Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 176


__ADS_3

“Kau ingin tidur sampai kapan? Lihatlah kedua putra kita berat badan mereka semakin bertambah dan sampai sekarang mereka masih belum mempunyai nama. Ayo kau bangun dan kita beri nama kepada mereka.” Ucap Lian.


“Sayang sampai kapan kau akan menutup matamu?” tanya Lian menggenggam tangan istrinya itu dalam tangis.


Tanpa ada yang sadar ternyata tangisan sang suami itu di respon oleh Zea dengan menggerakkan jarinya tapi tidak ada yang menyadarinya.


Zia dan Rasti yang berada dalam ruangan itu pun hanya bisa meneteskan air mata mereka mendengar curahan hati Lian yang selalu mereka dengar dua hari terakhir ini.


“Kak!” panggil Rasti langsung memeluk Zia.


Zia pun membalas pelukan Rasti, “Kita tidak boleh lemah, ini bukan hanya ujian untuk Lian saja tapi untuk kita semua. Kita harus yakin bahwa Zea akan kembali untuk kedua putranya dan suaminya.” Ucap Zia sambil memandang kedua putra Zea yang masih di incubator.

__ADS_1


Yah, Zia dan Pras serta Faris dan Rasti selalu datang bergantian untuk melihat Lian dan Zea karena para orang tua tidak di izinkan oleh Pras terlebih Alya yang selalu saja menangis bahkan pingsan melihat putri bungsunya yang belum membuka matanya begitu juga dengan Celine yang ikut menangis. Jadi Pras mengambil keputusan ini sedangkan untuk George mereka tidak mengizinkannya karena juga untuk menjaga kesehatannya agar tidak memburuk.


***


Tidak terasa sudah seminggu Zea operasi dan dia masih saja setia menutup matanya. Lian dan seluruh keluarga pun hanya bisa menunggu dengan bersabar sampai Zea menyerah untuk menutup matanya dan akan membuka matanya. Kedua buah hati Zea dan Lian pun berat badan mereka sudah memenuhi batas normal walau keduanya hanya mengonsumsi susu formula karena sang ibu masih setia menutup matanya tapi untung saja hal itu tidak mempengaruhi perkembangan kedua buah hati Zea dan Lian itu.


“Dokter, ini sudah seminggu tapi dia belum sadar juga. Apa ada sesuatu yang salah?” tanya Zia kepada dokter yang baru saja keluar memeriksa keadaan Zea.


“Kami mengerti kekhawatiran kalian tapi semuanya baik-baik saja dan seluruh organ tubuhnya juga sudah berfungsi dengan baik bahkan jantungnya sudah memompa dengan baik dan normal tapi kami belum tahu kenapa dia belum ingin membuka matanya.” Jelas dokter.


“Kami belum bisa memastikannya nona karena ini juga dalam batas pengetahuan kami.” Jawab dokter.

__ADS_1


Rasti yang mendengarnya langsung melemah dan hampir saja terjatuh jika Faris tidak menahan tubuh sang istri, “Kakak!” panggil Rasti lemah.


Faris pun mengelus kepala sang istri lembut, “Tenanglah dia pasti akan segera sadar sayang.” ucap Faris lalu mengecup kepala Rasti.


Zia dan Pras yang masih bicara dengan beberapa dokter itu pun segera mendekati Rasti dan Faris, “Kakak ipar, kita akan menunggu sampai kapan?” tanya Rasti.


“Kita harus bersabar. Kakak yakin dia pasti akan segera sadar. Jika dia memang tidak ingin sadar maka kita harus memaksanya. Ini sudah terlalu lama, aku tidak bisa menunggu lagi.” Tekad Zia.


“Caranya?” tanya Rasti.


Zia pun hanya tersenyum lalu segera masuk ke dalam ruang perawatan Zea yang di dalamnya ada Lian yang setia di samping Zea dan kedua buah hati mereka.

__ADS_1


“Lian kau tenanglah, kakak yakin dia akan segera sadar tapi kita harus berusaha agar dia ingin kembali.” Ucap Zia memandang Lian.


Sementara Lian hanya bisa menatap Zia penuh tanya karena dia pun sudah tidak tahu bagaimana caranya agar sang istri bangun, “Caranya seperti apa kak?” tanya Lian penuh harap.


__ADS_2