga gak sibuk.” Ucap Pras tersenyum.
Padahal dari tadi sudah banyak pesan dan telepon dari Hans hanya saja dia menggunakan mode silent. Sengaja dia melakukan itu saat Rasti memintanya mengantar Zia. Entah kenapa dia sangat bahagia saat Rasti memintanya melakukan itu hingga dia pun harus membatalkan sebuah rapat besar hanya untuk mengantar Zia.
Mereka pun segera pulang.
***
Hari-hari pun terus berlalu dan selama itu juga Pras selalu datang ke vila bahkan dia selalu menemani Zia ke rumah sakit. Entah kenapa dia melupakan untuk mencari gadis yang telah ditidurinya dan hanya fokus dengan Zia saja.
Hubungan Zia dan Pras pun sudah bisa dikatakan dekat walau Zia tetap menjaga jarak karena dia tidak ingin ada fitnah yang terjadi antara mereka. Celine yang melihat kedekatan mereka pun sangat bahagia. Entah kenapa dia sudah menganggap Zia adalah menantunya. Celine selalu membawakan Zia makanan jika dia ke vila. Tidak hanya Celine, Andrew pun melakukan itu.
“Pih, bagaimana penyelidikanmu?” tanya Celine.
“Belum ada apapun karena memang CCTV hotel itu tidak merekam apapun. Tapi papi yakin Zia adalah gadis itu.” Ucap Andrew.
“Mami juga yakin pih karena usia kandungan Zia sama dengan kejadian itu.” Ucap Celine.
“Apa Zia tidak mengatakan tempat dan tanggal dimana dia mengalami kejadian itu mih?” tanya Andrew.
“Gak pih.” Ucap Celine.
“Ya, jika saja kita tahu dimana dan kapan dia mengalami itu, maka sepertinya ini akan mudah. Pras juga sekarang dia hanya lebih sering datang ke vila dan sepertinya dia sudah melupakan gadis yang ditidurinya itu.” Ucap Andrew.
“Ah, mami mengagetkan saja. Ya sudah jika begitu tanyakan padanya. Jika dia tidak tahu maka hanya satu hal yang dapat kita lakukan yaitu test DNA.” Ucap Andrew.
“Ya udah deh nanti mami tanyakan.” Ucap Celine.
***
“Nak, mami mau menanyakan sesuatu, apa boleh?” tanya Celine saat dia bersantai dengan putrinya itu.
“Ada apa mih? Sepertinya serius.” Ucap Rasti.
“Emm itu,, Mami ingin menanyakan apa kamu tahu dimana dan kapan Zia mengalami musibah itu?” tanya Celine.
“Hmm,, Rasti gak tahu mih. Soalnya kakak gak mengatakan tempat itu. Rasti juga tidak menanyakannya karena Rasti tidak ingin kakak ingat kejadian itu lagi. Emangnya ada apa mih?” tanya Rasti.
“Gak apa-apa kok. Mami pikir kau mengatahuinya. Ya sudah jika begitu kau lanjutkan pekerjaanmu. Mami pergi dulu.” Ucap Celine.
***
Usia kandungan Zia kini sudah memasuki usia 9 bulan. Saat ini Zia sedang dikamarnya mengirimkan foto USG kepada Zea.
__ADS_1
“Apa ini keponakanku? Apa aku akan segera memiliki dua keponakan?” tanya Zea sambil melihat foto yang dikirimkan kakaknya.
“Apa yang kamu lihat nak?” tanya Alya tiba-tiba.
“Gak ada kok ma. Zea hanya sedang melihat tugas saja.” Ucap Zea.
“Apa yang kamu sembunyikan dari kami? Apa kakakmu sering menghubungimu?” tanya Alya sedih.
“Ma! Jangan sedih dong. Aku yakin kakak baik-baik aja.” Ucap Zea memeluk mamanya.
“Kamu selalu mengatakan itu. Tapi mama sangat merindukan kakakmu.” Ucap Alya sedih.
Zea pun hanya bisa menenangkan mamanya.
Sementara disisi lain, Zia saat ini sedang melihat barang-barangnya.
“Ingin rasanya aku berteriak saat melihatmu tapi sekarang entah kenapa aku sangat bahagia melihatmu. Baiklah mulai saat ini aku akan menggunakanmu lagi. Kamu adalah warna kesukaanku dan juga hijab favoritku tapi entah kenapa hari itu harus terjadi saat aku menggunakanmu tapi sekarang aku sadar itu semua sudah menjadi takdir. Saat ini yang harus aku pikirkan adalah bagaimana aku merawat kedua bayiku.” Ucap Zia sambil memegang sebuah hijab dan sebuah anting.
***
“Tuan, anda mau kemana?” tanya Hans.
“Aku,, ” ucap Pras terpotong.
“Saya tahu tuan pasti ingin menemui nona Zia tapi tuan apa anda sudah melupakan gadis itu? Saya tahu saya tidak memiliki hak untuk melarang tuan melakukan apa yang ingin tuan lakukan hanya saja saya ingin mengingatkan tuan bahwa ada gadis yang harus tuan cari.” Ucap Hans.
“Ahh, Hans! Ingin rasanya aku berteriak. Aku tidak tau apa yang aku lakukan saat ini. Entah kenapa aku hanya selalu ingin menemui Zia. Jika saja aku tidak melihatnya sehari saja, aku sangat merindukannya. Hans, apa yang harus aku lakukan?” ucap Pras berteriak.
“Tuan saya mengerti apa yang anda rasakan. Saya tahu anda sudah mencintai nona Zia. Tapi bagaimana dengan gadis itu? Entah kenapa juga semua informasi mengenai gadis itu tidak ada sama sekali.” ucap Hans.
“Seandainya saja Zia dan gadis itu adalah orang yang sama. Sepertinya aku tidak harus mengalami ini?” ucap Pras.
Hans yang mendengar ucapan Pras seketika berpikir hal itu bisa saja terjadi. Hans pun segera meninggalkan Pras sendiri lalu Hans segera menghubungi anak buahnya untuk menyelidiki Zia.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin..🙏🏻🙏🏻
Mohon maaf jika ada typo guys,,🙏🏻
__ADS_1